PAMEKASAN, RadarMadura.id - Jejak literasi zaman Wali Sanga masih bisa dinikmati oleh masyarakat sekarang. Di antaranya melalui Al-Qur’an berbahan kertas kapas peninggalan Sunan Gunung Jati.
Al-Qu'an berukuran sekitar 10x20 sentimeter ada di atas meja ruang tamu Islamic Boarding School Padepokan Kiai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) Desa Lancar, Kecamatan Larangan, Pamekasan.
Di kursi cokelat, terlihat Achmad Muhlis, pemilik Al-Qur’an tersebut memegang mushaf yang dibungkus kain motif bunga.
Secara perlahan, direktur IBS PKMKK itu membuka Al-Qur’an tersebut dengan penuh hati-hati.
Cover Al-Qur’an itu berwarna cokelat tua. Kondisinya sedikit berjamur, tapi tetap utuh dan tidak termakan rayap.
”Dari kertasnya sudah tergambar usianya ratusan tahun. Tapi, kondisinya tetap utuh dan tidak berkurang sedikit pun,” katanya, Kamis (20/3).
Al-Qur’an tersebut merupakan peninggalan Sunan Gunung Jati yang ditulis tangan.
Mushaf itu ditulis dengan tinta berwarna emas di atas kertas berbahan kapas.
Menurut Muhlis, ada dua kemungkinan penyebab kertas tersebut berwarna kuning emas.
”Bisa karena tinta warna atau memang terbuat dari emas. Jika itu tinta, tentu akan luntur termakan usia karena bahan kimia,” ucapnya.
Muhlis meyakini Al-Qur’an tersebut tidak seperti manuskrip pada umumnya.
Sebab, tekstur kertasnya kaku dan tebal sehingga tidak mudah robek. Bahkan, tidak rusak sekalipun terkena air.
”Kertasnya juga tidak bisa dilipat. Berbeda dengan kertas biasa yang rusak ketika terkena air,” ujarnya.
Muhlis memaparkan, dirinya bukan pemilik pertama Al-Qur’an tersebut. Dirinya mendapatkannya dari orang asal Banten.
Mushaf tersebut dijual kepadanya karena akan didonasikan ke Palestina.
”Sebenarnya orang Banten itu tidak ingin menjual Al-Qur’an ini. Tapi, karena tidak ada harta lagi jadi terpaksa dijual dengan tawaran Rp 250 juta dari harga Rp 1,3 miliar,” ungkapnya.
Muhlis mengaku tertarik merawat Al-Qur’an tersebut untuk refleksi diri. Yakni, sebagai bentuk tabaruk (berharap barokah) dari wali Allah dan Allah SWT.
”Sewaktu-waktu saya buka untuk tabaruk, minimal dua minggu sekali. Meskipun saya baca agak susah,” paparnya.
Muhlis sudah dua tahun merawat mushaf tersebut. Dirinya juga telah preservasi Al-Qur’an itu ke digital untuk mempertahankan nilai sejarahnya.
Manuskrip tersebut telah tiga kali diteliti Litbang Semarang dan kementerian.
Dia mengungkapkan, manuskrip yang dimiliki tidak hanya Al-Qur’an.
Ada juga kitab tasawuf, ilmu alat (Kitab Alfiya) dan ilmu fikih. Muhlis juga memiliki kiswah Kakbah asli yang kaligrafinya dari benang emas.
Hasil penelitian, manuskrip tersebut menunjukkan bahwa tradisi ilmu yang dipelajari dimulai dari kajian tauhid dan tasawuf.
”Ini berdasarkan manuskrip yang ditemukan di Kembang Kuning,” ungkapnya
Selain itu, pelajaran ilmu alat (tata bahasa Arab) menjadi pilar utama yang dipelajari oleh santri.
Khat (tulisan Arab) yang digunakan jenisnya Naskhi walau tidak sempurna. Jenis kertas manuskrip daluang dicampur dengan daun lontar.
Sedangkan tintanya terbuat dari karbon atau biasa disebut jelaga yang tahan air dan menghasilkan tulisan yang stabil.
”Koleksi ini tidak lain sebagai bentuk tabaruk. Khusus kiswah, kami rutinitas setiap malam Kamis dengan keluarga dan santri mencium seperti tradisi Sayyidina Umar,” pungkasnya. (*/bil)
Editor : Fatmasari Margaretta