TENTU tidak banyak orang masih mengenal lagu Gai’ Bintang yang memang asli lagu daerah Madura. Saya juga mencurigai kaum muda (kisaran antara umur SMA ke bawah) belum mengetahui lagu daerah ini. Bahkan, bisa jadi lagu-lagu daerah lainnya yang berada di Madura, misalnya Titi’ Liya Liyu’, Bel-Pa’embel, dan lainnya. Maka dapat dipastikan kedudukan lagu daerah ini nantinya juga akan hilang dari pendengaran kita. Kepunahan ini bukan lantas terjadi karena adanya perubahan zaman, namun saya melihatnya sudah banyak dari beberapa kalangan penutur tidak mau untuk melagukan dan mengajarkan lagu-lagu daerah.
Sementara, keberadaan lagu saat ini kecenderungan masih disukai oleh banyak kalangan, baik muda atau juga kalangan tua. Terbukti banyak dari mereka (kalangan-kalangan tersebut) masih sangat menikmati alunan musik dari lagu yang didengarkannya. Apalagi jika berkenaan dengan lagu yang lagi viral atau hit akan banyak dari kalangan penikmat memutar dan ikut menyanyikan lagu-lagu tersebut.
Lagu dalam konteks ini seakan menjadi pembius pendengarnya yang kemudian diteruskan ke mana-mana dan diperdengarkan dengan volume suara keras. Hal itu pasti dilakukan dengan sengaja sebagai bentuk dari ”ikut-ikutan” mengikuti alunan lagu yang sedang tren. Contoh kecilnya, siapa yang tidak kenal dengan lagu Rungkad. Jika kita berselancar di dunia maya, khususnya Google, kita bisa mendapati betapa populernya lagu ini karena akan ada banyak suguhan yang terpaut dengan judul lagu tersebut. Tidak hanya dalam tampilan tautan yang terdapat pada YouTube, tapi juga dalam tautan-tautan lainnya.
Nah, di sini saya ingin mencoba memberikan gambaran penting mengenai keberadaan lagu Gai’ Bintang yang merupakan lagu daerah dari Madura. Gambaran tersebut saya kemas dalam bentuk pendidikan yang terkandung dalam lirik lagu tersebut.
Gai’ Bintang
Gai’ bintang ale’ gaggar bulan Pagai’na janor koneng Kaka’ entar (elang) ale’ sajan jau Pajauna ka lon-alon Leya’ letes kembang antes Leya’ letes tocca’ toccer (Gai Bintang Menggalah bintang adik jatuh bulan Menggalahnya janur kuning Kakak pergi (hilang) adik tambah jauh Jauhnya ke alun-alun Leya’ letes kembang antes Leya’ letes tocca' toccer)
Begitu kira-kira terjemahan dari lirik lagu Gai’ Bintang ini. Dalam terjemahan tersebut dapat diperjelas kembali dengan memahami terlebih dahulu mengenai pengertian dalam bahasa Indonesia. Pertama, untuk bisa memberikan pengertian mengenai isi kandungan lirik lagu tersebut harus dicarikan padanan kata dalam bahasa Indonesia yang sesuai dengan kata Madura. Tiap kata dalam lirik lagu di atas harus juga disesuaikan dengan pemaknaannya. Kedua, bisa menggabungkan beberapa kata dalam lirik lagu atau bisa juga dengan menggabungkan kalimat-kalimatnya. Terakhir, kita bisa memberikan sebuah kesimpulan mengenai isi kandungan lagu tersebut.
Saya mencoba akan memberikan secara langsung makna yang terdapat pada isi lagu Gai’ Bintang tersebut. Sepintas isi lirik lagu ini menceritakan mengenai seorang adik yang memiliki keinginan atau satu cita-cita dalam masa depannya kelak dengan berusaha dengan berbagai cara. Salah satu caranya adalah dengan belajar dengan baik agar cita-cita atau keinginannya tersebut dapat dicapai dengan baik. Selain itu, lirik ini juga mengajarkan kepada kita (khususnya pelajar) untuk memiliki polah tingkah atau etika yang baik supaya dapat diterapkan dalam kehidupan nyata, utamanya dalam berkomunikasi dengan orang yang lebih tua.
Seberapa pun tinggi ilmu atau pangkat yang dimiliki seorang adik (orang yang lebih muda) harus tetap menjaga akhlaknya jika sedang berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, meski orang tersebut memiliki kemampuan keilmuan atau pangkat yang lebih rendah dari adiknya atau saudaranya yang lebih muda. Usaha ini yang patut kita ajarkan pada generasi muda saat ini agar mereka mengerti dan paham akan pentingnya bertingkah laku baik di masyarakat.
Jika dilihat perbandingan antara lirik lagu Gai’ Bintang dengan tuntunan agama kita (Islam) sangat erat kaitannya. Hal tersebut sangat berkenaan dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia ini, yaitu semata-mata untuk memperbaiki etika manusia. Konteks kajian ini memang searah dengan lirik lagu tersebut yang menyatakan ”kaka’ entar ale’ sajan jau, pajauna ka lon-alon”. Selanjutnya memang tidak dibenarkan dalam tingkah laku orang Madura jika orang yang lebih tua menunggu orang yang lebih muda meski tingkat pendidikan atau kedudukannya lebih tinggi.
Etika (dalam keseharian orang Madura) sangat diperhatikan dengan baik. Tidak hanya dalam berperilaku, tetapi juga dalam berbicara. Nah, ini pentingnya pengajaran mengenai aturan atau moral dalam kehidupan orang Madura harusnya terus ditumbuhkembangkan untuk generasi muda. Perlu juga kiranya tetap mempertahankan hal-hal baik yang menjadi kebiasaan orang-orang di Madura agar menjadi teladan dan kebiasaan sebagai cerminan dari perilaku orang Madura itu sendiri.
Akhlak ini sebenarnya merupakan sebuah gambaran dari keilmuan yang dimiliki oleh seseorang. Maka, tidak salah jika kita juga merujuk pada pepatah batang padi. Jika padi berisi sangat padat, dapat dipastikan akan merunduk. Begitu pun sebaliknya, jika bulir padi yang ada di sawah tidak berisi alias kosong, akan tetap berdiri tegak.
Dalam mempertahankan jati diri, orang Madura tidak bisa hanya mengandalkan dunia sekolah, namun juga harus lebih banyak diimbangi dengan situasi dan kondisi serta tata aturan yang ada di masyarakat. Hal ini sebagai bentuk dari asumsi masih ada dan tidak pernah akan hilang kebudayaan, tradisi, dan kekayaan yang ada di Madura. Justru dengan adanya pertahanan tersebut, akan menjadi simbol kedaerahan yang juga masih merupakan bagian dari negara Indonesia. (*)
*)Pengajar di SMAN 1 Bluto, Sumenep Editor : Abdul Basri