Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kebangkitan Nasional di Tengah Rupiah yang Tertekan

Amin Basiri • Minggu, 24 Mei 2026 | 09:50 WIB
Rupiah melemah
Rupiah melemah

Oleh FADALI RAHMAN*

SETIAP 20 Mei, bangsa ini memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebagai penanda lahirnya kesadaran kolektif untuk bangkit dari keterbelakangan dan penjajahan.

Momentum ini bukan sekadar romantisme sejarah atas berdirinya organisasi modern pertama, tetapi juga refleksi atas kemampuan bangsa dalam merespons tantangan zaman. 

Namun, di tengah peringatan yang sarat makna tersebut, realitas ekonomi hari ini menghadirkan ironi: nilai tukar rupiah yang tertekan menjadi sinyal bahwa kebangkitan nasional belum sepenuhnya terwujud dalam fondasi ekonomi yang kokoh.

Pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan angka di layar pasar keuangan. Ia mencerminkan kerentanan struktural dalam perekonomian nasional, mulai dari ketergantungan terhadap impor, lemahnya basis industri, hingga fluktuasi aliran modal asing.

Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian dipicu oleh tensi geopolitik, kenaikan suku bunga global, dan perlambatan ekonomi dunia posisi rupiah menjadi semakin rentan. 

Kondisi ini menempatkan Indonesia pada persimpangan penting: apakah kita mampu menjadikan tekanan ini sebagai momentum kebangkitan, atau justru terjebak dalam siklus ketergantungan yang berulang?

Sejarah kebangkitan nasional mengajarkan bahwa perubahan besar tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari tekanan.

Berdirinya Boedi Oetomo pada 1908 bukanlah respons terhadap situasi ideal, melainkan reaksi terhadap ketertinggalan dan ketidakadilan. 

Semangat itulah yang seharusnya dihidupkan kembali hari ini bahwa tekanan terhadap rupiah harus dibaca sebagai panggilan untuk memperkuat kemandirian ekonomi, bukan sekadar ancaman yang ditakuti.

Kemandirian ekonomi menjadi kata kunci dalam memaknai kebangkitan nasional di era modern.

Ketika rupiah melemah, biaya impor meningkat, daya beli masyarakat tergerus, dan sektor produksi dalam negeri menghadapi tekanan berlapis. 

Namun di sisi lain, kondisi ini juga membuka peluang bagi penguatan produk lokal dan substitusi impor. 

Pertanyaannya adalah, apakah kita memiliki kesiapan struktural untuk memanfaatkan peluang tersebut?

Sayangnya, realitas menunjukkan bahwa transformasi ekonomi Indonesia masih berjalan setengah hati.

Sektor industri manufaktur belum sepenuhnya menjadi tulang punggung ekonomi, sementara ketergantungan pada komoditas mentah masih tinggi. 

Dalam situasi seperti ini, pelemahan rupiah justru memperbesar risiko ketidakstabilan, bukan memperkuat daya saing. 

Di sinilah pentingnya peran negara dalam merumuskan kebijakan yang tidak hanya reaktif, tetapi juga strategis dan berjangka panjang.

Kebijakan stabilisasi nilai tukar tentu penting, tetapi tidak cukup. Yang lebih mendesak adalah membangun fondasi ekonomi yang tahan guncangan.

Ini mencakup penguatan sektor industri berbasis nilai tambah, investasi pada sumber daya manusia, serta pengembangan teknologi dan inovasi. 

Tanpa langkah-langkah tersebut, kebangkitan nasional hanya akan menjadi slogan yang kehilangan relevansinya di tengah dinamika global.

Di sisi lain, peran masyarakat juga tidak kalah penting. Kebangkitan nasional bukanlah proyek negara semata, melainkan gerakan kolektif yang melibatkan seluruh elemen bangsa.

Dalam konteks ekonomi, hal ini dapat diwujudkan melalui peningkatan literasi keuangan, dukungan terhadap produk lokal, serta adaptasi terhadap transformasi digital. 

UMKM, misalnya, memiliki potensi besar sebagai motor penggerak ekonomi nasional, tetapi masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari akses pembiayaan hingga keterbatasan teknologi.

Moment Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi titik balik untuk memperkuat sinergi antara negara dan masyarakat dalam menghadapi tantangan ekonomi.

Pelemahan rupiah harus dilihat sebagai peringatan bahwa ketahanan ekonomi tidak bisa dibangun secara instan. Ia membutuhkan konsistensi, keberanian, dan visi jangka panjang.

Lebih dari itu, kebangkitan nasional di era kini juga menuntut redefinisi makna nasionalisme.

Nasionalisme tidak lagi cukup dimaknai sebagai simbol atau retorika, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memperkuat kedaulatan ekonomi. Mengurangi ketergantungan pada impor, meningkatkan produktivitas dalam negeri, dan membangun ekosistem ekonomi yang inklusif adalah bentuk-bentuk konkret dari nasionalisme modern.

Tekanan terhadap rupiah seharusnya tidak mematahkan semangat, tetapi menguji sejauh mana bangsa ini benar-benar telah bangkit.

 Sejarah telah menunjukkan bahwa Indonesia mampu melewati berbagai krisis, dari masa penjajahan hingga krisis ekonomi.

Tantangan hari ini mungkin berbeda bentuk, tetapi esensinya tetap sama: bagaimana membangun kemandirian dan ketahanan sebagai fondasi kebangkitan.

Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar peringatan masa lalu, melainkan ajakan untuk bertindak di masa kini.

Di tengah rupiah yang tertekan, kebangkitan nasional menemukan relevansinya yang paling nyata bukan dalam seremoni, tetapi dalam keberanian untuk berbenah dan melangkah menuju ekonomi yang lebih kuat, mandiri, dan berdaya saing. (*)

*)Dosen Magister Manajemen, Universitas Madura

Editor : Amin Basiri
#hari kebangkitan nasional #ekonomi #rupiah #opini