PAMEKASAN – Populasi sapi Madura harus tetap dijaga. Sebab, itu bagian dari pelestarian budaya di Pulau Garam. Hal tersebut disampaikan Direktur Animal Biotechnology and Coral Reef Fisheries (Anbiocore) Bambang Purwantara.
Menurut Bambang, populasi sapi Madura saat ini mulai terancam. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya, meningkatnya konsumsi daging sapi.
”Kalau konsumsi daging meningkat tapi persediaan sapinya terbatas, pemotongan akan merajalela. Kalau yang jantan tidak ada, otomatis akan mengambil sapi betina. Sehingga, itu akan memutus siklus hidup,” katanya kemarin (22/1).
Di samping itu, masyarakat menginginkan percepatan pertumbuhan hewan. Akhirnya, masyarakat memilih untuk kawin silang dengan sapi limosin. Saat ini kawin silang sangat marak dilakukan masyarakat.
”Pertumbuhan hasil kawin silang dengan sapi limosin akan lebih cepat. Banyak kelebihan yang bisa dihasilkan. Misalnya, ketika dijual akan lebih mahal karena tumbuhnya cepat. Selain itu waktu potong lebih pendek,” ujarnya.
Pemerintah harus mempunyai kebijakan yang bisa mempertahankan populasi sapi Madura. Dengan demikian, perkembangannya tetap terjaga. Sebab, jika tidak ada atuaran yang membatasi, akan mengancam pertumbuhan sapi Madura.
”Artinya, kita tidak boleh membatasi pertumbuhan sapi di tengah-tengah masyarakat. Sebab, itu hak mereka. Tetapi, harus ada usaha pemerintah untuk mempertahankan sapi Madura agar tidak punah. Pemerintah harus memiliki kebijakan untuk menjaga populasi sehingga bisa menghasilkan sapi istimewa,” ungkapnya.
Sementara, Wakil Bupati Pamekasan Raja’e menyampaikan, pihaknya berjanji akan terus mendorong kebijakan pemerintah untuk menjaga populasi sapi Madura. Di antaranya, memaksimalkan program Inseminasi Buatan Satu Tahun Satu Kelahiran (Intan Satu Saka).
”Dengan Intan satu Saka, kami yakin populasi sapi Madura akan tetap terjaga. Kami akan terus mendorong pertumbuhan sapi Madura agar tidak punah. Yakni melestarikannya melalui kebudayaan yang berkembang di Madura,” pungkasnya. (bil)
Editor : Abdul Basri