Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

‎Plastik dan Warung Madura

Amin Basiri • Minggu, 10 Mei 2026 | 17:13 WIB
Helmy Khan
Helmy Khan

 

Oleh HELMY KHAN*

BEBERAPA waktu lalu di tengah isu kenaikan harga BBM yang ditengarai akan melonjak pada awal April, justru ada yang berbeda dari dugaan-dugaan itu.

Di tengah memanasnya perang di Timur Tengah, jurus halimun pemerintah RI berhasil menstabilkan harga BBM meski beberapa negara tetangga lainnya kompak menaikkan harga dari nilai pasaran semula. Namun, keberhasilan di atas tidak serta-merta tak menimbulkan risiko. Ada sisi ekonomi lain yang terdampak, yaitu harga plastik.

 Lompatan harga plastik cukup membuat pedagang pening. Sebab, kenaikan tersebut tidak hanya lima atau sepuluh persen, tetapi sampai tiga ratus persen. Lonjakan harga yang tak pernah terbayangkan sebelumnya itu membuat hubungan warung Madura dengan pelanggan sedikit kurang harmonis. Itulah yang saya rasakan selama beberapa hari ini.

Sebagai penunggu warung kelontong Madura, harga plastik membuat diri saya membatin, apa sebenarnya yang menyebabkan gila-gilaan pada harga di atas? Berselang beberapa waktu, akhirnya saya tahu bahwa salah satu penyebabnya dilatarbelakangi oleh naiknya harga Naptha. 

Di beberapa sumber yang saya telusuri disebutkan, sebagai bahan utama pembuatan plastik, harga Naptha yang semula 600 US per ton mengalami kenaikan sampai 900 US per ton. Kenaikan di atas tentu tak lepas dari gangguan pasokan akibat ketegangan politik di Selat Hormuz. Membuat UMKM gigit jari, tak terkecuali warung Madura, pembeli tak segan-segan merespons jutek sewaktu saya tak memberikan kantong plastik.

Saya sempat menghubungi beberapa teman yang juga mengundi nasib sebagai penjaga warung Madura. Ada sebagian dari mereka yang menerapkan pemberian kantong plastik apabila konsumen membeli barang di atas harga lima ribu. Ada pula yang sampai sepuluh ribu.

Sejenak, saya berpikir, itu wajar. Sebab, pengeluaran dana untuk plastik jika tak dibatasi akan memengaruhi pendapatan warung. Bayangkan, harga kantong plastik hitam ukuran 16 yang awalnya sekitar dua ribu lima ratusan kini menyentuh harga empat ribuan per pak.


Jika dalam sehari rata-rata menghabiskan tiga pak untuk membungkus barang konsumen, sudah berapa banyak keuntungan dari barang jualan yang keluar untuk pengadaan kantong plastik tersebut. Tentu ini terkesan sepele. Tapi jika terus dibiarkan, tak hanya pendapatan yang mengalami kebocoran, melainkan simpanan bagi hasil dan tabungan untuk kontrak ruko berikutnya turut serta sulit terpenuhi.

Terlepas dari ketentuan untuk mendapat kantong plastik yang telah disebutkan, saya memiliki trik tersendiri. Terkesan guyon dan saat ini saya masih tidak terlalu memikirkan soal berapa banyak pengeluaran modal untuk kantong plastik di tengah lonjakan harga. ”Tak meminta kantong plastik merupakan upaya menjaga bumi.” Begitu guyonan tulisan yang saya tempel di atas etalase dengan emoji tersenyum.

Upaya Meminimalkan Sampah Plastik

Dampak sampah plastik kini mendapat perhatian khusus. Bukan pada masalah kebersihan lingkungan saja, akan tetapi sampah plastik bisa menjadi bom waktu yang bisa merusak segalanya. Kesadaran terhadap pembatasan penggunaan plastik perlu dimulai dari hal terkecil. Semisal tidak menggunakan kantong plastik untuk barang belanjaan. Penerapan langkah ini mesti digaris dengan satu catatan.

Yaitu, koneksi kesadaran antara pedagang dan konsumen harus seimbang agar interaksi keduanya harmonis. Tidak terjadi sesuatu yang kurang mengenakkan seperti yang saya tulis di atas –mengatai pelit, bertingkah judes, atau sejenisnya.

Di salah satu laporan Tempo, DKI Jakarta sebagai bagian kota terbesar di Indonesia setiap hari memiliki timbunan sampah sebanyak 7.708 ton per hari. Jumlah di atas dibagi 43% untuk jenis limbah organik dan 35% untuk sampah plastik dan PolyEthylene Terephthalate (PET) atau plastik yang dapat didaur ulang. Sampah yang diangkut dari berbagai penjuru DKI itu menyesaki TPA Bantar Gebang yang beroperasi sejak 1989.

Sejak di bangku sekolah, bahaya sampah plastik pada lingkungan sudah dicekoki kepada peserta didik. Di ruang lainnya berbagai sosialisasi digelar, poster bahaya sampah plastik mendiami pojok-pojok ruang betapa berbahayanya sampah plastik.

 Akan tetapi, sepertinya hal itu kurang efektik untuk mengetuk kesadaran satu sama lain. Sebab, berdasarkan laporan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehuatanan (LHK), pada 2025 Indonesia setiap hari tercatat menghasilkan 143 ribu ton sampah. Dari jumlah tersebut, 12–17 persen di antaranya adalah sampah plastik.

Limbah plastik mendapat sorotan khusus dari pemerintah RI, sebagaimana upaya menteri LHK saat menggelar pertemuan bilateral dengan menteri iklim dan lingkungan hidup Norwegia pada tahun lalu. Pertemuan yang dilaksanakan di sela-sela COP30 Brasil, Indonesia berkomitmen memimpin penanganan polusi sampah plastik global dan ditarget pada 2029 penanganan sampah plastik 100 persen selesai, khususnya di republik ini.

Di luar dampak penggunaan plastik, pada sisi tertentu antara kantong plastik dan warung Madura seperti dua mata koin yang tak bisa terpisahkan. Tentu ibarat ini bukan tanpa alasan. Sebab, sejak tulisan ini digarap sampai masuk tahap editing, sudah tak terhitung berapa banyak orang bertingkah sebagaimana yang saya sebutkan di atas.

 Itulah yang membuat saya pesimistis bahwa limbah plastik dapat ditekan di tengah fenomena lonjakan harga yang meroket. Imbasnya, saya terpaksa memberi kantong plastik dengan perasaan berat hati hanya untuk memuaskan kebutuhan konsumen. (*)

‎‎*)Suka menulis cerpen dan puisi. Kini bergiat di Komunitas Damar Korong.

Editor : Amin Basiri
#plastik #warung madura