BELAKANGAN ini hampir setiap hari saya menerima tamu yang ingin memondokkan anak-anaknya. Silih berganti para orang tua mengantar anaknya dengan niat si anak dapat belajar ilmu agama dan umum di pondok pesantren. Paling tidak, akhlak dan moralitas anak-anak mereka kelak dapat terbentuk dengan baik. Begitu yang saya cermati dari berbagai penuturan tamu yang datang.
Beberapa minggu ini memang waktunya penerimaan santri baru. Mungkin semua pondok pesantren mengalami hal serupa. Pimpinan pondok pesantren atau kiainya sangat jarang keluar rumah karena ”kesibukan tahunan” penerimaan santri baru. Para pengurus pondok pun demikian, sibuk-sibuknya mendata santri yang baru masuk. Sesampainya di pondok pesantren, para santri baru ini ada yang kerasan, ada pula yang masih kepikiran orang rumah. Maklum, dunia pondok pesantren tidak seperti dunia mereka sewaktu di rumah.
Sebagaimana pengalaman yang pernah saya rasakan dan mungkin yang pernah nyantri, tidak mudah melangkahkan kaki ini menuju pondok pesantren. Ada karena dorongan orang tua. Ada pula dari teman dekat. Namun saya yakin, setelah beberapa minggu, santri baru akan menikmati suasana pondok pesantren. Kelak ia akan berterima kasih kepada orang tuanya karena sudah memilihkan tempat penempaan diri yang baik di pondok pesantren.
Bagi orang tua, mengantar anak untuk mondok tentu melewati banyak pertimbangan atau lebih tepatnya motivasi. Meminjam kata Frederick Herzberg (1959), seorang profesor dan psikolog spesialis bidang kesehatan mental industri kenamaan Amerika Serikat, motivasi tersebut bisa berasal dari diri sendiri (intrinsik) dan atau dari luar (ekstrinsik). Faktor diri sendiri ini biasanya menjadi penentu seseorang dalam bertindak. Ia tumbuh dengan sendirinya. Berangkat ke pondok pesantren agar dapat berkembang, terarah, mandiri, dan memperoleh pendidikan atau ilmu pengetahuan yang lebih baik.
Faktor intrinsik ini dapat pula berasal dari stimulus salah satu hadis Nabi yang diriwayatkan Bukhari yang berbunyi, ”Barang siapa menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka dapat diperoleh dengan cara menempuh pendidikan atau ilmu pengetahuan. Atau jika menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka juga dapat diperoleh dengan ilmu pengetahuan. Begitu pula bila menginginkan keduanya (dunia dan akhirat), maka dipastikan dapat dicapai dengan ilmu pengetahuan.” Dan, tempat yang cocok untuk menempa diri menggapai ilmu pengetahuan sebagaimana digariskan dalam hadis ini adalah pondok pesantren.
Sementara faktor ekstrinsik berasal dari luar diri sendiri. Motivasi ekstrinsik ini paling tidak meliputi faktor eksternal yang bersifat behavioral seperti reward atau dapat apa setelah mondok dan afirmasi dari orang lain. Faktor ekstrinsik ini juga dapat berasal dari pertimbangan budaya, agama, hingga ekonomi.
Afirmasi dari lingkungan sekitar dapat berasal dari keluarga, teman, tetangga, dan orang lain yang dianggap sukses. Para alumni atau santri aktif pondok pesantren yang ada di suatu wilayah tidak jarang menjadi rujukan orang tua memondokkan anak mereka. Melihat si Fulan tata kramanya lebih baik, ngajinya lebih lancar, pergaulannya lebih terarah, bahkan kesuksesan mereka dalam kiprah sosial masyarakat menjadi pertimbangan ekstrinsik.
Pertimbangan agama juga tidak kalah penting. Agama Islam sebagai agama rahmat untuk seluruh alam, dibawa Nabi Muhammad SAW sebagai fondasi keimanan kita hidup di dunia dan akhirat. Nabi Muhammad SAW mewariskan risalah ilahi ini ke sahabat, tabiin, hingga pada para ulama kontemporer yang kita kenal di mana-mana. Ulama atau kiai mendidik para santri untuk mengenal lebih mendalam agama Islam. Secara berkelindan juga mengajarkannya pada orang lain.
Faktor ekonomi kadang kala juga menjadi pertimbangan. Orang tua yang merasa berasal dari keluarga menengah ke bawah biasanya lebih memilih memondokkan anak mereka ke pesantren terdekat dengan biaya yang tidak terlalu banyak. Sebaliknya, orang tua yang merasa mampu secara finansial berlomba-lomba memasukkan anaknya ke pondok pesantren yang dianggap bonafide.
Karena faktanya, biaya pendidikan antar satu pesantren dengan pesantren lainnya tidaklah sama. Ada pondok pesantren yang mematok biaya tinggi, tapi tidak sedikit pondok pesantren berbiaya murah meriah dan serba ada seperti beli jajan di toko kelontong. Mengenai disparitas pembiayaan ini mungkin tugas pemerintah, misalnya kementerian agama, untuk membuat aturan ketat pembiayaan santri di pondok pesantren di seluruh Indonesia. Mungkin semacam UKT (uang kuliah tunggal) di perguruan tinggi.
Menata dan Mengikat Buruan
Untuk calon santri atau santri, perlu digarisbawahi bahwa segala sesuatunya berangkat dari niat. Dan, mencari ilmu (utamanya ilmu agama) wajib bagi setiap muslim yang berakal. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Ibnu Majah; ”Mencari ilmu itu wajib atas semua muslim, baik laki-laki atau perempuan”.
Apa pun tujuannya, niat harus ditata. Niat ini menjadi elemen utama bagi setiap orang yang beriman. Tidak hanya di dalam ibadah mahdhah (murni) seperti salat. Di dalam ibadah ghairu mahdhah (tidak murni) pun seperti mencari nafkah atau mencari ilmu, posisi niat ini adalah keharusan atau bahkan wajib. Dan niat yang paling luhur dalam menuntut ilmu (agama) adalah untuk menegakkan kalimah Allah SWT di muka bumi dengan tujuan menggapai rida-Nya pula.
Tidak sedikit ulama menekankan dua hal ini. Seperti Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dalam ’Adabul ‘Alim wa al-Muta’allim yang sangat menekankan urgensi niat dan tujuan dalam mencari atau mengajarkan ilmu. Hadratussyaikh menyampaikan pada setiap pencari ilmu untuk memegang sembilan pilar, antara lain; menyucikan hati dari unsur keburukan, memperbaiki (menata) niat, bersegera, qana’ah atau tidak berangan-angan, bisa membagi dan memanfaatkan waktu, menyedikitkan makan dan minum, menjaga diri dari setiap yang merusak, mengurangi tidur, dan tidak larut dalam pergaulan yang tidak bermanfaat.
Selain menata dan memperbarui niat dan tujuan karena Allah SWT, bagi seorang pencari ilmu seperti santri harus mengikat buruannya (ilmu) dengan baik. Imam Syafi’i tidak bosan menasihati kita para pencari ilmu untuk mengikat ilmu kuat-kuat. Karena ilmu, kata Imam Syafi’i, seperti hewan buruan yang dapat lepas kapan saja tanpa diikat. Untuk mengikatnya adalah dengan cara mencatat setiap ilmu yang ditransfer oleh mualim atau pengajarnya. (*)
*)Pimpinan Pondok Pesantren Aqidah Usymuni Sumenep