Oleh DICKY ANDRIYANTO
KEGIATAN pulang kampung menjelang Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran yang dikenal istilah mudik menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia. Agenda tahunan tersebut hanya terjadi di Indonesia sehingga menjadi suatu keunikan yang tidak akan ditemukan di negara lain. Banyak masyarakat perantauan memanfaatkan momentum Lebaran sebagai sarana mobilisasi ke kampung halaman untuk bersilaturahmi dengan keluarga tercinta. Acara Lebaran memiliki beberapa keutamaan yang bisa digali dari berbagai sudut pandang, meliputi segi religiusitas, segi sosial, dan segi ekonomi. Dari segi agama dapat kita lihat dengan jelas bagaimana Lebaran menjadi suatu peringatan yang diyakini oleh masyarakat bila segala kesalahan mereka akan melebur dengan saling memaafkan dan kembali fitri, sehingga patut dirayakan dalam wujud silaturahmi. Dari segi sosial tidak berbeda jauh dengan poin religiusitas, yaitu perayaan Lebaran mampu memperkokoh rasa persatuan antar individu dalam suasana silaturahmi.
Tidak kalah menarik adalah bila Lebaran ternyata mampu membangkitkan perekonomian kampung halaman dan perputaran uang terjadi sangat besar. Jika selama ini wilayah kota menjadi tempat perputaran uang paling signifikan setiap hari dinilai wajar, karena segala aktivitas perekonomian lebih besar terjadi di perkotaan. Namun, pada perayaan Lebaran, perputaran uang justru lebih besar di kampung halaman yang menandakan bahwa terjadi pemerataan persebaran uang di setiap wilayah di Indonesia. Dengan kata lain, perputaran ekonomi terjadi lebih besar di lingkup kampung atau wilayah pedesaan.
Pada 2023, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melakukan kajian tentang perputaran ekonomi masyarakat selama Lebaran 2023 dan memperoleh hasil bila proyeksi perputaran ekonomi mencapai Rp 335,3 triliun. Angka-angka tersebut belum termasuk kedatangan para tenaga kerja Indonesia (TKI) dari berbagai negara dengan membawa uang jauh lebih besar karena nilai yang dibawa dalam bentuk valuta asing (valas) dan diperkirakan memiliki nilai tukar yang besar jika sudah dalam bentuk rupiah. Jumlah yang sangat signifikan ditunjukkan pula pada survei dari Kementerian Perhubungan bahwa terjadi lonjakan masyarakat yang mudik dari 123,8 juta orang pada 2023 menjadi 193,6 juta orang di 2024, sehingga lonjakan tersebut juga menandakan akan terjadi redistribusi dan peningkatan perputaran uang di kampung halaman yang dibawa pemudik menuju kampung halaman.
Data di atas menegaskan bila mudik memiliki peranan penting untuk memeratakan dan meningkatkan perekonomian di kampung halaman secara maksimal. Secara eksplisit saja dapat kita lihat dari contoh budaya uang Lebaran, saat masyarakat yang kembali dari perantauan membagi-bagikan sebagian perolehan pendapatan mereka untuk sanak saudara di kampung, secara tidak langsung terjadi peredaran uang. Fenomena tersebut dapat dinilai bermanfaat karena tingkat perputaran uang dalam suatu daerah menandakan terdapat aktivitas ekonomi dan semakin cepat perputarannya, maka semakin aktif kegiatan ekonomi di dalamnya. Hal tersebut secara tidak langsung juga berdampak pada peningkatan kesejahteraan warga kampung yang cenderung mengalami ketimpangan pendapatan. Fakta di atas dapat dimaknai bahwa tradisi mudik sekali lagi dapat membawa berkah bagi kampung halaman pemudik karena menciptakan redistribusi uang, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sehingga tidak terlalu bergantung pada dana transfer daerah, dan mendorong produktivitas bagi masyarakat kampung.
Melihat potensi mudik dari kacamata ekonomi yang berdampak positif bagi redistribusi pendapatan, maka tradisi tersebut perlu mendapat perhatian dari pemerintah selaku pemangku kebijakan. Pertama, pemerintah melalui Kementerian Tenaga Kerja bersama pemangku kepentingan lainnya perlu membuat skema pemberian penghargaan atas kinerja karyawan secara proporsional dengan tetap memperhatikan porsi pendapatan tempat bekerja. Hal ini secara tidak langsung menjadi stimulus bagi karyawan untuk tetap loyal dan maksimal dalam bekerja. Kedua, pembenahan infrastruktur perlu digenjot di seluruh daerah untuk memfasilitasi pemudik yang pulang ke kampung halaman, seperti pembenahan jalan raya dan jembatan. Secara logis, pemudik menginginkan untuk bisa pulang dengan aman dan nyaman, maka pembenahan infrastruktur penunjang perlu disiapkan secepatnya. Ketiga, penyediaan angkutan mudik gratis yang selalu dilaksanakan nyatanya membawa dampak signifikan terhadap pemudik, yaitu mereka tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi dan lebih mempergunakan pendapatannya untuk dibagikan kepada sanak saudara di kampung halaman. Maka, inisiatif untuk memfasilitasi pemudik melalui program gratis mudik perlu ditingkatkan dan dipermudah aksesnya.
Secara keseluruhan, kegiatan mudik sebagai alat untuk redistribusi atau pemerataan pendapatan tidak hanya bermanfaat dari segi ekonomi, namun dari segi sosial memiliki peranan tidak kalah besar bagi masyarakat di wilayah kampung/desa. Dari sisi sosial dapat kita amati apabila perputaran uang di kampung sudah cukup besar karena aktivitas mudik, maka masyarakat kampung tidak perlu susah payah untuk mengadu nasib di perkotaan atau biasa dikenal dengan istilah urbanisasi. Akan tetapi, mereka bisa memanfaatkan perputaran uang untuk meningkatkan perekonomian pada saat sebelum dan pasca kegiatan mudik. Sebagai contoh keberangkatan pemudik ke tempat kerja disertai dengan membawa buah tangan, maka masyarakat kampung bisa membuat semacam industri rumah tangga untuk menjual produk mereka kepada pemudik yang akan pulang ke perkotaan.
Semoga mudik 2024 diberikan keselamatan dan memberikan dampak positif terutama pada sisi ekonomi untuk wilayah yang menjadi tujuan mudik. (*)
*)Mahasiswa Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti