Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puisi-Puisi BH. Riyanto

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 7 April 2024 | 20:17 WIB
BH. Riyanto. (Facebook)
BH. Riyanto. (Facebook)

271 Triliun

Di hari-hari puasa kudengar juga

Ada yang korupsi hingga Rp 271 triliun

 

Oh, my God

Betapa menggunungnya uang itu!

 

Aku bayangkan

Andai uang sebanyak itu dibelikan kue takjil?

 

Maka sangat mungkin

Penduduk se-Indonesia pastilah kebagian

dan kekenyangan!

 

Aku bayangkan lagi

Andai uang sebanyak itu dibelikan es teler?

 

Maka sangat mungkin

Penduduk se-Indonesia pastilah bisa berenangan

berak dan kencing di dalamnya!

 

Aku bayangkan lagi

Lagi, lagi, dan lagi

 

Ah, capek juga

Membayangkannya, anjir...!

 

(2024)

.......................................................

Doa Yang Lain saat Santap Sahur

Kucubit pepes ikan tongkol buatan istriku, ya Tuhan limpahkanlah ikan-ikan kepada para nelayan!

Kukunyah nasi putih-nasi jagung, ya Tuhan sehatkanlah para petani!

Kucuil telur dadar, ya Tuhan gembirakanlah para peternak dan ayam-ayam mereka!

Kugigit lombok kecil, kusendok sayur sop, ya Tuhan berilah keriangan hati pada para petani sayur!

Lalu pelan kuteguk air putih, ya Tuhan kokohkanlah imanku. Dan terima kasih atas segala Kasih tak terkira-Mu!

 

(2024)

.......................................................

Menunggu Beduk Maghrib

Menunggu beduk Maghrib; sambil tiduran telentang di dipan bambu di halaman, sore itu.

Mendung-mendung kelabu merendah. Seolah tinggal sejangkauan saja di atas pohon jambuku.

Tapi hujan tampaknya enggan turun.

Ada capung-capung beterbangan. Riang sekali. Lincah sekali.

Sesekali juga pikiranku membayangkan nikmatnya es parut saat berbuka nanti.

Ya, saat berbuka nanti. Yang tinggal beberapa tarhiman lagi.

 

(2024)

.......................................................

Hahaha....

Siang itu; di Tanjung di rumah Emak.

”Emak tidak puasa?” Candaku pada Emak, yang sudah tiga tahun ini diuji sakit lumpuh.

”Tidak. Saya sakit,” Jawab Emakku datar.

”Wah, bisa dibakar nanti itu, Mak!” Lagi-lagi candaku.

”Dibakar siapa? Hahaha...!” Jawab Emakku disertai derai tawanya yang khas.

Aku melihat Emak begitu bahagia.

Aku pun ikut bahagia.

 

(2024)

.......................................................

Sore Itu

Es tradisional; yang dibawa seorang kakek dengan sepeda ontel butut itu, dirubung para pembeli; di depan stan es kekinian.

 

(2024)

.......................................................

Baca Juga: Madura, KGB, dan Anak Desa Literat

Berbagi Takjil Hakikatnya

Berbagi takjil hakikatnya berbagi rezeki

Dari yang kenyang kepada yang kelaparan

Asal jangan pamer samar dan pencitraan

 

Berbagi takjil hakikatnya berbagi cinta

Dari yang berlebih kepada yang kekurangan

Asal jangan riya’ atau ingin dipuji-puji

 

Berbagi takjil hakikatnya berbagi kasih

Dari yang beruntung kepada yang kurang beruntung

Asal jangan pansos, demi konten dan jutaan like

 

Maka berbagi takjil hakikatnya pertanda iman yang sesungguhnya

Itu saja!

 

(2024)

.......................................................

Ibu Penjual Es Buah

”Hampir-hampir saya tidak jualan. Karena cuaca kurang baik tampaknya.

Tapi saat tidur siang tadi seperti ada yang mencubit kaki saya, di suruh jualan,” kata ibu penjual es buah di tepi jalan itu. (Langganan saya setiap bulan puasa itu).

”Kayak siapa orangnya, Bu?” Tanyaku beraroma basa-basi.

”Orangnya laki-laki, ganteng, pakai peci hitam,” tambahnya.

’Ah, paling itu leluhur ibu,’ duga di hatiku.

 

(2024)

.......................................................

