PAMEKASAN, RadarMadura.id – Kegiatan belajar mengajar (KBM) di SMK Kesehatan Nusantara Pamekasan terganggu karena gedung sekolah disegel.
Akibatnya, 90 siswa di lembaga pendidikan yang terletak di Jalan Raya Nyalaran, Kelurahan Kowel, itu terpaksa mengikuti proses pembelajaran secara daring.
Pantauan koran ini di lapangan, gerbang akses masuk menuju SMK Kesehatan Nusantara dalam kondisi terkunci.
Pada bagian depan terpasang spanduk berwarna mencolok yang menyatakan larangan melakukan aktivitas di lokasi tersebut.
Penutupan paksa itu diduga dilakukan oleh pihak yang mengaku sebagai pemilik lahan.
Itu ditandai dengan pemasangan spanduk di gerbang sekolah dengan tulisan, ”Tanah ini milik Arofatin Nisa', berdasar SHM No. 0328”.
Kepala SMK Kesehatan Nusantara Ahmad Mahfud menyampaikan, penyegelan gedung sekolah terjadi pada Senin (11/5) sekitar pukul 18.30.
Penutupan akses tersebut dilakukan secara tiba-tiba sehingga pihak sekolah tidak punya waktu untuk melakukan penyesuaian KBM.
Akibat penyegelan itu, seluruh aktivitas KBM tidak bisa dilaksanakan secara tatap muka di sekolah sejak Selasa (13/5).
Pihak sekolah terpaksa mengalihkan proses pembelajaran ke sistem daring sebagai langkah darurat agar kegiatan pendidikan tetap berjalan.
”Sampai sekarang saya juga tidak tahu alasannya apa tiba-tiba disegel,” ungkap Mahfud.
Dia mengaku masih berupaya melakukan mediasi dengan pihak yang mengeklaim pemilik tanah.
Sebab, tanah seluas sekitar setengah hektare itu sudah dihibahkan kepada Yayasan Kunci llmu oleh H Muzakki.
Namun, sertifikat yang awalnya atas nama pemilik pertama H Tohir mendadak diganti atas nama Arofatin Nisa'.
”Sekolah ini sudah dibangun sejak tahun 2011. Tapi, sertifikat diubah pada tahun 2014,” bebernya.
Pihak sekolah juga masih mencari lokasi alternatif yang layak agar para siswa dapat kembali mengikuti pembelajaran secara tatap muka.
Mahfud menyampaikan, langkah ini dilakukan sebagai solusi sementara, sambil menunggu penyegelan gedung menemukan titik terang.
”Ini (belajar daring, Red) hanya sementara waktu saja selama belum ada tempat yang layak. Dalam waktu dekat kami usahakan bisa belajar tatap muka meski di luar kelas,” paparnya.
Koran ini sudah berupaya untuk mengonfirmasi kepada Arofatin Nisa' melalui nomor telepon yang biasa digunakan tapi tidak dijawab meski terdengar berdering. Pesan WhatsApp juga tidak dibalas. (lil/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti