Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Le-mele Bukkol

Ina Herdiyana • Rabu, 14 Februari 2024 | 13:20 WIB
Photo
Photo

oleh MOHAMAD FATHOLLAH*

RadarMadura.idMemilih adalah hal yang tak dapat dihindari dalam kehidupan. Sebelum menentukan tindakan memilih, tentu kita akan dihadapkan pada beberapa proses seperti mengamati, memilah, dan terakhir menentukan pilihan.

Kebetulan kita sebagai warga negara Indonesia hari ini (14/2) memilih calon pemimpin secara serentak. Kita akan memilih perwakilan mulai tingkat daerah (kabupaten/kota) hingga perwakilan rakyat di tingkat pusat.

Tak hanya perwakilan legislatif, bangsa Indonesia juga akan memberikan mandat pengelolaan kepemimpinan bangsa dan negara pada calon presiden dan wakil presiden.

Ya, sepanjang sejarah demokrasi lima tahunan, kita akan mencoblos lima surat suara secara serentak yang terdiri atas calon anggota legislatif DPRD (dewan perwakilan rakyat daerah) tingkat kabupaten/kota, DPRD provinsi, DPR RI, calon anggota senat atau DPD (dewan perwakilan daerah), dan calon presiden dan wakil presiden Republik Indonesia.

Jika tidak cermat memilih pemimpin yang berlaga nanti, kita akan menyesal kemudian hari. Jika kita memilih karena lipstik politik dan buah tangan, secara berkelindan nasib hidup kita sebagai warga negara kemungkinan nihil perbaikan.

Ja’ Le-mele Bukkol

Perihal proses memilih, sebagai orang Madura, saya teringat pesan tetua yang mengatakan bahwa di dalam kehidupan ja’ le-mele bukkol (jangan memilih-milih buah bidara). Peribahasa ini secara harfiah memiliki arti jangan terlalu banyak memilah-memilih seperti memilih buah bidara. Bila terlalu memilih-milih buah bidara, efeknya akan abannyaan melena, keng paggun teppa ka se bucco (lebih banyak milihnya, tapi jatuhnya juga dapat buah yang busuk).

Bukkol adalah buah bidara yang tumbuh di banyak wilayah lahan kering. Bukkol Madura biasanya kecil-kecil. Dulu pohon bidara ini tumbuh bebas di sebagaian besar wilayah Madura. Perdu atau pohon kecil bidara tumbuh di bahu jalan, di persawahan yang tak tergarap, pegunungan, bahkan di pinggir pantai. Semakin meluasnya informasi perihal banyaknya manfaat bidara pada kesehatan, kini masyarakat mulai melirik budi daya pohon bidara.

Awalnya saya bertanya-tanya kenapa kita dalam memilih diibaratkan untuk tidak menentukan pilihan seperti memilih buah bidara. Setelah beranjak dewasa, saya sedikit memahami makna tersembunyi buah bidara.

Bidara yang dikenal banyak manfaatnya ini ternyata, walau mudah tumbuh di mana saja, harus menunggu sekian tahun untuk dapat dipetik.

Kurang lebih hingga lima tahun. Di musim hujan pohon bidara tak dapat menumbuhkan buah, tetapi dapat menjaga kelembapan tanah hingga berbuah.

Setelah berbuah, kita tidak dapat serta-merta memetiknya. Harus dipilih mana buah yang sudah matang, setengah matang, hingga yang membusuk di dahan.

Buah yang sudah matang ini biasanya berwarna merah tua atau ungu. Tapi jangan salah, saat buah bidara benar-benar matang, bila kita tidak berpengalaman atau tidak cermat, kita dapat terkecoh dengan warnanya yang semakin memerah.

Bila salah memilih bukan buah matang yang didapat, sebaliknya buah busuk yang dipetik.

Alegori buah bidara kurang lebih sama dengan kita manusia. Bahwa fitrah manusia adalah pemilih atau seorang yang pilih-pilih.

Walaupun kita dihadapkan dengan banyak pilihan, bila tidak memantapkan hati untuk menentukan pilihan tersebut, bisa jadi yang kita dapat bukan buah matang atau pilihan yang tepat.

Sebaliknya, buah busuk yang kita anggap matang. Dan buah buah busuk tak dapat memberikan manfaat pada kita kecuali rasa pahit.

Bukan Sekadar Memilih

Kata Aristoteles, sebagai manusia, kita dapat memanfaatkan nalar atau daya pikir dan akal sehat. Nah, jika kita tidak memanfaatkan apa yang ada pada diri kita taken for granted, secara sederhana tak ubahnya hewan liar yang tak bertuan.

Jika manusia sudah tidak bisa mengandalkan pikiran, akal sehat, dan nuraninya, yang melekat pada bentuk tubuhnya adalah hewan saja. Begitu kira-kira yang digariskan Aristoteles dalam mengamati identitas pikir manusia.

Nalar dan daya pikir dapat menjadi kontrol dalam memengaruhi diri dan membuat keputusan menentukan pilihan. Nalar menyaring beragam informasi yang masuk. Daya pikir sebagai alat akal sehat untuk menentukan.

Dalam memilih pemimpin atau wakil rakyat yang berlaga di pemilu hari ini, kita dapat memfungsikan nalar dan daya pikir tentang sosok calon pemimpin. Alegori ja’ le-mele bungkol adalah bagaimana kita menentukan pilihan sesuai kemantapan hati dan daya pikir kita sebagai manusia.

Secara epistemologis, kearifan tersebut berangkat dari kesadaran bahwa kita sebagai manusia telah diberikan kuasa dalam menentukan banyak pilihan hidup mengacu pada, secara sederhana, kriteria-kriteria umum dan khusus. Misalnya, memilih calon pemimpin yang memenuhi kriteria sebagaimana sifat yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Seperti sidiq (jujur), amanah (tepercaya), fathonah (pandai atau cerdas), dan tablig (menyampaikan kebenaran). Jika tidak seorang pun calon pimimpin memenuhi kriteria demikian, paling tidak yang mendekati kenyataan.

Untuk itu, memilih tidak sekadar memilih. Memilih adalah upaya menautkan hati, pikiran, harapan, dan akal sehat pada apa yang dipilih. Jangan sampai kita memilih karena sesuatu di luar esensi nalar dan daya pikir kita.

Yang seperti ini bisa dipastikan bukanlah identitas yang merdeka. Sebab, manusia yang merdeka bukan hal-hal yang menentukan pilihan, kata Copernicus, tetapi kita menentukan sesuatu (pilihan).

Jika kita mampu mengelola hati dan memanfaatkan pikiran dengan baik dalam memilih pemimpin, niscaya perbaikan, kebaikan, dan cita-cita bangsa segera terwujud di depan mata. (*)

*) Alumnus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta

Editor : Ina Herdiyana
#pemilu #tertib #pemilihan umum #pesta demokrasi #damai #sesuai hati nurani #pilpres 2004 #politik