Edelweiss
-alawiyah
bunga itu aku temui
di matamu, di bibirmu,
di senyummu, di hidungmu
bahkan nyaris di sekujur tubuhmu.
dan aku merasa ada Tuhan bersembunyi di sana
dan memanggilku:
”Kemarilah. Peluklah. Temui Aku di tubuhnya, seraya surga bagimu”
termenung aku di pundak jendela:
”Edelweiss, bungaku…”
Bandung, 2024
………………………………….
Baca Juga: Puisi M. Wildan
Lampu-Lampu Kota
kuning remang-remang
menyoroti kursi dan pejalan kaki
laron-laron pada menghampiri
baginya lampu-lampu kota adalah Tuhan terindah
bila jam satu malam
apalagi ditambah gerimis ataupun hujan
lampu-lampu kota itu menyihir puisi-puisiku
dengan namamu
Bandung, 2024
………………………………….
Baca Juga: Sanja’na Moh. Aqil
Di Gazebo Itu
di gazebo itu
aku duduk bersandar mengisap waktu
memeras ampas kata dari hujan yang berjatuhan
dingin.
ya, begitulah romantika hujan
pada setiap tubuh yang rindu pelukan
di jendela mataku, terlihat
sore kehilangan senja
ia bersedih pada dedaunan, pada halaman,
pada jalanan, pada tanah lapang
dan padaku juga
katanya, tak ada lagi sepasang kekasih
yang saling bercumbu di pangkuannya.
tak ada tamu apalagi temu antara mereka
tinggal hening yang membising di telinganya
di gazebo itu
hujan beranjak dan meninggalkan sajak-sajak
Bandung, 2024
………………………………….
Baca Juga: Puisi M. Fuadi
Rumah
pada tembok dan atap yang disusun doa-doa
aku berlindung dari panas dan dinginnya kota
biarlah tak ada kamar dan dapur
yang buat aku nyenyak dan kenyang
setidaknya ia tempat untuk aku menampung halu dan rindu
yang meluap-luap ke permukiman
biarlah tak ada meja dan kursi
yang biasa menyambut kedatangan atau kepulangan kekasih
mungkin teras panjang dan tikar daun siwalan
terasa cukup untuk menemani setiap persinggahan
biarlah tak ada pintu dan jendela
yang biasa ditutup dan dibuka paksa
sebab aku ingin angan dan angin keluar-masuk lebih mudah
dan lebih nyaman dari biasanya
inilah rumah yang kubangun di kepala
yang penghuninya cuma kita
Bandung, 2024
………………………………….
Utopia pada Tubuhmu
Pada tubuhmu
aku ingin narasi lebih lama
aku ingin sedih lebih ramah
dan aku tak ingin kapal-kapal itu berlabuh padamu
cukup aku dan perahuku
Tuhan yang bersemayam di pelipis matamu
menolak nyenyak malam-malamku
Mungkin, aku bakal tanggal dalam pelukanmu
tempat tersurga bagi tubuh-tubuhku
Bandung, 2024
………………………………….
Baca Juga: Puisi A. Propbeh FS
Euforia Tahun Baru
pada detik yang melingkar
sumbu dan arang-arang mulai dibakar
kembang api pun meletus di kepala
bersamaan dengan doa-doa yang dipanggang di atas bara
di sana, di lorong-lorong kota
lampu-lampu menjadi saksi jumpa-pisah
antara halu dan yang baharu
bak sampan yang lepas dari pelabuhan
di sambut ikan dan lokan-lokan
panggung-panggung yang dibangun derita
mempertunjukkan orang-orang bersorak-ria
melambai-lambaikan tangan
entah itu sedang senang atau minta pertolongan
padahal, kami belum tahu pasti
hidangan apa yang bakal kau suguhkan pada kami
di atas meja hanya meratap kekosongan
mengharap zamzam dan kurma nabi
malah datang tuak dan daging babi
ternyata adanya euforia
meredam suara sirene dan jeritan di langit Gaza
Bandung, 2024
………………………………….
Baca Juga: Ghun-tèngghun: Interpretasi Puisi, Musik, dan Pertunjukan
Cericit Puisi
saat puisi-puisi hinggap di jendela mataku
mereka bercericit namamu penuh riuh
namun ketahuilah,
mereka hanya sekadar membawa kabar
tentang asmara kita yang telah pudar
Bandung, 2024
………………………………….
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti