271 Triliun
Di hari-hari puasa kudengar juga
Ada yang korupsi hingga Rp 271 triliun
Oh, my God
Betapa menggunungnya uang itu!
Aku bayangkan
Andai uang sebanyak itu dibelikan kue takjil?
Maka sangat mungkin
Penduduk se-Indonesia pastilah kebagian
dan kekenyangan!
Aku bayangkan lagi
Andai uang sebanyak itu dibelikan es teler?
Maka sangat mungkin
Penduduk se-Indonesia pastilah bisa berenangan
berak dan kencing di dalamnya!
Aku bayangkan lagi
Lagi, lagi, dan lagi
Ah, capek juga
Membayangkannya, anjir...!
(2024)
.......................................................
Doa Yang Lain saat Santap Sahur
Kucubit pepes ikan tongkol buatan istriku, ya Tuhan limpahkanlah ikan-ikan kepada para nelayan!
Kukunyah nasi putih-nasi jagung, ya Tuhan sehatkanlah para petani!
Kucuil telur dadar, ya Tuhan gembirakanlah para peternak dan ayam-ayam mereka!
Kugigit lombok kecil, kusendok sayur sop, ya Tuhan berilah keriangan hati pada para petani sayur!
Lalu pelan kuteguk air putih, ya Tuhan kokohkanlah imanku. Dan terima kasih atas segala Kasih tak terkira-Mu!
(2024)
.......................................................
Menunggu Beduk Maghrib
Menunggu beduk Maghrib; sambil tiduran telentang di dipan bambu di halaman, sore itu.
Mendung-mendung kelabu merendah. Seolah tinggal sejangkauan saja di atas pohon jambuku.
Tapi hujan tampaknya enggan turun.
Ada capung-capung beterbangan. Riang sekali. Lincah sekali.
Sesekali juga pikiranku membayangkan nikmatnya es parut saat berbuka nanti.
Ya, saat berbuka nanti. Yang tinggal beberapa tarhiman lagi.
(2024)
.......................................................
Hahaha....
Siang itu; di Tanjung di rumah Emak.
”Emak tidak puasa?” Candaku pada Emak, yang sudah tiga tahun ini diuji sakit lumpuh.
”Tidak. Saya sakit,” Jawab Emakku datar.
”Wah, bisa dibakar nanti itu, Mak!” Lagi-lagi candaku.
”Dibakar siapa? Hahaha...!” Jawab Emakku disertai derai tawanya yang khas.
Aku melihat Emak begitu bahagia.
Aku pun ikut bahagia.
(2024)
.......................................................
Sore Itu
Es tradisional; yang dibawa seorang kakek dengan sepeda ontel butut itu, dirubung para pembeli; di depan stan es kekinian.
(2024)
.......................................................
Baca Juga: Madura, KGB, dan Anak Desa Literat
Berbagi Takjil Hakikatnya
Berbagi takjil hakikatnya berbagi rezeki
Dari yang kenyang kepada yang kelaparan
Asal jangan pamer samar dan pencitraan
Berbagi takjil hakikatnya berbagi cinta
Dari yang berlebih kepada yang kekurangan
Asal jangan riya’ atau ingin dipuji-puji
Berbagi takjil hakikatnya berbagi kasih
Dari yang beruntung kepada yang kurang beruntung
Asal jangan pansos, demi konten dan jutaan like
Maka berbagi takjil hakikatnya pertanda iman yang sesungguhnya
Itu saja!
(2024)
.......................................................
Ibu Penjual Es Buah
”Hampir-hampir saya tidak jualan. Karena cuaca kurang baik tampaknya.
Tapi saat tidur siang tadi seperti ada yang mencubit kaki saya, di suruh jualan,” kata ibu penjual es buah di tepi jalan itu. (Langganan saya setiap bulan puasa itu).
”Kayak siapa orangnya, Bu?” Tanyaku beraroma basa-basi.
”Orangnya laki-laki, ganteng, pakai peci hitam,” tambahnya.
’Ah, paling itu leluhur ibu,’ duga di hatiku.
(2024)
.......................................................
Tepat di Hari Permulaan Puasa
Hujan tumpah nyaris seharian
Menderaskan selaksa air mata
Tuhan, lindungi kami!
