
Oleh Ach. Zaini Dahlan
TIDAK terasa bulan Puasa Ramadan sudah memasuki episode terakhir, sisa beberapa hari lagi bulan suci Ramadan ini akan pergi. Puasa tahun ini mungkin adalah salah satu puasa terberat untuk dijalani, bukan karena cuaca panas, melainkan karena godaan notifikasi dari akun media sosial yang tak kunjung berhenti. Godaan ini makin lengkap karena kita dengan sadar masih menjadi WNI.. Bhaaaa.
Data menunjukkan bahwa penggunaan media sosial di Bulan Ramadan justru mengalami kenaikan yang signifikan daripada bulan-bulan biasa. Hal ini justru menjadi paradoks yang ironis, di saat mulut berhenti mengunyah, tapi tangan dan pikiran tak berhenti menghujat di kolom komentar terkait banyak hal, mulai hal yang remeh-temeh, sampai hal yang serius.
Seolah-olah tidak bisa mengontrol jari untuk tidak memberikan komentar bahkan hujatan. Di samping itu, flexing amal dan pamer kemewahan menu berbuka dan sahur sudah bukan hal yang tabu, melainkan hal yang normal dan wajar dipamerkan di jejaring sosial tanpa memedulikan efeknya untuk orang lain.
Lantas, jika esensi puasa adalah pengendalian diri, maka membiarkan jemari “liar” dan flexing amal di media sosial adalah salah satu bentuk keboncosan amal dan spiritual yang nyata. Sudah saatnya bertanya, apakah kita sedang berpuasa atau hanya sekadar memindahkan jam operasional dosa ke ranah digital atau media sosial.
Menurut We Are Social, rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu sekitar 3 jam 11 menit per hari menggunakan media sosial. Maka dari itu, perlu diredam dan direm penggunaan media sosial, salah satunya adalah, dengan menerapkan digital fasting.
Digital fasting bukan berarti harus mematikan internet atau tidak menggunakan media sosial sama sekali, melainkan mengendalikan etika digital agar tidak mencederai esensi dari spiritual puasa. Digital fasting mengajarkan kita untuk mengerem jari memberikan komentar yang kurang layak, menghindari diri dari menghujat dan membuat konten yang akan mengurangi pahala selama bulan Ramadan ini.
Baca Juga: Puasa dan Krisis Inovasi Kepemimpinan
Fenomena ini bukan sekadar kegelisahan moralitas belaka, melainkan terpampang nyata dalam angka-angka digital. Jika menilik data dari We Are Social di atas, maka perlu dikoreksi lagi durasi berselancar di media sosial yang melonjak secara signifikan selama bulan Ramadan, terutama pada jam-jam krusial seperti saat sahur dan menjelang berbuka. Lonjakan traffic ini sayangnya tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas spiritual.
Alih-alih menjadi ruang tadarus digital, lini masa kita justru sering kali dibanjiri oleh kontradiksi: dari pamer menu buka puasa yang kontras dengan semangat kesederhanaan, hingga hoaks dan ujaran kebencian yang tetap subur di sela-sela waktu menunggu beduk. Realitas ini menunjukkan adanya 'kebocoran' kontrol diri yang membuat puasa terjebak dalam ritual fisik, sementara etika digital masih tertinggal jauh di belakang. Lalu, bagaimana kita bisa menerapkan digital fasting dalam kehidupan selama bulan Ramadan ini?
Kurasi Konten
Saat berselancar di dunia maya, tentu banyak sekali konten-konten yang bertebaran, baik konten yang bersifat edukatif maupun yang bersifat hiburan hingga yang abnormal. Salah satu cara meredam jari terjerumus pada hal-hal yang mengurangi pahala kita, kita harus rajin dan disiplin menyaring konten yang sekiranya bermanfaat, hindari konten yang pro-kontra, provokatif dan konten-konten yang membuat jari gatal untuk tidak berkomentar.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




