
Oleh Moh. Riski Kohar
Apa gunanya makanan bergizi jika setelah menyantapnya anak-anak justru harus dilarikan ke rumah sakit? Pertanyaan itu terdengar getir. Namun, ketika dugaan keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi, pertanyaan tersebut tidak lagi layak dianggap sebagai sindiran. Ia menjadi pertanyaan serius tentang bagaimana sebuah program yang dirancang untuk menyehatkan generasi justru dapat menghadirkan risiko bagi kesehatan para penerimanya.
Kasus di Sidoarjo menjadi alarm keras. Dugaan keracunan setelah konsumsi MBG di sejumlah satuan pendidikan di Kecamatan Tanggulangin terus bertambah. Per 3 September 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mencatat 730 orang terdampak. Ratusan di antaranya telah mendapatkan penanganan medis.
Pada saat yang hampir bersamaan, dugaan keracunan MBG juga dilaporkan terjadi di Nganjuk. Hingga Kamis, 3 September, sebanyak 33 siswa masih menjalani perawatan. Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya ada anak-anak, orang tua, guru, santri, dan keluarga yang harus menghadapi kecemasan.
Niat Baik Tidak Cukup
Tidak ada yang perlu diperdebatkan dari tujuan dasar MBG. Memberikan makanan bergizi kepada anak-anak merupakan kebijakan yang patut diapresiasi. Pemenuhan gizi dapat berpengaruh terhadap kesehatan, konsentrasi belajar, dan kualitas tumbuh kembang anak.
Namun, kebijakan publik tidak cukup dinilai dari niat baiknya. Ia juga harus dinilai dari proses pelaksanaannya. Makanan yang disebut bergizi tidak otomatis aman. Kandungan protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral menjadi tidak berarti apabila makanan tersebut terkontaminasi atau dikonsumsi setelah melewati batas kelayakan.
Dengan kata lain, gizi tanpa keamanan adalah program yang pincang.
Karena itu, setiap kasus dugaan keracunan harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh. Jangan berhenti pada pertanyaan tentang menu apa yang dikonsumsi. Periksa seluruh rantai prosesnya: mulai dari bahan baku, pengolahan, kebersihan dapur, penyimpanan, pengemasan, distribusi, hingga waktu makanan dikonsumsi.
Sebab, satu titik kelalaian dalam rantai tersebut dapat mengubah makanan yang seharusnya menjadi sumber kesehatan menjadi sumber penyakit.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




