PAMEKASAN, RadarMadura.id – Dua peristiwa berdarah yang terjadi dalam waktu berdekatan membuat Bupati Pamekasan KH Kholilurrahman mengambil langkah cepat.
Setelah pembunuhan sadis di Kecamatan Batumarmar dan bentrokan antarpemuda di depan Masjid Agung Asy-Syuhada yang menewaskan dua orang, bupati langsung menyiapkan strategi pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.
Menurut Kiai Kholil, keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat kepolisian. Dia menegaskan, semua pihak harus turun tangan.
Mulai dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, hingga keluarga.
”Kami rapat dengan forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda) plus dan melibatkan beberapa organisasi perangkat daerah (OPD).
Salah satunya dinas pendidikan dan kebudayaan (dispendikbud) serta Kemenag. Tujuannya, untuk melakukan sosialisasi di lembaga-lembaga pendidikan,” ujarnya.
Dia menekankan bahwa penanganan harus simultan dan berlapis hingga ke tingkat kecamatan.
Sebanyak 13 camat di Pamekasan diminta ikut menjaga kamtibmas di wilayahnya. Setiap pihak harus memiliki tanggung jawab untuk menjaga daerah masing-masing.
Bupati Kholil juga berencana menjalin silaturahmi dengan para ulama dan umara agar pesantren ikut berperan aktif memberikan pencerahan kepada masyarakat.
Menurutnya, peran pesantren sangat strategis dalam membentuk karakter dan mengajarkan nilai moral kepada generasi muda.
Selain pesantren, mantan anggota DPR RI itu menilai peran orang tua juga sangat penting.
Dia mengingatkan bahwa anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah daripada di lembaga pendidikan. Karena itu, kesadaran dan pengawasan dari orang tua harus diperkuat.
Sebagai langkah konkret, bupati juga mendorong adanya tokoh-tokoh desa yang disegani dan bisa berkomunikasi langsung dengan pemerintah kabupaten.
”Kalau ada tokoh yang dipercaya masyarakat dan komunikasinya lancar, setiap gelagat negatif bisa cepat kita cegah,” tandasnya. (afg/yan)
Editor : Amin Basiri