Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Mengenang Prof. Kosim, Ilmuwan Peletak Landasan Berpijak STAIN ke IAIN Madura

Hendriyanto • Minggu, 4 Mei 2025 | 03:36 WIB

INSPIRATIF: Prof. Dr. Mohammad Kosim berfoto pada sidang senat terbuka pengukuhan guru besar IAIN Madura.
INSPIRATIF: Prof. Dr. Mohammad Kosim berfoto pada sidang senat terbuka pengukuhan guru besar IAIN Madura.

PAMEKASAN, RadarMadura.id - Kabar duka datang dari lingkungan civitas akademika Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Madura, Pamekasan.  Mantan rektor IAIN Madura, Prof. Dr. Mohammad Kosim meninggal dunia pada Jumat (2/5).

Mohammad Kosim memiliki jasa besar dalam perubahan STAIN ke IAIN Madura. Mantan rektor periode 2016 hingga 2022 itu adalah sosok yang religius dan memiliki kualitas keilmuan luar biasa.

Bahkan guru besar Ilmu Pendidikan Islam itu termasuk peletak landasan berpijak perubahan status dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) menuju IAIN Madura.

”Berdasarkan pemikiran almarhum juga memberikan amanat kepada kami, pimpinan periode sekarang, untuk melanjutkan upaya perubahan bentuk dari IAIN Madura ke UIN Madura,” kata Rektor IAIN Madura, Saiful Hadi kepada JPRM.

Baca Juga: Tingkatkan Mutu Perguruan Tinggi, IAIN Madura Tatap Perubahan Lebih Terukur

Bagi Saiful Hadi, amanat Prof. Kosim itulah yang harus selesaikan. Bagaimana IAIN Madura menjadi salah satu lembaga pendidikan tinggi yang maju dan berkembang. Sehingga dapat menyelenggarakan pendidikan ilmu keagamaan dan ilmu unum lainnya.

”Semoga beliau bahagia ketika IAIN Madura berubah menjadi UIN Madura cara menyaksikannya, dari sana,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Senat Akademik IAIN Madura, Achmad Muhlis mengenang bahwa Prof. Kosim adalah sosok ilmuwan yang aktif menulis sampai akhir hayatnya. Tulisan teranyar yang sempat dibacanya adalah tentang sekolah rakyat pada Kamis (24/4).

”Beliau sosok yang religius, dibuktikan dengan kebijakan yang diambil saat menjabat dua periode di IAIN Madura. Salah satunya pengaturan jadwal kuliah menyesuaikan dengan waktu shalat,” ungkapnya.

Wakil Dekan II Fakultas Tarbiyah, itu mengaku dirinya pernah diajak melakukan penelitian tentang pesantren di Madura saat baru jadi dosen. Pengalaman itu menjadi pelajaran dan ilmu yang berharga hingga saat ini dirinya melanjutkan penelitian tentang pesantren itu.

Baca Juga: Ratusan Penerima BSPS Tersebar di Pragaan

Bagi Mukhlis, Prof. Kosim juga sangat santai tapi santun. Dengan tetap mau menerima saran dan kritik sekalipun juniornya dalam menyikapi persoalan. Disamping itu sangat tegas dalam membuat kebijakan pengembangan kelembagaan, walau ditentang banyak orang.

”Pengalaman saya yang selalu mengkritik, memberi saran untuk pengembangan kelembagaan di IAIN Madura. Saya pribadi benar-benar merasa kehilangan sosok ilmuwan sejati, yang dijadikan panutan, guru, sahabat, kolega dalam segala hal. Beliau memiliki pengalaman yg kuat dalam segala hal,” kenang Mukhlis. (lil/dry)

Editor : Hendriyanto
#peneliti #iain madura #ilmuan #STAIN