PAMEKASAN, RadarMadura.id – Madura identik dengan kuliner sate. Seharusnya lebih dari itu, karena Madura memiliki kearifan lokal dengan nilai kebudayaan dan tradisinya yang sangat unik.
Bumi pertiwi memiliki berbagai macam suku, bahasa, dan agama. Salah satunya suku Madura, yang dikenal memiliki segudang budaya dan tradisi. Tetapi, kini tidak banyak generasi muda yang peduli dan melestarikan tradisi nenek moyangnya.
Kondisi tersebut menjadi keprihatinan anggota Komisi D DPRD Jawa Timur Abrari Alzael. Menurutnya, di era yang digital seperti sekarang, tidak banyak generasi yang mempertahankan kearifan lokal. Itu menunjukkan tergerusnya tradisi nenek moyang oleh modernisasi.
”Problem kecil ini sering terabaikan, jika dibiarkan terus-menerus nilai kearifannya akan hilang. Maka, generasi muda tidak akan mengenal itu,” katanya dalam program Sapa Legislatif di Radar Madura TV.
Madura memiliki ciri khas yang berbeda di antara daerah lain. Misalnya bahasa, rumah adat, bahkan termasuk dengan karakter orangnya juga berbeda dengan warga daerah lain. Namun, tidak banyak yang mengimplementasikan nilai-nilai kebudayaan daerahnya saat berada di luar kota.
Masyarakat dan pemerintah Madura diharapkan dapat mempertahankan kultur sebagai orang Madura di mana pun berada. Serta diharapkan bisa menyuguhkan kuliner khas Madura untuk para tamu yang berkunjung ke Madura.
Kearifan lokal tersebut akan berdampak pada sejumlah sektor. Termasuk di bidang ekonomi. ”Tentunya ini dapat meningkatkan pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat Madura,” ucapnya.
Dalam tergerusnya nilai kearifan lokal disebabkan banyak faktor. Antara lain karena tidak adanya rasa memiliki, mempertahankan, terhadap budaya daerahnya. Kondisi tersebut harus disikapi oleh pemerintah di empat kabupaten di Madura.
Agar generasi muda peduli dan bisa mengimplementasikan nila-nilai daerahnya sejak dini. Salah satunya dengan membuat regulasi yang dapat mendorong generasi muda mengenal dan mempraktikkan nilai-nilai dan budaya Madura.
”Salah satu yang terpenting adalah pembentukan perda. Misalnya penggunaan busana adat, berbahasa Madura sejak dini,” katanya. (ay/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti