BILA menelusuri berbagai literatur tekait ”ibadah haji” dan ”orang Madura”, kita akan menemukan cerita-cerita antropologis yang melimpah tentang orang-orang Madura ketika naik haji dan umrah. Cerita-cerita dimaksud tak jarang mengundang tawa para pembaca, meski di sisi lain kita tak bisa mengesampingkan hikmah atau pelajaran berharga di baliknya yang bisa kita ambil.
Berkaitan dengan itu, Abdul Mukti Thabrani sebenarnya sudah pernah merangkum cerita-cerita seputar haji dan umrah orang-orang Madura, dalam bukunya yang berjudul Orang Madura Naik Haji: Mati Ketawa ala Orang-OrangMadura (Diva Press, 2017). Dalam buku ini, Thabrani merangkum berbagai macam respons dan tingkah lucu dan lugu orang-orang Madura saat menjalankan ibadah haji dan umrah.
Misalnya, seorang jemaah haji yang sangat yakin dirinya telah tertimpa azab sebagai konsekuensi atas dosa-dosanya karena setiap kali ia mandi di kamar hotel, air yang keluar selalu air panas. Padahal, yang ia tekan adalah keran berwarna merah bertuliskan ”hot”, sedangkan dia sendiri tidak menyadari. Cerita lain yang tak kalah lucu dan lugu, misalnya, ketika sejumlah jemaah haji asal Madura kompak melepas sandal ketika hendak memasuki lift.
Tapi, saya tidak akan membawa tulisan ini terlalu larut dalam reka ulang atas hal-hal yang sudah dituliskan atau diceritakan sebelumnya. Tulisan ini sebisa mungkin akan diarahkan pada perspektif lain yang bisa mengajak kita semua untuk merenungi kembali perjalanan haji dan umrah, terutama bagi orang Madura.
Pemberangkatan dan Kedatangan
Cerita-cerita menarik jemaah haji orang Madura tak hanya terjadi pada saat mereka berada di kota Makkah dan Madinah. Sebelum dan sesudah pemberangkatan mereka ke Tanah Suci juga tak jarang menyisakan cerita yang menarik untuk direfleksikan kembali di sini.
Pertama,salametan. Bagi orang Madura, berkesempatan berangkat haji merupakan anugerah terbesar. Bahkan dalam derajat tertentu, orang yang berhasil menunaikan rukun Islam kelima ini layak ”diberikan” semacam status sosial baru oleh lingkungan sekitarnya. Tak pelak, mereka sangat antusias atas proses pemberangkatan ibadah haji itu. Sebelum berangkat ke Tanah Suci, biasanya mereka mengadakan salametan.
Sederhananya, salametan semacam ritual keagamaan khusus yang bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Allah SWT bagi para jemaah haji selama perjalanan. Dalam praktiknya, salametan ini lazimnya diisi dengan pembacaan surah Yasin, syair burdah, dan doa-doa permohonan secara berjemaah. Di sebagian besar wilayah Madura, ritual ini berlangsung tidak hanya pada saat pemberangkatan, tapi berlangsung hingga si jemaah haji kembali ke kampung halamannya.
Kedua, pernak-pernik. Respons unik orang Madura terhadap ibadah haji juga tergambar dari adanya pernak-pernik atau hiasan di dinding-dinding dan atap-atap rumah si jemaah haji dalam rangka menyambut kedatangan mereka. Pernak-pernik dimaksud biasanya dibuat dari pita kertas, pita balon, dan aksesori lainnya, persis seperti perayaan pesta ulang tahun.
Pernak-pernik lainnya juga terlihat di tempat duduk si jemaah haji saat menjamu para tamunya. Tempat duduk mereka biasanya disulap bak singgasana. Gambar sekaligus nama lengkap bergelar H (haji) si jemaah haji yang dililit lampu kelap-kelip terpampang jelas di belakangnya. Di arena luar yang menjadi jalan menuju rumah si jemaah terpampang semacam gapura hias bertuliskan ucapan ”Selamat Datang dari Tanah Suci Makkah dan Madinah” kepada si haji baru.
Ketiga, fenomena konvoi. Di kampung saya, sebagaimana wilayah-wilayah lain di Madura, selalu ada euforia mengiringi kedatangan jemaah haji. Selain dua bentuk euforia di atas, euforia dimaksud biasanya juga diekspresikan dalam bentuk konvoi atau iring-iringan motor dan mobil. Puluhan bahkan ratusan motor dan mobil berangkat dari titik lokasi yang ditentukan secara beriring-iringan di depan mobil yang ditumpangi si jemaah haji sampai ke kediamannya.
Iring-iringan tersebut membentuk saf ke belakang, tetapi juga menyamping dari bahu jalan sebelah kiri sampai bahu jalan sebelah kanan. Khusus untuk jemaah haji yang tergolong dalam kelas ekonomi menengah ke atas, konvoi kedatangannya kadang mendapat pengawalan khusus oleh mobil kepolisian dengan menyalakan lampu strobo dan sirene.
Renungan
Saya tidak dalam kapasitas menilai kebenaran teologis atas berbagai respons orang Madura terhadap ibadah haji dan umrah. Khusus terhadap respons nomor satu dan dua, saya hanya akan berprasangka baik (husnuzon) bahwa apa yang mereka lakukan semata-mata sebagai bentuk penghormatan (takzim) kepada orang-orang yang baru menginjak tanah kelahiran serta wafatnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW, serta ngalap aliran barokah dan syafaat makhluk-Nya yang paling agung.
Namun, terkait respons nomor tiga, saya akan mengajukan sedikit keberatan atas konsekuensi negatif daripada konvoi. Kita tidak boleh terlalu naif bahwa konvoi berpotensi besar menimbulkan kebisingan dan kemacetan. Selama para aktor konvoi menggeber knalpot bisingnya di sepanjang jalan, selama itu pula orang-orang di sekitar merasa terganggu suara nyaringnya, serta kelancaran perjalanan para pengguna jalan lain terganggu karenanya.
Memang, konvoi bukan satu-satunya cara orang Madura untuk memuliakan tamu-tamu Allah yang baru datang dari Tanah Suci. Tapi, fenomena ini sudah kadung mengakar kuat dalam masyarakat kita, sehingga kedatangan jemaah haji pun terkesan identik dengan konvoi. Pesan yang bisa kita renungkan; memuliakan tamu-tamu Allah SWT adalah dengan mengamalkan kalam-kalam suci-Nya serta meneladani akhlak-akhlak mulia sebagaimana Rasulullah SAW gambarkan, bukan justru menabur ”duri” di ruas-ruas jalan.
Tapi, ada satu hal penting untuk digarisbawahi: para aktor konvoi tidak serta-merta bergerak dengan sendirinya tanpa adanya ”fasilitas” dari si jemaah haji beserta keluarga-keluarganya. Dalam banyak kasus yang saya temui, mereka memang sengaja diundang untuk meramaikan kedatangan jemaah haji dengan kompensasi nasi bungkus, satu bungkus rokok atau uang tunai puluhan ribu rupiah bagi tiap pengendara sepeda motor.
Pesan yang bisa direnungkan terutama oleh setiap jemaah haji Madura; kedatangan dari Tanah Suci Makkah dan Madinah adalah momentum terbaik untuk menguji kemabruran ibadah haji dan umrahnya. Karenanya, isilah momen kedatangan itu dengan hal-hal yang lebih substansif dan positif, karena itulah penentu kemabruran haji dan umrah kita.
Jalaluddin as-Suyuthi (1445–1505, M) menerangkan dalam kitab Syarhus Suyuthi li Sunan an-Nasa’i, salah satu bukti seseorang telah mencapai haji mabrur adalah ketika ia menjadi lebih baik dari sebelumnya dan berusaha mengurangi perbuatan maksiat. Marilah kita perbanyak berbuat kebaikan dan kebajikan, dengan mengerjakan hal-hal yang mengandung maslahat lebih besar daripada mudaratnya, bukan malah sebaliknya.
Kepada seluruh jemaah haji Madura Raya 2023, selamat datang dari Tanah Suci Makkah dan Madinah. Semoga memperoleh predikat haji mabrur. Amin! (*)
*)Dosen Instika Guluk-Guluk, Sumenep, pegiat Literasi Komunitas Ghai’ Bintang Rubaru)