PAMEKASAN, RadarMadura.id – Penyebab meninggalnya lima warga di dalam sumur di Desa Jarin, Kecamatan Pademawu, masih menjadi misteri.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan melakukan pengkajian untuk mengetahui penyebab tewasnya kelima korban dalam satu lubang.
Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan Achmad Zainullah menyatakan, tindakan awal yang dilakukan pasca kejadian memilukan itu adalah menutup sumur.
Hal itu agar tidak dijangkau warga lainnya.
”Sumur ditutup dan diberikan police line,” ujarnya Jumat (29/11).
Lembaganya belum bisa menyimpulkan penyebab meninggalnya kelima korban.
Namun yang yang jelas, air sumur itu sebelumnya tidak pernah digunakan untuk konsumsi. Hanya dijadikan tempat merendam bambu.
”Kami belum bisa menyimpulkan, apakah itu (air sumur) beracun atau ada kandungan gasnya,” tambahnya.
Zainul mengungkapkan, lembaganya masih melakukan kajian secara lebih lanjut untuk mengetahui kandungan yang ada di dalam sumur.
Yakni, dengan melibatkan beberapa stakeholder.
Di antaranya, dinas kesehatan (dinkes) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pamekasan.
”Hasilnya seperti apa nanti akan keluar setelah ada rapat koordinasi lagi,” ungkapnya.
Zainul mengungkapkan, sumur mengandung gas tergolong minim di Kabupaten Pamekasan.
Peristiwa tersebut hanya pernah terjadi di Desa/Kecamatan Kadur. Namun, tidak memakan korban jiwa.
”Kalau sumur di Desa Jarin (yang menewaskan lima orang) ini sebelumnya tidak pernah dimanfaatkan karena airnya asin. Tapi, kandungannya belum kami ketahui,” paparnya.
Pihaknya mengimbau masyarakat waspada saat melakukan aktivitas penggalian sumur.
Sebab, tidak menutup kemungkinan sumur yang digali mengandung gas berbahaya dan beracun.
”Kejadian ini harus menjadi pembelajaran oleh masyarakat. Kalau sumur sudah tidak layak sebaiknya menggunakan alat pelindung diri. Khawatir terulang kejadian serupa,” sambungnya.
Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Pamekasan Farhatin Syaifillah menduga kelima korban tewas dalam satu lubang disebabkan kekurangan oksigen.
Selain itu bisa disebabkan kelembapan di dalam sumur.
Namun, untuk mengetahui penyebab pastinya perlu dilakukan kajian secara komprehensif.
”Kami belum bisa melakukan uji sampel, karena laboratorium kami belum terakreditasi. Dari rumah sakit kemarin menyampaikan mereka (korban) diduga kekurangan oksigen,” paparnya. (ay/jup)
Editor : Fatmasari Margaretta