PAMEKASAN, RadarMadura.id – Musim tembakau tahun ini sempat membuat petani tersenyum. Gudang rokok ramai, pembeli datang, dan hampir semua rajangan laku. Namun, di balik pasar yang bergairah, ada kenyataan yang tak seindah tampilan awal.
Kualitas tembakau Pamekasan justru merosot tajam. Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Pamekasan Samukrah mengatakan, keberhasilan penyerapan panen tidak boleh menutupi masalah mendasar di tingkat budi daya. Terdapat beberapa catatan yang harus dibenahi.
Menurut Samukrah, turunnya kualitas bukan semata karena hujan. Kesalahan dimulai sejak petani menentukan waktu tanam. Banyak petani tetap memaksa mengolah lahan meski kondisi tidak mendukung. Akibatnya, waktu panen justru masuk saat hujan turun.
Menurutnya, menanam tembakau tidak bisa dilakukan dengan pola asal jalan. Usia tanaman yang biasanya 90 hari harus dihitung mundur, bukan dimajukan sesuka hati. ”Banyak yang molor, banyak yang maksa tanam. Hasilnya, ya panen dihajar hujan,” ujarnya.
Dia juga menyinggung keluhan petani tentang harga yang kalah dari biaya produksi pokok (BPP) yang mencakup seluruh biaya pengolahan tembakau. Samukrah menegaskan, pengusaha tidak bisa dipaksa membeli di atas BPP jika kualitas tembakau tidak memenuhi standar.
”Dalih pengusaha soal kualitas bukan sekadar alasan untuk menekan harga. Faktanya, kualitas dan produktivitas musim ini memang turun. Petani harus paham bahwa pasar tembakau tidak bisa diperlakukan secara emosional. Sebab, bisnis tetap berbasis mutu,” ucapnya.
Selain itu, banyak petani dinilai mengabaikan prinsip budi daya dasar. Irigasi dibiarkan seadanya sehingga lahan mudah tergenang. Penggunaan pupuk pun keliru. Tembakau membutuhkan ZA sebagai sumber utama nutrisi, tetapi sebagian besar petani justru mengandalkan pupuk subsidi yang tidak cocok.
Bibit unggul seperti Prancak 95 juga belum menjadi standar. Padahal, bibit itu memiliki batang kuat, akar kokoh, dan kualitas daun lebih stabil.
”Kalau dari awal lahannya sudah salah kelola, bibitnya tidak unggul, pupuknya tidak pas, ya jangan berharap hasil bagus,” tegasnya.
Meski panen tahun ini terserap nyaris seluruhnya, APTI Pamekasan tetap mengingatkan bahwa petani dan pengusaha harus menjaga kemitraan yang sehat. Samukrah menegaskan, harga akan mengikuti kualitas dan kualitas selalu kembali pada keputusan petani sejak awal tanam.
”Musim ini menjadi pengingat keras, panen laku bukan berarti panen berhasil. Kesalahan kecil di awal justru menggerus nilai di akhir. Petani dituntut lebih cermat, bukan lebih nekat, agar musim depan tidak mengulang luka yang sama,” pungkasnya. (afg/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti