Moh. Ainorrosi*
Seperti pohon beringin, pesantren berakar kuat pada tradisi namun menjulang tinggi menjawab perubahan. Usianya yang matang justru menjadi jaminan ketahanan menghadapi gelombang zaman.
Pesantren tidak sekadar mengajar agama, tetapi juga membentuk karakter, menumbuhkan kesadaran kebangsaan, dan mendorong perubahan sosial.
Para santri dengan sorban dan sarungnya adalah bukti nyata bahwa warisan budaya dan tuntutan zaman dapat berpadu indah.
Mereka tidak terasing dari kemajuan, melainkan menjadi bagian dari gerak perubahan yang tetap berpijak pada nilai-nilai luhur.
Pendidikan di pesantren memiliki karakteristik yang khas dan berbeda dengan sistem pendidikan formal pada umumnya.
Sistem asrama atau pondok mengharuskan santri untuk tinggal dan berinteraksi dalam satu lingkungan selama dua puluh empat jam.
Kondisi ini menciptakan ruang pembelajaran yang holistik, di mana pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman hidup sehari-hari.
Proses pembelajaran di pesantren mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara simultan.
Dari sistem itulah lahir keunggulan utama pesantren, yaitu kemampuannya dalam membentuk karakter santri.
Disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan kejujuran adalah nilai-nilai yang tertanam melalui pembiasaan yang konsisten. Kegiatan rutin seperti salat berjamaah, mengaji kitab kuning, kerja bakti, dan kegiatan sosial lainnya bukan sekadar ritual, melainkan media pendidikan karakter yang efektif.
Santri belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi dan bahwa integritas adalah fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat.
Pembentukan karakter individu di pesantren selalu imbangi dengan penguatan nilai kebersamaan. Nilai kebersamaan di pesantren sangat kuat.
Sistem kehidupan kolektif mengajarkan santri saling menghargai, membantu, dan mengutamakan kepentingan bersama.
Kesederhanaan hidup di pesantren melahirkan kekayaan batin yang tak ternilai, di tengah masyarakat modern yang cenderung individualistis. Pesantren juga menjadi cermin keberagaman Indonesia.
Santri dari berbagai suku, budaya, dan ekonomi belajar menerima perbedaan sebagai kekuatan.
Sikap toleran dan inklusif ini menjadi modal sosial bagi kerukunan nasional, sejalan dengan Bhinneka Tunggal Ika.
Selain kebersamaan, ada kebiasaan lain yang tak kalah penting, yakni diskusi dan dialog.
Diskusi dan dialog di pesantren juga menarik untuk dikaji. Para santri umumnya lumrah membahas isu-isu keagamaan maupun sosial-politik secara kondusif.
Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga aktif dalam musyawarah dan debat yang mengasah nalar kritis.
Kemampuan ini membuat santri tidak mudah terpengaruh informasi abal-abal. Di era disrupsi informasi, sikap kritis seperti ini menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan.
Sikap kritis dan semangat kebangsaan yang diasah di pesantren sebenarnya sudah terlihat jauh sebelum Indonesia merdeka. Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran aktif para kiai dan santri. Kontribusi mereka nyata, baik dalam perlawanan fisik maupun gerakan moral yang membangkitkan semangat kebangsaan.
Pesantren menjadi basis perlawanan dan pusat pengaderan perjuangan, dengan kiai sebagai pemimpin spiritual sekaligus gerakan.
Salah satu buktinya adalah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang memicu perlawanan heroik di Surabaya, yang kini kita kenang sebagai Hari Pahlawan.
Fatwa jihad para ulama saat itu membangkitkan semangat juang rakyat secara masif. Ini menunjukkan bahwa pesantren tidak pernah netral menghadapi penjajahan, melainkan selalu di garda terdepan.
Peran santri dalam sejarah tidak berhenti di medan perang. Mereka juga turun langsung dengan perlengkapan sederhana, didorong keyakinan agama dan nasionalisme. Banyak gugur sebagai syuhada, membuktikan perjuangan mereka untuk bangsa.
Kiai dan santri juga berperan dalam diplomasi dan perumusan Pancasila di BPUPKI dan PPKI, membuktikan kapasitas intelektual pesantren di bidang agama dan kenegaraan. Warisan sejarah ini penting bagi generasi kini. Peran mereka tak boleh hanya seremonial.
Santri masa kini meneruskan perjuangan dengan berkontribusi produktif membangun bangsa, mengisi kemerdekaan dengan prestasi dan karya nyata.
Kini tantangan yang dihadapi santri memang berbeda, tapi tidak kalah beratnya. Indonesia memasuki fase kritis menuju 2045.
Visi Indonesia Emas menuntut SDM unggul dan berkarakter. Santri punya posisi strategis, namun tantangan berat menanti.
Revolusi industri telah mengubah dunia kerja, sehingga santri tak cukup hanya mengandalkan ilmu agama.
Pesantren pun bertransformasi dengan kurikulum yang mengintegrasikan agama, teknologi, dan kewirausahaan.
Di sisi lain, integritas dan moralitas tinggi yang ditanamkan pesantren menjadikan santri agen perubahan di tengah krisis kepercayaan bangsa.
Visi Indonesia Emas 2045 akan sulit tercapai tanpa keterlibatan aktif santri. Jumlah santri yang besar, jika dikelola dengan baik, merupakan bonus demografi yang sangat berharga. Mereka adalah generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak.
Kombinasi antara kapasitas intelektual dan integritas moral inilah yang akan menjadi fondasi bagi kemajuan bangsa.
Namun, potensi ini hanya akan terwujud jika pesantren mendapatkan perhatian dan dukungan yang memadai dalam pengembangan kapasitasnya.
Ada pesan lama yang tidak asing didengar, "Ilmu tanpa amal bagai pohon tanpa buah." Artinya, ilmu dan amal adalah dua hal yang tak terpisahkan, sebagaimana ‘sorban dan sarung' yang menyatu dalam keseharian santri.
Jika generasi santri terus menghidupkan nilai ini, Indonesia tidak hanya menjadi negara maju, tetapi juga menjaga keseimbangan antara kecerdasan dan moralitas.
Sebab, kemajuan sejati adalah ketika kita mampu melangkah ke depan tanpa melupakan dari mana kita berasal.
Pesantren, dengan segala kesederhanaannya, telah mengajarkan kebijaksanaan itu sejak lama. Wallahu a'lam.(*)
*Mahasiswa Pascasarjana Universitas Annuqayah dan Alumni PPA. Lubangsa Selatan
Editor : Amin Basiri