
KEPADA AYAH
sesaat keringatmu jatuh di tanah retak
mencari akar hidup yang raib dikikis nasib
jerih merambat di tubuhmu
lebih lebat dari pohon benalu.
cangkul yang kau pikul
saban waktu tak terhitung
selalu jadi bagian dari tubuhku
tak pernah kaku melawan waktu.
kau ulurkan seteguk air
ke tengah hari yang kering,
ketika warna sunyi
menyentuh alur mimpi.
musim memanas,
dan keringat mengalir
menembus nasibku yang getir.
kau terlalu kenal siang
yang merampas bayang,
keinginan yang memaksa jarak
namun di telapak tanganmu
tetap tersisa kebaikan
yang menutup segala luka.
di lereng bukit,
anakmu belajar berkedip,
belajar melupakan getir
ketika jenuh menambat sauh
lorong setapak di hati padam
takdir tak mampu dibaca
oleh pijak kaki dan doa.
Solo, 2025
KASTOREH
kuncup daun
menjulurkan lidah
menjilati kuning kemarau
yang resah di ujung sore.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




