PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pemkab Pamekasan menjadikan momentum Ramadan untuk memperkuat silaturahmi. Tidak hanya dengan tokoh masyarakat, tapi juga dengan pemerintah mulai tingkat desa hingga kabupaten.
Kegiatan yang dikemas dengan program Safari Ramadan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi ulama dan umara.
Bupati Pamekasan KH. Kholilurrahman bersama Wakil Bupati Sukriyanto setiap hari bakal berkeliling ke 13 kecamatan di wilayah Kota Gerbang Salam. Agenda Safari Ramadan tersebut berlangsung sejak Selasa (24/2) hingga Kamis (12/3).
Bupati Kholil mengatakan, agenda ini tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial keagamaan. Akan tetapi sebagai ruang konsolidasi antara pemkab, kecamatan, desa dan tokoh masyarakat.
Sehingga ada pandangan yang sama berkenaan dengan pembangunan ke depan di tengah kebijakan efisiensi anggaran dari pusat.
”Saat ini banyak masalah yang perlu diselesaikan secara bersama-sama, yang terbesar dan sedang dihadapi adanya efisiensi anggaran,” ujarnya.
Bupati Kholil menilai, kondisi tersebut berdampak langsung pada keterbatasan fiskal daerah. Karena itu, dibutuhkan konsolidasi yang kuat dengan semangat bersama agar pembangunan tetap berjalan efektif.
Di tengah keterbatasan anggaran, pemkab harus mampu menyusun skala prioritas secara cermat sehingga pembangunan tetap merata.
”Jadi, yang kurang mendesak disesuaikan. Program yang menyentuh langsung pada kebutuhan dasar masyarakat tetap diutamakan,” tegasnya.
Kegiatan Safari Ramadan melibatkan unsur forkopimda, forkopimcam hingga pemerintah desa. Diharapkan setiap pos anggaran yang disusun memiliki output dan outcome yang terukur.
Dia menginginkan, program yang dijalankan memiliki orientasi jangka panjang serta berdampak dan berkelanjutan bagi masyarakat.
”Ini juga bagian dan upaya kami menyerap aspirasi. Sehingga semua program berjalan selaras, efektif, serta mampu menjawab kebutuhan riil di lapangan,” tegasnya.
Mantan anggota DPR RI itu juga menegasakan, Safari Ramadan ini dilakukan untuk memperkuat sinergi antara ulama dan umara’.
Bagi Kiai Kholil, kolaborasi keduanya menjadi fondasi penting dalam menjaga harmoni sosial, memperkuat nilai-nilai keagamaan, serta memastikan arah kebijakan pembangunan tetap sejalan dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat.
”Sehingga tidak terjadi miskomunikasi. Kalau ulama dan umara' ini sudah tersambung, maka insyaallah pembangunan tidak akan ada kendala,” pungkasnya. (lil/bil)
Editor : Amin Basiri