PAMEKASAN, RadarMadura.id - Tidak semua sekolah dasar (SD) di Pamekasan memiliki perpustakaan.
Kondisi ini membuat literasi murid tidak bisa sepenuhnya bergantung pada ruang baca fisik. Sebagai gantinya, pemanfaatan sarana digital dan pojok baca menjadi alternatif utama dalam menumbuhkan budaya membaca di sekolah.
Kabid Pendidikan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Pamekasan Taufik Hidayat menuturkan, keterbatasan anggaran membuat pembangunan gedung perpustakaan sekolah belum bisa merata.
Prioritas anggaran masih diarahkan pada kebutuhan mendesak. Misalnya, perbaikan ruang kelas rusak maupun pembangunan ruang belajar baru, katanya.
Meski begitu, Taufik terus berupaya agar literasi tetap berjalan dengan menerapkan berbagai strategi.
Menurut Taufik, literasi tidak selalu identik dengan perpustakaan fisik. Sekolah bisa mengembangkan perpustakaan digital, memanfaatkan pojok baca, hingga memperbanyak bahan bacaan bermutu yang bisa diakses murid. ”Pemaknaan literasi tidak sesempit itu, ucapnya.
Dijelaskan, Dispendikbud Pamekasan juga menempuh cara lain. Misalnya, mengutus 150 guru mengikuti pelatihan di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) dan menggandeng komunitas literasi Mutiara Rindang.
Program itu dikombinasikan dengan pengembangan pojok baca di sekolah serta pemanfaatan platform digital sebagai sumber belajar.
Taufik menilai, meski sebagian besar sekolah belum memiliki perpustakaan fisik, hal itu tidak otomatis menurunkan mutu pendidikan.
”Anak-anak kini lebih terbiasa mengakses literasi melalui Chromebook, Rumah Belajar, maupun tontonan edukatif di YouTube. Akses cepat melalui teknologi diyakini lebih menarik minat pelajar di era kekinian, ungkapnya.
Kendati demikian, Taufik tetap mengakui pentingnya kehadiran perpustakaan fisik. Selain menjadi ruang belajar, perpustakaan juga dapat menumbuhkan interaksi sosial antar pelajar.
Baca Juga: 7 Kebiasaan Anak Hebat: Membangun Generasi Sehat, Cerdas, dan Berkarakter
”Hadirnya perpustakaan bisa menambah semangat belajar, meskipun literasi digital saat ini lebih cepat diakses anak-anak, ujarnya.
Ketua Dewan Pendidikan (DP) Pamekasan M. Sahibuddin menilai ketersediaan anggaran membuat sarana perpustakaan sekolah menjadi terbatas.
Namun, dia juga mengingatkan agar pemerintah daerah perlu menyeimbangkan pembangunan sarana prasarana pendidikan dengan upaya peningkatan literasi.
Hal itu harus dilakukan agar mutu pembelajaran dasar bisa lebih merata di seluruh wilayah. Dia menegaskan, perpustakaan tetap memiliki peran penting di tengah derasnya arus digitalisasi. Menurutnya, ruang baca bukan hanya sekadar tempat untuk membaca buku, melainkan juga ruang pembentukan karakter pelajar.
”Sebab, pada hakikatnya, perpustakaan bagi pelajar bukan sekadar tempat untuk membaca, tapi juga menjadi ruang pembentukan karakter agar semakin terbiasa dengan budaya literasi, pungkas pria yang karib disapa Kiai Sahib itu. (afg/yan)
Editor : Amin Basiri