Yang Didapat, Berasal Dari yang Diberi

Amin Basiri • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 13:36 WIB
Bahrul Ulum
Bahrul Ulum

Oleh: Bahrul Ulum

Ada hukum kehidupan yang tak pernah tertulis di atas batu, tetapi selalu terbukti dalam perjalanan waktu. Apa yang kau suarakan, akan kembali menggema kepadamu. 

Apa yang kau tanam, akan tumbuh di ladang kehidupanmu. Apa yang kau berikan kepada dunia, pada akhirnya akan menemukan jalan pulang.

 Mungkin tidak hari ini. Mungkin bukan besok. Bahkan mungkin bukan dari orang yang sama. Namun kehidupan tidak pernah lupa mencatat setiap ketulusan.

Jangan takut menjadi orang yang lebih dulu berbuat baik di tengah dunia yang sibuk menghitung untung dan rugi.

Sebab kebaikan bukan transaksi yang menuntut balasan seketika. Ia adalah benih yang ditanam dalam diam, lalu tumbuh tanpa banyak suara hingga suatu hari menghadiahkan pohon yang menaungi kehidupan.

 Saat engkau memberi senyuman kepada seseorang yang sedang rapuh, bisa jadi engkau sedang menyelamatkan harinya.

Saat engkau mengulurkan tangan kepada mereka yang terjatuh, sesungguhnya engkau sedang membangun jembatan bagi langkahmu sendiri. 

Saat engkau mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya, mungkin pada saat yang sama langit sedang menuliskan doa-doa terbaik untukmu. Begitulah hidup bekerja. 

Ia tidak selalu membalas dengan cara yang sama, tetapi selalu membalas dengan cara yang paling bermakna.

Jangan iri kepada mereka yang memanen keberhasilan. Bisa jadi engkau hanya melihat musim panennya, tetapi tidak pernah menyaksikan musim panjang ketika ia menanam, menyiram, menjaga, bahkan menangis dalam kesunyian.

Karena tidak ada panen tanpa benih. Tidak ada penghormatan tanpa menghormati.

Tidak ada kepercayaan tanpa kejujuran. Tidak ada cinta tanpa terlebih dahulu belajar mencintai.

Sering kali kita memohon agar hidup memperlakukan kita dengan lembut, sementara tangan kita masih mudah menyakiti. Kita berharap dipahami, tetapi enggan mendengar. 

Kita ingin dihargai, tetapi masih pelit menghargai. Kita ingin dunia menghadirkan keajaiban, padahal kita sendiri belum menjadi keajaiban bagi orang lain.

Lalu kita bertanya mengapa hidup terasa begitu berat. Padahal kehidupan hanyalah cermin yang jujur. Ia memantulkan apa yang kita pancarkan.

 Jika hatimu penuh kasih, dunia akan mempertemukanmu dengan kasih. Jika langkahmu dipenuhi manfaat, kehidupan akan membuka jalan yang tak pernah kau sangka.

Jika niatmu tulus, Tuhan mampu menghadirkan pertolongan melalui pintu-pintu yang tak pernah terlintas dalam pikiranmu.

Maka jangan pernah lelah memberi. Memberilah meski tak semua orang mengingatnya.

Berbuat baiklah meski tak semua orang menghargainya. Memaafkanlah meski tak semua orang menyadari kesalahannya.

Sebab yang membuat kebaikan menjadi mulia bukanlah tepuk tangan manusia, melainkan keikhlasan yang hanya diketahui oleh Tuhan. 

Pada akhirnya, usia akan selesai. Jabatan akan berganti. Harta akan berpindah tangan. Nama besar perlahan akan memudar ditelan zaman.

Namun satu hal akan tetap hidup, bahkan ketika kita telah tiada: jejak kebaikan yang pernah kita tinggalkan di hati manusia. 

Karena sesungguhnya manusia tidak dikenang oleh apa yang dimilikinya, melainkan oleh apa yang telah diberikannya.

 Maka, jika engkau ingin hidupmu dipenuhi cinta, tebarkan cinta. Jika engkau ingin menuai penghormatan, hormatilah sesama. Jika engkau ingin menerima kebaikan, jadilah sumber kebaikan.

Sebab pada akhirnya, kehidupan tidak sedang menghitung seberapa banyak yang berhasil kau genggam, tetapi seberapa banyak yang telah kau lepaskan untuk menjadi manfaat bagi orang lain.

Karena apa yang kau dapat, selalu berawal dari apa yang kau berikan. Dan apa yang kau berikan dengan tulus, tak akan pernah hilang.

Ia hanya sedang menunggu waktu untuk kembali, dengan cara yang lebih indah daripada yang pernah kau bayangkan. Ocakna oreng konah ”Se ekaolle asalla dhari se eberri'” (*)

Editor : Amin Basiri
opini catatan