SAMPANG, RadarMadura.id – Sejumlah siswa-siswi Madrasah Diniyah Mambaul Ulum Al Kholili Beringin diwajibkan mengetahui fikih kewanitaan.
Secara khusus, mereka mempelajari Kitab Risalah Dimak yang berisi seputar darah wanita sebagai bekal pengetahuan santri.
”Metode Risalah Dimak ini digunakan di kelas 4 madrasah diniyah,” kata K Ahmad Syahin Jalal.
Siswa-siswi mendalami tentang fikih wanita sejak kelas 4. Utamanya, permasalahan darah wanita. Siswa dan santriwati harus betul-betul memahami dan menguasainya.
”Hal ini untuk menunjang pengetahuan dan bekal mereka dalam meningkatkan pengetahuan agama agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Selain itu, mereka dibimbing membaca kitab dengan metode Al Fatih. Metode ini dirasa sangat pas dan relevan diterapkan kepada siswa tamatan RA.
Siswa dan siswi yang sudah lulus di wisuda baca Al-Qur’an akan digembleng untuk dapat membaca kitab dengan baik dan benar.
”Kami menggunakan metode Al Fatih yang berisikan kitab Matan Safinatun Najah dilengkapi dengan makna bahasa Indonesia, rumus memberi makna, dan standar dasar yang ada di dalam kitab,” ungkapnya
Santri dan siswa juga diajarkan kitab metode Sabilul Jannah. Metode ini digunakan khusus kelas 5 dan 6 madrasah diniyah.
Kiai Syahin menjelaskan, metode ini berisi tentang ilmu tauhid, ilmu fikih, dan ilmu tasawuf yang dibahas secara lengkap dan gamblang.
Metode ini menjadi buku dasar yang harus dikuasai setiap santri yang akan boyong atau hendak lulus dari madrasah dan pondok pesantren.
”Masing-masing dari santri harus mempraktikkan dari apa yang sudah dipelajari, baik ilmu fikih ibadah, fikih muamalat, fikih munakahat, dan fikih jinayat,” terangnya.
Untuk mempercepat siswa membaca Al-Qur’an, lanjut Kiai Syahin, pihaknya menerapkan metode At Tanzil sebagai panduan memahami ilmu tajwid.
Metode ini dikhususkan bagi siswa-siswi taman kanak-kanak atau raudlatul athfal mulai juz 1 hingga juz 6.
Kiai Syahin menyampaikan, setiap tahun pihaknya menggelar haflatul imtihan. Setiap siswa-siswi yang mengikuti program didemonstrasi dan diwisuda.
Hal itu sebagai penyemangat untuk menunjang keberlangsungan pendidikan dan pengetahuan siswa.
”Mereka didemonstrasi untuk mengetahui capaian belajarnya,” paparnya.
Kiai Syahin terus berupaya melakukan inovasi dalam dunia pendidikan tanpa menghilangkan khas pesantren.
”Jadilah mencetak sejarah yang baik, karena setiap detik napas yang kita keluarkan adalah sejarah bagi kita sendiri dan bagi penerus-penerus kita selanjutnya. Tetaplah menjadi khairunnas anfauhum linnas,” pungkasnya. (sin/bil)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia