Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pondok Pesantren Dubaja Ibos Pamekasan Padukan Pendidikan Tradisional dan Modern

Hera Marylia Damayanti • Kamis, 3 April 2025 | 16:13 WIB

RAMAH: Pengasuh Ponpes Dubaja Ibos Pamekasan Kiai Abdus Salam (tengah), menerima kunjungan Ketua DPRD Pamekasan Ali Masykur dan Kepala JPRM Biro Pamekasan Moh. Subhan di kediamannya, Sabtu (8/3).
RAMAH: Pengasuh Ponpes Dubaja Ibos Pamekasan Kiai Abdus Salam (tengah), menerima kunjungan Ketua DPRD Pamekasan Ali Masykur dan Kepala JPRM Biro Pamekasan Moh. Subhan di kediamannya, Sabtu (8/3).
 

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum II Balad Dhaja (Dubaja) Islamic Boarding School (Ibos) menjadi salah satu pusat keilmuan di Pamekasan.

Dalam perjalanannya, pesantren tersebut mampu mengelaborasi antara sistem pendidikan tradisional dan modern.

Pesantren di Desa Bujur Tengah, Kecamatan Batumarmar, ini dirintis oleh Kiai Sholehuddin bin KH Abdul Ghofur pada Minggu, 13 Desember 1975. Kiai Sholeh memimpin pesantren tersebut kurang lebih selama 20 tahun hingga 1995.

”Kiai Sholehuddin sempat menjadi pengasuh pesantren milik mertuanya di Balad Laok. Namun tidak lama setelah istrinya wafat, beliau menikah lagi dan mendirikan pesantren Balad Daja,” ungkap pengasuh ketiga Pesantren Darul Ulum II Balad Dhaja Kiai Abdus Salam.

Mulanya Pondok Pesantren Dubaja menerapkan sistem pendidikan agama nonformal (sorogan) murni, seperti pada umumnya pesantren tempo dulu.

Namun kemudian berkembang, didirikanlah lembaga pendidikan formal pada 1992 yaitu madrasah tsanawiyah (MTs).

Setelahnya, baru kemudian didirikan lembaga pendidikan madrasah aliyah (MA) pada 1995. Saat masa pendaftaran siswa baru, suasana duka menyelimuti keluarga besar Pesantren Dubaja.

Sebab, sang perintis, Kiai Sholehuddin meninggal dunia. Duka mendalam juga dirasakan oleh masyarakat.

Setelah Kiai Sholehuddin, kepemimpinan Pesantren Darul Ulum II Balad Dhaja digantikan Kiai Basyirudin bin Hasan Basri. Tidak lain adalah menantu pertamanya.

Kiai Basyir mengasuh selama kurang lebih sembilan tahun, dari 1995 hingga 2024. Barulah dari 2024 hingga sekarang Pesantren Dubaja diasuh Kiai Abdus Salam.

LAUTAN ILMU: Pengasuh Ponpes Dubaja Ibos Pamekasan Kiai Abdus Salam melangsungkan kajian kitab bersama para santrinya, Sabtu (8/3). (M. KHOLIL RAMLI/JPRM)
LAUTAN ILMU: Pengasuh Ponpes Dubaja Ibos Pamekasan Kiai Abdus Salam melangsungkan kajian kitab bersama para santrinya, Sabtu (8/3). (M. KHOLIL RAMLI/JPRM)

Bagi Kiai Abdus, Kiai Sholehuddin adalah sosok sederhana, ahli tirakat, dan sangat mencintai ilmu.

Semasa hidupnya selalu merasa haus untuk terus belajar dan mendalami ilmu-ilmu kitabiyah. Bahkan, sekalipun sudah menjadi pengasuh dan memiliki ratusan santri.

Hal itu dibuktikan saat Kiai Sholehuddin mengamalkan puasa setiap hari dalam sepuluh tahun. Namun, nazar tersebut tidak sampai selesai karena lebih dulu wafat.

Bahkan semasa hidupnya, Kiai Sholeh pernah berjalan kaki untuk belajar dan menanyakan arti satu kitab kepada KH Muhammad Syamsul Arifin di Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar.

”Beliau memang sosok yang sangat luar biasa dan sederhana. Untuk tetap menyambung sanad keilmuannya, beliau sampai jalan kaki pulang pergi, belajar langsung kepada KH Syamsul Arifin. Meskipun saat itu sudah ada kamus,” tutur suami Hj Ruhaniyah itu.

Kiai Abdus menyebut, setiap pengasuh di Pesantren Dubaja Ibos memiliki perjuangan dan jasa yang sangat luar biasa. Tidak hanya di pesantren, tetapi juga bagi masyarakat Bujur Tengah.

Karena memang awal mula pendirian Pesantren Dubaja hanya untuk menjadi pusat dakwah dan ilmu pengetahuan.

Dia sangat bersyukur karena pesantren yang dikelolanya terus berkembang dan mengalami kemajuan.

Berkat perjuangan dan doa para pendiri, Dubaja mampu mengelaborasi sistem pendidikan modern di dalam pesantren. Salah satunya dengan penyematan nama Islamic Boarding School (Ibos).

”Awalnya santri yang bersama Kiai Sholeh itu hanya khodamnya saja. Dengan berjalannya waktu, terus bertambah dan saat ini kurang lebih sudah 550 santri putra dan putri. Mereka, selain dari wilayah Pamekasan, ada juga dari luar kota. Seperti Sampang, Jember, dan lain sebagainya,” ungkapnya. (lil/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Kiai Sholehuddin #Dubaja Ibos #pendidikan agama #pesantren #ponpes #dakwah