Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Tekuni Profesi dan Jadi Relawan, Chandra Kirana Terpilih Juara Tiga Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan Tingkat Nasional

Ina Herdiyana • Rabu, 6 Desember 2023 | 16:27 WIB
TELADAN: Chandra Kirana menunjukkan trofi dan piagam penghargaan juara tiga GTK Berprestasi dari Kementerian Agama, Senin (27/11). (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)
TELADAN: Chandra Kirana menunjukkan trofi dan piagam penghargaan juara tiga GTK Berprestasi dari Kementerian Agama, Senin (27/11). (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Posisi guru dan relawan tidak jauh berbeda. Sama-sama mengabdi. Chandra Kirana membagi waktu mendidik dan menjadi relawan kemanusiaan.

Suasana Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pamekasan tidak seperti hari-hari biasanya pada Senin (27/11). Pagi itu, suasana madrasah ramai. Satu banner ucapan selamat terpasang di depan pintu masuk madrasah.

Lembaga pendidikan di bawah naungan Kemenag itu sedang merayakan keberhasilan salah seorang guru. Yakni, Chandra Kirana yang baru saja meraih prestasi tingkat nasional. Dia berhasil menjadi juara tiga Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan Kemenag RI.

Keberhasilan itu diraih dengan perjuangan yang menguras tenaga dan pikiran. Dalam event tersebut, Chandra mengangkat tema besar Guru Madrasah Relawan Kemanusiaan. Tema itu diambil sesuai dengan aktivitas Chandra selama ini. Yakni, menjadi guru madrasah dan relawan kemanusiaan.

”Saya ini dikata-katain ’gila’ sama juri karena mau menjadi relawan yang notabene tidak mengambil upah satu rupiah pun,” kata perempuan berhijab itu.

Didikan kedua orang tua yang menjadikan Chandra bergelut di dunia relawan. Saling mengasihi, tolong-menolong sesama makhluk, dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Menurut dia, jika hanya mengandalkan pemerintah, banyak masyarakat yang telantar dan tidak terurus. Padahal, ada jutaan relawan yang hadir untuk menolong sesama.

Dia terlibat dalam Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB) Pamekasan. Kemudian, tim relawan pemulasaraan jenazah Covid-19 hingga relawan Madrasah Memanggil. Dia menjadi anggota relawan Madrasah Memanggil sejak angkatan pertama.

Dia melihat kondisi madrasah di pelosok desa sangat membutuhkan uluran tangan pemerintah. Kondisi itu menjadi alasan Chandra untuk mengabdikan dirinya sebagai relawan program Madrasah Memanggil. Senyum dan semangat siswa madrasah memupuk semangat Chandra untuk terus menyalurkan ilmu kepada mereka.

”Kesannya itu senang, bangga, dan terharu bisa berbagi ilmu dengan siswa madrasah di pelosok desa,” ucapnya.

Guru biologi ini tidak melupakan momen-momen mengesankan selama menjadi relawan Madrasah Memanggil. Jalan sempit dan banyak bebatuan besar menjadi pelengkap bagi Chandra untuk terus mengabdi di madrasah.

Warga Jalan KH Agus Salim, Kelurahan Kolpajung, ini sangat bangga dan terharu bisa bergabung di program Perkumpulan Guru Madrasah Nasional Indonesia (PGMNI) Jawa Timur ini. Dengan cara itu, ilmu yang dia miliki tersalurkan dan diharapkan bermanfaat. ”Tentang kebencanaan, bagaimana cara mengatasi bencana longsor, gempa, dan sebagainya,” jelas Chandra.

Banyak kenangan yang tidak terlupakan selama bergelut sebagai relawan. Hal paling berkesan saat pandemi Covid-19 melanda. Dia satu-satunya perempuan di Pamekasan yang ikut menguburkan jenazah Covid-19. Selama 24 jam ada di kuburan. Setiap waktu jenazah Covid-19 silih berganti.

Tidak mandi, memakai hazmat, serta tidak mengenal waktu memandikan dan menguburkan jenazah menjadi ritme kehidupan Chandra kala itu. Bahkan pernah memandikan jenazah perempuan nonmuslim yang meninggal karena Covid-19. ”Waktu itu kami tidak menilai dia muslim ataupun nonmuslim, yang penting cepat dikubur,” kata Chandra.

FRPB menjadi rumah kedua bagi perempuan kelahiran 1967 ini. Sejak FRPB berdiri pada 2014, Chandra sudah menjadi bagian forum ini. Karena FRPB juga, Chandra bisa memberikan bantuan kepada masyarakat.

Tidak hanya di Pamekasan. Dia pernah menjadi relawan bencana alam di Gunung Semeru selama tiga kali. Mengevakuasi mayat tanpa kepala dan jasad manusia dimakan ulat sudah biasa bagi Chandra. Kisah horor pun menjadi pelengkap cerita selama dia menjadi relawan.

Ambulans FRPB ditaruh di rumah. Kadang ada yang main pintu kendaraan itu. ”Pokoknya mengganggu lah. Tapi, kami bilang, ’kamu kenapa masih ganggu, kami kan sudah tolongin?’ Habis itu berhenti. Iya takut karena saya memang penakut,” tutur Chandra sambil bercanda.

Pengalaman seperti itu sudah menjadi asam garamnya kehidupan bagi guru MAN 2 Pamekasan ini. Bahkan, hal seperti itu menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan yang aslinya penakut ini.

Ibu dua anak ini juga menularkan jiwa empati dan simpatinya kepada kedua anaknya. Sejak kecil, anaknya diajarkan untuk membantu dan selalu diajak sewaktu berkegiatan. ”Saya selalu ajak mereka sejak kecil dalam giat relawan. Kalau sudah besar khawatir takut merasa dipaksa,” kata Chandra.

Di tengah kesibukan aktivitas relawan, dia menyempatkan diri melakukan pengarsipan dan rajin menulis. Data-data itu untuk menyusun portofolio 1.292 halaman yang dia bawa ke tingkat nasional hingga berhasil keluar sebagai juara tiga.

Rajin menulis menjadi kunci utama yang harus ditekankan di kehidupan. ”Karena kita harus belajar, kita harus berkarya,” ucapnya. (*/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

 

Editor : Ina Herdiyana
#relawan kemanusiaan #guru #Madrasah memanggil #penghargaan #pahlawan tanpa tanda jasa #Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan #pgmni #kemenag #Perkumpulan Guru Madrasah Nasional Indonesia #radar madura online #Forum Relawan Penanggulangan Bencana