Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Panen Durian di Bumi Pamelingan (8-Habis): Lanjutkan Perawatan Pohon Warisan Leluhur

Hera Marylia Damayanti • Senin, 17 Februari 2025 | 14:25 WIB
LOKAL: Berbagai jenis durian dijual di Desa Tebul Timur, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Sabtu (15/2). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
LOKAL: Berbagai jenis durian dijual di Desa Tebul Timur, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Sabtu (15/2). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Suasana rindang di sepanjang Jalan Raya Pegantenan menjadi ciri khas tersendiri.

Hijau pepohonan menjadikan cuaca di Desa Tebul Timur dan Desa Tebul Barat terasa lebih sejuk.

Pohon-pohon besar berdiri kokoh di sekitar pekarangan rumah dan ladang-ladang warga sekitar.

Dari beberapa tanaman itu, satu yang paling mencolok. Yakni, pohon durian dengan jumlah yang hampir tidak terhitung lagi.

Desa Tebul Timur dan Desa Tebul Barat memang dikenal sebagai sentra durian di Bumi Gerbang Salam itu.

Mayoritas warganya memiliki pohon durian. Buah itu warisan dari para pendahulu.

Tak heran jika usianya ada yang sampai puluhan tahun. Konon, di Desa Tebul Timur pernah ada pohon durian berusia ratusan tahun.

Namun, induk buah berkulit keras dan berduri itu sudah tidak diketahui keberadaannya.

Yang tersisa, hanya pohon durian dengan usia puluhan tahun. Seperti yang dimiliki oleh Moh. Sohebuddin, warga Desa Tebul Timur, Kecamatan Pegantenan.

Usia pohon di dekat rumahnya diperkirakan mencapai 60 tahun.

”Katanya, sejak embah kecil ini sudah ada. Sekarang yang mengelola (pohon durian, Red) saya dan bapak. Kalau yang di atas 40 tahunan ada tiga pohon,” terang alumnus sarjana pertanian Universitas Islam Madura (UIM) itu.

Menurut Soheb, tinggi dan lebar batang pohon bisa dijadikan patokan usia.

BERUMUR: Moh. Sohebuddin menunjukkan pohon durian berusia sekitar 60 tahun di Desa Tebul Timur, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Sabtu (15/2). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
BERUMUR: Moh. Sohebuddin menunjukkan pohon durian berusia sekitar 60 tahun di Desa Tebul Timur, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Sabtu (15/2). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

Lumrahnya, durian dengan usia yang matang akan terlihat lebih menjulang. Meski, ada beberapa warga yang sengaja memotong dahan bagian atas.

”Ada memang yang dahannya itu sengaja dipotong. Misalnya, takut menimpa atap rumah atau karena faktor lainnya. Itu tidak masalah selama dilakukan dengan cara yang benar. Rata-rata, orang sini sudah paham,” ucapnya.

Biasanya, tinggi pohon durian yang cukup matang berkisar antara 25 meter hingga 50 meter.

Untuk bisa sampai ke tahap itu, para pembudi daya durian harus menunggu waktu lama. Yakni, sekitar empat sampai lima tahun.

”Ada juga cara yang cepat dengan upaya cangkok. Mungkin dua sampai tiga tahun sudah bisa berbuah. Tetapi, untuk cara yang ini rawan gagal. Sehingga, pohon durian tidak bisa panen hingga waktu yang lama,” sambungnya.

Soheb menyarankan agar menanam durian dengan cara yang alami.

Meski proses berbuah harus menunggu hingga beberapa tahun, tetapi masa panen diperkirakan akan lebih lama dibandingkan dengan proses cangkok.

Bisa Petik Seribu Buah dalam Satu Musim

Adagium makin tua makin jadi dirasa tepat untuk menggambarkan pohon durian. Sebab, kualitas buah dan jumlah panen bisa lebih banyak jika usia pohon sudah cukup lama.

Dari pohon durian berusia 60 tahun itu, Moh. Sohebuddin bisa memanen hingga seribu buah dalam satu musim.

Hasil mujur tersebut sudah pernah ia terima bersama keluarganya sejak beberapa kali masa panen durian.

Baca Juga: Panen Durian di Bumi Pamelingan, Rasa Jadi Pembeda Durian Mentega

SANTAI: Moh. Sohebuddin berjalan di antara pohon durian di Desa Tebul Timur, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Sabtu (15/2). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
SANTAI: Moh. Sohebuddin berjalan di antara pohon durian di Desa Tebul Timur, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Sabtu (15/2). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

Tetapi, bukan berarti keberuntungan itu selalu bertahan. Buktinya, Soheb juga pernah mengalami gagal panen.

Hasil durian yang didapatkan tidak sebanyak yang ia pikirkan. Apalagi, jika cuaca tidak begitu mendukung.

”Kadang kalau musim hujan secara terus-menerus, bisa gagal panen. Mulai dari jumlah buah yang berkurang hingga kualitas yang juga menurun. Seperti, dari segi rasa dan ketebalan daging durian,” terang Soheb Sabtu (15/2).

Bagi Soheb, merawat durian bisa dibilang gampang-gampang susah.

Sebab, sebagian dari pembudi daya mungkin akan merasa kesulitan saat mengawali masa tanam. Banyak dari mereka yang justru putus asa di tengah jalan.

”Itu karena waktu berbuah yang lama. Ada yang sudah masuk usia lima tahun, tetapi tidak kunjung berbuah. Ya harus telaten memang. Dan, jangan salah dalam perawatan,” ucap Soheb pada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Setelah masa panen, Soheb mengaku tidak pernah mengeluarkan biaya dengan jumlah banyak.

Durian hanya butuh pemupukan rutin. Terutama, ketika musim kemarau. Dia biasa menggunakan pupuk alami dan urea. (afg/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#puluhan tahun #Desa Tebul Timur #durian #pohon durian #masa tanam #usia pohon