Tepat di Hari Permulaan Puasa

Hujan tumpah nyaris seharian

Menderaskan selaksa air mata

Tuhan, lindungi kami!

Lalu banjir datang merangsek

Menggemulungkan segenap duka

Tuhan, ampuni kami!

 

(2024)

.......................................................

Kembali Kami Berpuasa

Kembali kami berpuasa

Seperti tahun-tahun kemarin

Biar kelak menjelma orang-orang yang takwa

Atau minimal tampak

seperti orang-orang yang takwa!

 

(2024)

.......................................................

Baca Juga: Dewan Kesenian Sumenep Berjalan secara Kultural, Tahun Ini Tak Kebagian Dana Hibah

Kekasih, Aduhai Kekasih!

Dalam lapar-khusyuk puasaku

Gerimis memainkan kidung seribu rindu

Kekasih, aduhai Kekasih!

Dalam kerontang haus puasaku

Setiaku ditempa demi mendekap semata Cinta-Mu

Pujaan, aduhai Pujaan!

Maka dalam lirih napas zikirku

Kusebut hanya Nama-Mu

Kusebut hanya Nama-Mu!

 

(2024)

.......................................................

Unjuk Rasa Ibu Muda Penjual Es Buah kepada Tuhan

”Tuhan Yang Maha Sejuk, ini hari pertamaku jualan es buah. Mengharap sedikit berkah di Bulan Suci-Mu.

Tapi, Tuhan. Hujan deras di sepanjang sore. Jadi dingin di tubuhku, gigil di jiwaku.

Tuhan Yang Maha Sejuk, bisakah lain kali Kau tunda hujan deras-Mu, sampai nanti sehabis Isya saja? Sampai es buahku habis dibeli orang?

Tuhan Yang Maha Sejuk, lihatlah; aku yang ngilu lahir dan batin!”

 

(2024)

.......................................................

Seorang Badut

Di trotoar kotamu di dekat tenda penjual kue-kue khas Ramadan itu. Di terik siang yang puasa. Seorang badut berkostum menyerupai kucing, asyik berjoget mengikuti dendang lagu kasidahan. Yang disetel nyaring dari sound kecil yang selalu digendongnya.

Ke mana aku, membawa

jiwa ini, tanpa engkau gelap sudah...

Seorang badut berkostum menyerupai kucing itu terus berjoget sebisanya. Tak peduli itu model jogetan apa. Yang penting terus menggoyang-goyangkan perut tipisnya. Atau kedua tangan kurus-lunglainya yang sesekali diangkatnya bergantian. Layaknya mengikuti irama. Walau juga lebih sering terlihat justru ditinggal irama.

Langkah kakiku tiada kusadari di dalam kehinaan....

Lagu lawas Lembah Duka dari Nasida Ria itu pun terus saja mengalun. Terdengar bersikeras menerabas suara-suara bising kendaraan yang lalu-lalang dan obrolan seru ibu-ibu pembeli kue itu.

Betapa pahitnya

Kenyataan hidupku yang kualami...

Seorang badut berkostum menyerupai kucing itu terus berjoget. Seperti tanpa lelah.

Sesekali tiba-tiba ia menghentikan gemulai jogetnya, demi menerima sedikit rupiah pemberian dari orang-orang dermawan. Dan tampak ia lekas-lekas menundukkan kepalanya, tanda sangat berterima kasih.

Seorang badut berkostum menyerupai kucing itu terus melangkah. Terus berjoget sebisanya sepanjang hari. Mungkin di sepanjang Ramadan ini. Atau mungkin juga hingga nanti; di sepanjang usianya.

Seorang badut berkostum menyerupai kucing yang terus berjoget itu, siapakah ia sesungguhnya?

 

(2024)

.......................................................

Yang Puasa

Yang puasa adalah tubuh-lahirku; lapar-hausku.

Yang puasa adalah jiwa-batinku; ikhlas-khusyukku.

Yang puasa lahirku dan batinku; kepasrahan atas segenap cintaku.

Kepada-Mu!

(2024)

.......................................................

RIYANTO atau Budi Hariyanto lahir 1973, melukis dan menulis puisi. Buku puisi kelimanya Musim Orang Mati (2024). Mengajar seni budaya di SMAN 1 Pademawu. Tinggal di Desa Kaduara Barat, Larangan, Pamekasan.

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#seorang badut #Kembali Kami Berpuasa #Sore Itu #Ibu Penjual Es Buah #271 Triliun