PAMEKASAN, RadarMadura.id – Hangatnya suasana kebersamaan terasa di ruang pertemuan UIN Madura Selasa (12/8). Pimpinan perguruan tinggi se-Madura duduk dalam satu meja. Mereka bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga membicarakan peran strategis perguruan tinggi sebagai motor penggerak kemajuan daerah.
Acara yang dikemas penuh gagasan tersebut menjadi ajang berbagi visi dan langkah kolaboratif. Di tengah rangkaian diskusi, Rektor UIN Madura Dr Saiful Hadi, M.Pd juga memaparkan sebuah konsep yang disebutnya sebagai Asta Helix Heutagogi Taneyan Lanjang. Yaitu, rumusan filosofi keilmuan yang menjadi fondasi akademik kampus.
Saiful menjelaskan, konsep itu lahir sebagai rumusan pengembangan ilmu pengetahuan Islam integratif yang terinspirasi dari struktur taneyan lanjang. Penamaan asta helix juga tidak luput dari terbitnya Perpres 52/2025 yang mengatur alih status kampus. Juga, istilah asta cita yang merujuk pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka.
Dia menjelaskan, delapan unsur yang dimaksud meliputi tonggu yang diibaratkan rahim ilmu pengetahuan. Kemudian, kobhung yang dikenal istilah spiritualitas dan religiusitas, roma bene’an sebagai nilai dan budaya, serta pakeban sebagai norma dan aturan.
”Unsur lainnya adalah dapor yang dianalogikan sebagai teknologi laboratorium, somor sebagai sumber daya alam, taneyan sebagai lingkungan, dan lombhung yang berarti ekonomi. Seluruh unsur tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam dua orientasi besar kehidupan masyarakat Madura. Yakni, dunia dan akhirat, dengan kobhung sebagai simbol penghubung,” ulasnya.
Menurut Saiful, metafora taneyan lanjang memberi ilham bahwa ilmu pengetahuan itu integratif antara ilmu agama dan ilmu umum. Perubahan status kampus menjadi UIN Madura memberi kewenangan kampus untuk mengembangkan bidang ilmu eksakta yang terhubung dengan konsep Asta Helix Heutagogi Taneyan Lanjang.
UIN Madura berkomitmen untuk mengimplementasikan filosofi itu melalui model pembelajaran berbasis heutagogi untuk mendorong kemandirian belajar antargenerasi. Pendekatan tersebut akan melahirkan lulusan yang beridentitas taneyan lanjang.
Baik secara faktual, budaya, empirik, dan lainnya. ”Ke depan, mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) bisa memahami urusan dunia dan mahasiswa eksakta juga memiliki integrasi nilai keagamaan. Dengan Asta Helix Heutagogi Taneyan Lanjang, UIN Madura ingin menjadi lokomotif perubahan untuk membumikan keilmuan Islam yang integratif,” tutur Saiful.
Ketua Forum Rektor se-Madura Prof. Dr. Safi’ menyambut baik gagasan tersebut. Perguruan tinggi memang memiliki tugas strategis untuk menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar. Tentunya, dengan komitmen untuk saling mengisi dan berkolaborasi dalam kemajuan daerah.
”Kalau setiap kampus diberi penugasan oleh pemerintah untuk mengurai dan menuntaskan masalah lokal, lalu disokong pendanaan yang memadai, maka persoalan nasional juga akan terurai. Karena itu sudah sangat cocok tagline dari UIN Madura,” ujar rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu. (afg/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti