Bulan Ramadan tak mengubah denyut aktivitas di Pringgitan Dalam Pendopo Ronggosukowati, Pamekasan. Bupati KH Kholilurrahman tetap membuka pintu lebar-lebar bagi siapa pun yang hendak bertemu.
PAMEKASAN, RadarMadura.idDi tengah nuansa khidmat bulan suci Ramadan, Bupati KH Kholilurrahman tetap setia menerima orang-orang yang hendak bertamu.
Tak ada perubahan ritme, tak ada sekat yang dipertebal. Pringgitan Dalam tetap menjadi ruang berlabuhnya keluh kesah dan harapan.
Bagi Kiai Kholil, Ramadan menjadi momentum mempertegas komitmen pengabdian: Ibadah dan pelayanan harus berjalan beriringan.
Kerja-kerja pemerintahan tidak boleh mengenal jeda dan berkurang. Terlebih ketika masyarakat membutuhkan.
”Kalau masuk bulan Ramadan harus kita atur bagaimana penggunaan waktu lebih ketat. Karena seperti yang kita tahu, jam masuk kantor bukan lagi jam tujuh, tapi jam delapan,” ungkapnya.
Selain membuka ruang di pendopo, di bulan puasa tahun ini Pemkab Pamekasan juga menginisiasi agenda Safari Ramadan ke 13 kecamatan.
Selama 13 hari penuh, Bupati Kholil bersama rombongan forkopimda akan bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain.
Menurutnya, program ini adalah bagian dari komitmen pemkab untuk hadir di tengah masyarakat. Setiap persinggahan akan menjadi momentum silaturahmi yang dibalut dengan rangkaian santunan hingga dialog terbuka seputar pembangunan dan keagamaan.
”Selama 13 hari untuk 13 kecamatan yang jadwalnya saat ini sedang disusun. Tentu untuk menyeimbangkan tugas itu perlu me-manage waktu dengan baik,” sebutnya.
Di samping itu, pemerintah juga mencanangkan pasar murah Ramadhan 1447 Hijriah secara bergiliran di 13 kecamatan.
Tujuannya, untuk meringankan beban warga sekaligus menekan kenaikan harga bahan pokok selama Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri.
”Khusus kecamatan yang tingkat kemiskinannya tinggi, porsi pasar murahnya bisa ditambah tidak hanya satu lokasi. Terlebih juga kecamatan-kecamatan yang daerahnya yang luas,” tuturnya.
Mantan anggota DPR RI itu menyimpan optimisme besar bahwa Kota Gerbang Salam ke depan harus tumbuh lebih baik dan semakin terbuka.
Kemajuan daerah tidak cukup ditopang oleh semangat sesaat, melainkan visi yang kokoh dan arah pembangunan yang jelas.
”Kami tidak hanya berpikir pada periode saat ini. Tapi, harus disiapkan segala sesuatunya, sehingga kepemimpinan selanjutnya tidak terlalu sulit membangun dan mengembangkan,” terangnya.
Karena itu, dirinya menargetkan adanya pengawalan kebijakan yang menyeluruh dan tidak parsial yang terjebak pada kepentingan jangka pendek.
Pembangunan harus melampaui siklus, berorientasi pada keberlanjutan, dan berpijak pada kebutuhan riil masyarakat.
”Ini kan kita menghadapi Indonesia Emas 2045, ini tugas kita bersama. Oleh sebab itu, saya berkomitmen untuk melakukan penataan birokrasi yang efektif dan efisien,” sebutnya.
Untuk mewujudkan cita-cita besarnya itu, Bupati Kholil pun harus merelakan sebagian momentum Ramadan bersama keluarga dan para santrinya.
Waktu-waktu di rumah dan pesantren akan sering diganti dengan agenda pelayanan, kunjungan, dan silaturahmi ke berbagai penjuru daerah.
Namun baginya, pengorbanan itu adalah bagian dari tanggung jawab yang harus ditunaikan. Setiap waktu yang tersita, kebersamaan yang tertunda, dipandangnya sebagai konsekuensi pengabdian untuk melakukan perubahan bagi daerah yang dipimpin.
”Untuk berbuka tentu akan lebih banyak di luar. Selain di 13 kecamatan, sewaktu-waktu di pemkab jika ada agenda rapat. Selebihnya baru di pesantren, bersama anak-anak dan keluarga,” pungkasnya. (lil/han)
Editor : Amin Basiri