Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Jejak Sang Guru dalam Cahaya Peradaban: Mengenang Moh. Masyhur Abadi dan Warisan yang Tak Pernah Padam

Hendriyanto • Jumat, 22 Mei 2026 | 16:19 WIB
Dosen UIN Madura almarhum Moh. Masyhur Abadi semasa hidup.
Dosen UIN Madura almarhum Moh. Masyhur Abadi semasa hidup.

Oleh: Achmad Muhlis

ADA manusia-manusia tertentu yang kehadirannya dalam hidup tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga mengubah arah perjalanan batin dan cara seseorang memandang kehidupan. Kehilangan sosok seperti itu bukan sekadar kehilangan figur akademik, melainkan kehilangan sumber cahaya intelektual yang selama ini diam-diam menerangi jalan berpikir banyak orang.

Wafatnya Moh. Masyhur Abadi menghadirkan kesedihan yang sangat mendalam, terutama bagi saya pribadi, Achmad Muhlis, yang selama ini menjadikan beliau bukan hanya sebagai guru, tetapi juga sebagai inspirasi intelektual, teladan moral, dan penuntun dalam perjalanan akademik maupun pengembangan peradaban pendidikan.
Sulit menggambarkan dengan kata-kata tentang keluasan ilmu yang beliau miliki.

Dalam setiap percakapan dengannya, selalu ada kedalaman makna yang membuat seseorang merasa kecil di hadapan luasnya samudera pengetahuan. Beliau bukan tipe intelektual yang sekadar menguasai teori, tetapi sosok yang hidup bersama ilmu. Cara beliau berbicara tentang ketuhanan, kemanusiaan, pendidikan, hingga peradaban memperlihatkan bahwa ilmu baginya bukan sekadar objek akademik, melainkan jalan spiritual untuk memahami kehidupan.

Ratusan buku tentang ketuhanan, filsafat, spiritualitas, dan pemikiran Islam yang beliau terjemahkan dari bahasa Arab maupun bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia merupakan bentuk pengabdian intelektual yang sangat luar biasa. Dalam perspektif sosiologi pengetahuan, penerjemahan ilmu bukan hanya aktivitas linguistik, tetapi proses transformasi kesadaran budaya. Melalui karya-karya terjemahannya, beliau membuka akses pengetahuan bagi masyarakat Indonesia untuk memasuki ruang-ruang pemikiran global yang sebelumnya sulit dijangkau.

Beliau sesungguhnya memainkan peran penting sebagai penjaga tradisi intelektual. Di tengah dunia modern yang semakin pragmatis dan serba instan, beliau tetap setia menjaga budaya membaca, berpikir mendalam, dan berdiskusi secara substansial. Banyak orang hari ini sibuk mengejar popularitas intelektual, tetapi sedikit yang benar-benar membangun fondasi ilmu pengetahuan secara serius dan sunyi. Moh. Masyhur Abadi termasuk dalam kelompok kecil manusia yang memilih jalan sunyi itu: membaca tanpa lelah, menerjemahkan tanpa pamrih, dan menyebarkan ilmu tanpa mencari pujian.

Bagi saya pribadi, beliau memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perjalanan akademik saya. Saya masih mengingat dengan jelas bagaimana suatu masa saya pernah kehilangan arah dalam penulisan disertasi. Ada fase ketika pikiran terasa buntu, argumentasi terasa tidak menemukan bentuk, dan perjalanan akademik seperti kehilangan cahaya. Dalam kondisi itulah saya bertemu dengan beliau dan berdiskusi panjang lebar. Percakapan tersebut bukan hanya memberi solusi metodologis, tetapi juga membangkitkan kembali keberanian berpikir dan keyakinan intelektual saya.

Seorang guru sejati memang tidak hanya memberi jawaban, tetapi memulihkan kepercayaan diri intelektual muridnya. Moh. Masyhur Abadi memiliki kemampuan langka itu. Beliau mampu membuat seseorang merasa bahwa ilmu adalah ruang yang luas dan selalu memungkinkan untuk dijelajahi kembali. Setelah diskusi panjang tersebut, perlahan saya menemukan kembali arah penulisan disertasi hingga akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Dari sana saya memahami bahwa kehadiran seorang guru yang visioner sering kali menjadi titik balik dalam perjalanan intelektual seseorang.