Lalu banjir datang merangsek
Menggemulungkan segenap duka
Tuhan, ampuni kami!
(2024)
.......................................................
Kembali Kami Berpuasa
Kembali kami berpuasa
Seperti tahun-tahun kemarin
Biar kelak menjelma orang-orang yang takwa
Atau minimal tampak
seperti orang-orang yang takwa!
(2024)
.......................................................
Baca Juga: Dewan Kesenian Sumenep Berjalan secara Kultural, Tahun Ini Tak Kebagian Dana Hibah
Kekasih, Aduhai Kekasih!
Dalam lapar-khusyuk puasaku
Gerimis memainkan kidung seribu rindu
Kekasih, aduhai Kekasih!
Dalam kerontang haus puasaku
Setiaku ditempa demi mendekap semata Cinta-Mu
Pujaan, aduhai Pujaan!
Maka dalam lirih napas zikirku
Kusebut hanya Nama-Mu
Kusebut hanya Nama-Mu!
(2024)
.......................................................
Unjuk Rasa Ibu Muda Penjual Es Buah kepada Tuhan
”Tuhan Yang Maha Sejuk, ini hari pertamaku jualan es buah. Mengharap sedikit berkah di Bulan Suci-Mu.
Tapi, Tuhan. Hujan deras di sepanjang sore. Jadi dingin di tubuhku, gigil di jiwaku.
Tuhan Yang Maha Sejuk, bisakah lain kali Kau tunda hujan deras-Mu, sampai nanti sehabis Isya saja? Sampai es buahku habis dibeli orang?
Tuhan Yang Maha Sejuk, lihatlah; aku yang ngilu lahir dan batin!”
(2024)
.......................................................
Seorang Badut
Di trotoar kotamu di dekat tenda penjual kue-kue khas Ramadan itu. Di terik siang yang puasa. Seorang badut berkostum menyerupai kucing, asyik berjoget mengikuti dendang lagu kasidahan. Yang disetel nyaring dari sound kecil yang selalu digendongnya.
Ke mana aku, membawa
jiwa ini, tanpa engkau gelap sudah...
Seorang badut berkostum menyerupai kucing itu terus berjoget sebisanya. Tak peduli itu model jogetan apa. Yang penting terus menggoyang-goyangkan perut tipisnya. Atau kedua tangan kurus-lunglainya yang sesekali diangkatnya bergantian. Layaknya mengikuti irama. Walau juga lebih sering terlihat justru ditinggal irama.
Langkah kakiku tiada kusadari di dalam kehinaan....
Lagu lawas Lembah Duka dari Nasida Ria itu pun terus saja mengalun. Terdengar bersikeras menerabas suara-suara bising kendaraan yang lalu-lalang dan obrolan seru ibu-ibu pembeli kue itu.
Betapa pahitnya
Kenyataan hidupku yang kualami...
Seorang badut berkostum menyerupai kucing itu terus berjoget. Seperti tanpa lelah.
Sesekali tiba-tiba ia menghentikan gemulai jogetnya, demi menerima sedikit rupiah pemberian dari orang-orang dermawan. Dan tampak ia lekas-lekas menundukkan kepalanya, tanda sangat berterima kasih.
Seorang badut berkostum menyerupai kucing itu terus melangkah. Terus berjoget sebisanya sepanjang hari. Mungkin di sepanjang Ramadan ini. Atau mungkin juga hingga nanti; di sepanjang usianya.
Seorang badut berkostum menyerupai kucing yang terus berjoget itu, siapakah ia sesungguhnya?
(2024)
.......................................................
Yang Puasa
Yang puasa adalah tubuh-lahirku; lapar-hausku.
Yang puasa adalah jiwa-batinku; ikhlas-khusyukku.
Yang puasa lahirku dan batinku; kepasrahan atas segenap cintaku.
Kepada-Mu!
(2024)
.......................................................
RIYANTO atau Budi Hariyanto lahir 1973, melukis dan menulis puisi. Buku puisi kelimanya Musim Orang Mati (2024). Mengajar seni budaya di SMAN 1 Pademawu. Tinggal di Desa Kaduara Barat, Larangan, Pamekasan.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti