Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Sekolah Responsif Gender

Dafir. • Selasa, 18 Juli 2023 | 17:08 WIB

 

Photo
Photo

oleh ABD. KADIR*

BEBERAPA waktu lalu saya bertemu Mas Yayak, teman lama, Tim Inovasi Jawa Timur, yang menjadi mitra dinas pendidikan sejak 2018, di acara ziarah haji famili. Karena lama tak bertemu, perjumpaan itu diisi dengan obrolan hangat dan renyah tentang banyak hal. Mulai pendidikan, literasi, responsif gender, sampai pada kebencanaan dan trauma healing.

Membincang tentang literasi, dia menanyakan saya tentang kampus Inkadha yang memiliki program studi PGMI. Program ini memiliki korelasi yang kuat dengan persoalan literasi, khususnya siswa kelas awal. Kedua, Tim Inovasi memiliki program yang bisa bersinergi untuk membangun penguatan literasi untuk guru kelas awal, yang itu diawali dengan penguatan para mahasiswa PGMI yang akan melaksanakan praktik pengenalan lapangan (PPL) ke lembaga pendidikan MI.

Ini yang menjadi stressing point perbincangan kami bahwa saya diminta menjadi motor untuk memberikan penguatan kepada mahasiswa dengan model pohon faktor. Artinya, Tim Inovasi bisa memberikan penguatan kepada beberapa fasilitator kampus, yang kemudian ada diseminasi kepada mahasiswa yang lain yang dilakukan oleh para fasilitator kampus ini.

Secara sederhana, ide ini sangatlah menarik dan perlu direspons secara positif. Artinya, ini perlu ditindaklanjuti dengan komunikasi yang lebih serius antar lembaga terkait (Inkadha dengan pihak Inovasi). Selama ini, Inovasi hanya bekerja sama dengan STKIP PGRI yang notabene ada program studi PGSD. Mereka telah melakukan berbagai upaya penguatan literasi kepada mahasiswa yang akan melaksanakan PPL.

Dalam topik yang lain, ternyata banyak hal yang telah dilakukan oleh Tim Inovasi ini terkait dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan di Sumenep. Sejak awal, yang saya pahami bahwa penguatan kepada guru hanya terkait dengan literasi an sich. Namun, ternyata ada hal yang sudah dilakukan. Mulai dari penguatan sekolah ramah anak (SRA), sampai pada sekolah responsif gender (SRG).

SRA ini mengedepankan pelayanan kepada anak dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan menyenangkan. Artinya, sekolah harus memiliki sifat aman, bersih, peduli, dan berbudaya lingkungan hidup, demi menjamin, memenuhi, juga melindungi hak anak serta perlindungan anak sekolah dari segala bentuk diskriminasi dan kekerasan di bidang pendidikan. Dalam konteks ini, maka penerapannya tidak hanya mengandalkan guru dan sekolah, tetapi juga bagaimana siswa dan orang tua bisa bersama-sama membangun sekolah yang ramah anak ini.

Di sisi lain, lebih dari sekadar pelayanan SRA, ternyata untuk SRG berada pada tingkatan di atas SRA. Bahwa, sekolah dalam konteks SRG ini harus bisa merespons atas perspektif gender bagi siswanya. Artinya, banyak hal yang perlu dilakukan sekolah dalam rangka merespons kebutuhan gender anak.

Dari sisi yang paling sederhana misalnya, terkait dengan tempat sampah. Selama ini kita mungkin tidak pernah berpikir bahwa tempat sampah ini harus tertutup. Tetapi dalam konteks SRG ini, tempat sampah yang ada di sekolah harus ditutup karena bisa jadi ada sampah dari siswa kita yang memang sifatnya privat dan tidak boleh dilihat oleh orang. Atau sekolah perlu menyediakan segala sesuatu kebutuhan siswa yang mungkin dibutuhkan secara darurat.

Bagi siswa perempuan misalnya, ketika mereka mengalami menstruasi, sekolah sudah harus siap untuk merespons dengan menyediakan pembalut dan kelengkapan lainnya sehingga siswa tidak perlu pulang ke rumah dan tetap bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Atau mungkin bagi siswa laki-laki, sekolah juga perlu merespons kebutuhan siswa (khususnya kelas awal) yang di sekolah tidak sempat untuk buang air kecil/air besar sehingga harus ngompol di celana.

Maka, dalam hal ini sebenarnya sekolah juga perlu menyediakan kebutuhan siswa untuk bisa ganti celana/baju sehingga siswa tetap bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Nah, pada ranah ini, ternyata kita perlu membuka diri bahwa kebutuhan anak untuk merasa aman, sehat, dan menyenangkan di sekolah perlu juga direspons baik oleh sekolah dengan memperhatikan perspekif gender sehingga mereka bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan efektif. Semoga! (*)

*)Dosen Pascasarjana Institut Kariman Wirayudha (Inkadha) Sumenep

Editor : Dafir.
#gender #mutu pendidikan #sekolah #pendidikan