Oleh Muhammad Itsbatun Najih*
Pelaksanaan ritus haji telah rampung. Kita akan menyambut para haji/hajah kembali ke Tanah Air. Sebagai bagian dari tradisi yang sudah lama kita tapaki, kepulangan mereka selalu dinanti dengan aneka hal yang bersifat sakral hingga atributif.
Yakni, tak lain tak bukan mengharap keberkahan doa mereka. Oleh-oleh berhaji lazimnya mewujud air zamzam yang mengandung penuh keberkahan. Ditambah dengan panganan kurma hingga tasbih, jilbab, dan sajadah.
Padahal, oleh-oleh haji sesungguhnya bukan pada hal-hal sedemikian itu. Bukan lagi diartikan dengan membincang diskursus kemabruran dinilai dari perubahan sikap menjadi saleh dan kian rajin ke masjid.
Namun, juga perlunya meluaskan pemaknaan bahwa seorang haji telah menjadi agen perubahan dalam lingkup yang lebih besar, terutama di lingkungan sosial-kemasyarakatan. Semisal, kita sering diriwayatkan tentang oleh-oleh berhaji zaman kolonial. Sepulang berhaji, para haji menjadi awasan khusus tentara Belanda. Berhaji dianggap menjadi ancaman stabilitas keamanan di tanah jajahan. Apa pasal?
Para haji ternyata membawa oleh-oleh berupa pencerahan akan anti-penjajahan. Membawa imaji tentang persatuan. Berikhtiar menggerakkan para bumiputra bangkit melawan penindasan.
Pemikiran ini menjadi wajar kala mereka telah berjumpa dengan para haji dari seluruh dunia. Mereka bertukar cerita, berkeluh kesah, sekaligus menekadkan diri untuk segera lepas dari kungkungan kolonialisme secara bersama. Kala itu memang berkembang pesat paham macam Pan Arabisme yang berkonklusi mewujudkan persatuan atau nasionalisme.
Benar saja, di beberapa daerah seperti di Banten tercatat, para haji langsung tancap gas. Memobilisasi massa melakukan perlawanan meski dengan skala kecil dan temporal. Hikayat ini sayangnya terkesan tersingkirkan dari narasi besar sejarah pergerakan Indonesia yang lebih banyak mencatatkan bahwa gerakan persatuan hanya didominasi para cendekiawan yang bersekolah di Barat.
Dalam zaman yang berubah ketika Belanda sudah mangkat, oleh-oleh haji terus bergeser menjadi sekadar kebendaan dan personifikasi pada peci haji. Simbol predikat H/Hj yang tersemat dalam nama sering berkelindan untuk tujuan-tujuan yang berpusar pada wibawa dan stratifikasi sosial.
Meskipun tanpa bermaksud mensimplikasikan predikat tersebut dengan asumsi penyematan semacam itu juga sebentuk ikhtiar guna menjaga laku dan tutur dari tindakan tercela alias menjaga roh kemabruran.
Setidaknya ada hal yang juga bisa dijadikan sebagai oleh-oleh haji dengan menegaskan bahwa mereka sebenarnya merupakan agen perubahan dalam konteks kekinian dengan kian memudarnya kebersatuan dalam senyawa kebangsaan, terutama keislaman dalam aras persaudaraan.
Muslim yang mewujud menjadi aneka mazhab dan paham keagamaan mestinya berhikmah bahwa Islam menawarkan seribu jalan pemaknaan, di mana antara satu dengan lain wajib saling menghormati. Ritus haji telah mengajarkan secara leterlek, tetapi kerap alpa disesap para jemaah.
Semenjak di pesawat, tidak sedikit jemaah haji yang berbeda-beda menjalankan tata cara salat. Ada yang tetap salat sebagaimana kondisi normal dan ada yang salat lihurmatil waqti.
Sisi melik ritus haji juga membuhulkan kompleksitas persoalan fikih yang tentunya melahirkan keberbedaan pandangan muslim kala melakoni. Sekali lagi, persoalan-persolan tersebut tak menjadi soal dalam aras penghormatan dan toleransi.
Di Tanah Suci, jemaah Indonesia bertemu dengan jemaah dari pelbagai penjuru dunia. Semuanya melebur dalam tujuan yang sama. Hakulyakin, semua urusan fikih lintas mazhab ditemukan pada gelaran haji.
Toh, yang dijumpai adalah penghormatan untuk tidak menegasikan yang lain. Prinsipnya: ini amalku, itu amalmu. Semua sama-sama salat meski yang satu membaca basmalah, yang satunya tidak.
Baik Sunni maupun Syiah, sama–sama memakai pakaian ihram mengelilingi Kakbah. Tak ada sinisme di antara mereka karena haji terlarang untuk berbuat semacam itu. Perjumpaan inilah yang idealnya bisa digunakan oleh jemaah haji, terutama Indonesia, sepulang ke Tanah Air agar kian bijak saat menghadapi perbedaan paham keagamaan yang kesannya terus terkoyak akhir-akhir ini.
Bersua dengan jemaah haji lintas etnis, suku, ras, dan warna kulit menjadikan ibadah haji menyimpan mendalam dimensi sosial; untuk tidak menganggap kulit hitam sebagai strata bawah. Sebab, yang menjadi pembeda adalah kualitas takwa.
Sekembali ke Tanah Air, jemaah haji diharapkan mempunyai tepa selira. Dalam konteks keindonesiaan yang majemuk, spirit haji perlu tertanam kuat dengan menegaskan bahwa dirimu atau sang liyan adalah bagian dari diriku. Nuansa seperti ini akan semakin mengaburkan batasan dan sekat untuk tidak merasa paham dan sikap keberagamaankulah yang paling benar. Wallahu a’lam. (*)
*)Alumnus Madrasah Ibtidaul Falah, Kudus
Editor : Amin Basiri