Beliau juga menjadi salah satu inspirasi penting dalam pengembangan IBS PKMKK, terutama dalam gagasan integrasi antara sains, teknologi, dan agama. Banyak masukan beliau yang secara langsung maupun tidak langsung membentuk arah pengembangan pendidikan di lingkungan IBS PKMKK. Beliau sering memberikan buku-buku untuk saya baca, lalu mendiskusikannya secara mendalam. Diskusi-diskusi itu bukan sekadar percakapan akademik biasa, tetapi proses pembentukan cara pandang tentang bagaimana pendidikan Islam harus bergerak menghadapi tantangan zaman.

Gagasan integrasi sains, teknologi, dan agama merupakan respon penting terhadap krisis dualisme pendidikan modern. Selama bertahun-tahun, ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum sering dipisahkan secara dikotomis sehingga melahirkan ketimpangan kesadaran. Beliau memahami bahwa peradaban Islam tidak akan bangkit hanya dengan romantisme masa lalu, tetapi dengan membangun sintesis baru antara spiritualitas, intelektualitas, dan teknologi modern.

Dari banyak percakapan dan refleksi bersama beliau, akhirnya lahirlah buku yang saya tulis berjudul “Kurikulum Al-Muwahhid, Menyemai Tuhan, Merajut Peradaban.” Buku tersebut sesungguhnya bukan hanya hasil pemikiran individual, tetapi juga jejak panjang dialog intelektual dengan beliau. Gagasan tentang pendidikan yang mengintegrasikan nilai ketuhanan dengan pembangunan peradaban modern banyak terinspirasi dari keluasan wawasan dan kedalaman refleksi beliau.

Inspirasi intelektual seperti ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap pembentukan kreativitas akademik. Banyak karya besar lahir bukan hanya karena kecerdasan individu, tetapi karena perjumpaan dengan figur guru yang mampu menyalakan kesadaran berpikir. Moh. Masyhur Abadi adalah salah satu sosok yang menyalakan kesadaran itu dalam diri banyak muridnya.

Keluarga besar UIN Madura dan IBS PKMKK benar-benar merasa kehilangan sosok pemikir, penggagas tradisi keilmuan, sekaligus penjaga ruh intelektual yang selama ini menjadi sumber inspirasi bersama. Kehilangan beliau bukan hanya kehilangan individu, tetapi kehilangan energi intelektual yang selama ini menghidupkan budaya berpikir, membaca, dan berdialog secara mendalam.

Namun sesungguhnya, manusia berilmu tidak pernah benar-benar pergi. Tubuhnya mungkin telah kembali kepada tanah, tetapi gagasannya tetap hidup dalam kesadaran murid-muridnya, dalam buku-buku yang diwariskannya, dan dalam tradisi ilmu yang terus berkembang. Dalam tradisi Islam, ilmu yang bermanfaat adalah amal jariyah yang tidak akan pernah terputus. Dan barangkali, itulah bentuk keabadian paling indah yang diberikan Tuhan kepada manusia: tetap hidup melalui ilmu dan kebaikan yang diwariskannya kepada generasi berikutnya.

Hari ini, duka itu memang terasa sangat nyata. Tetapi di balik kesedihan tersebut, ada rasa syukur yang mendalam karena pernah dipertemukan dengan seorang guru yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi mengajarkan cara mencintai ilmu. Sosok yang memperlihatkan bahwa intelektualitas sejati harus melahirkan kerendahan hati, kebijaksanaan, dan pengabdian bagi kemanusiaan.

Selamat jalan, guru. Jejak pemikiranmu akan terus hidup dalam ruang-ruang pendidikan, dalam lembar-lembar buku, dalam perjalanan akademik murid-muridmu, dan dalam cita-cita besar membangun peradaban ilmu yang memadukan ketuhanan, sains, dan kemanusiaan. Semoga seluruh ilmu, gagasan, terjemahan, dan inspirasi yang engkau wariskan menjadi amal jariyah yang terus mengalir tanpa henti di sisi Allah SWT. (*)

Editor : Hendriyanto
#achmad muhlis #guru #UIN Madura #buku #dosen