Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kontemplasi Daun-Daun Pak Guru Budi

Amin Basiri • Minggu, 10 Mei 2026 | 17:03 WIB
Hidayat Raharja
Hidayat Raharja

 

Oleh HIDAYAT RAHARJA*

 

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;

nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;

ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput

sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi

 

(Hatiku Selembar Daun, Sapardi Djoko Damono)

 

IMAJINASI Sapardi terhadap selembar daun yang jatuh mampu membangun sebuah kontemplasi tentang momen sesaat yang dibuatnya abadi. Ia mampu melihat momen-momen kecil sebagai gambaran dalam kehidupan penuh makna. Sesuatu yang kerap luput dari perhatian, namun jadi pengingat kefanaan menuju yang kekal.

Daun-daun yang berguguran dan bertumpuk di halaman rumah, momen kecil yang mengajak Pak Guru Budi (Budi Hariyanto) untuk memindahkannya ke dalam kanvas. Lukisan tentang daun-daun yang selanjutnya dikemas dalam sebuah pameran bertajuk Kontemplasi Daun-Daun yang dipamerkan di Ruang Kafe, Odaita Hotel, Jalan Raya Sumenep, No. 88, Serkeser, Buddagan, Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, 69322. Pameran berlangsung dari 3–15 Mei 2026.

Pameran Pak Guru Budi ke-9 ini diawali dengan doa yang dibaca K. M. Faizi, dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Royyan Julian. Pembukaan pameran dilakukan D. Zawawi Imron, diawali dengan penyerahan tanda mata berupa lukisan wajah D. Zawawi Imron karya Pak Guru Budi. Dalam pembukaan, Zawawi berpesan melukislah dengan kerendahan hati.

Menurutnya, kerendahan hati akan menghasilkan keindahan yang hakiki. Sebagai penanda membuka pameran ini, beliau membubuhkan tanda tangan pada kanvas yang telah disediakan.

Karya-karya Pak Guru Budi sangat menarik karena mengambil satu tema Kontemplasi Daun, semacam renungan mendalam terhadap obyek daun. Permenungan terhadap benda sederhana, namun tidak menghilangkan makna. Daun yang melayang jauh dari tangkai ada lalu mencium tanah, namun ada pula yang tersangkut di atap rumah diterak angin nêmor.

Di usia 52 tahun Pak Guru Budi tidak lagi muda. Namun dalam kematangan umur yang berjalan, ia mengambil jeda sejenak untuk merenung perjalanan yang telah ditempuh, khususnya dalam dunia seni rupa di Madura.

Renungan yang sangat mendalam setelah mengalami duka yang amat berat, ditinggal orang yang dicintai. Ia menata kembali untuk berjalan pada etape selanjutnya. Perjalanan  kreatif yang berangkat dari hal kecil dari halaman rumah. Daun-daun jatuh.

Delapan belas lukisan, 7 ukuran bersar dan 11 ukuran sedang. Lukisan ditata berjajar memanjang  memenuhi sisi ruang kecil yang terdapat di dekat kafe. Warna-warna samar, abu-abu, merah pucat, ungu, dan hitam. Warna-warna syahdu menyedot perhatian para pengunjung yang menyisir ruangan.

Di acara pembukaan suasana pameran semakin syahdu karena saat para pengunjung memperhatikan lukisan-lukisan yang dipajang, seorang musisi guru SMAN 1 Pademawu memainkan biola mengitari ruangan. Paduan antara lukisan-lukisan yang memandang setiap penonton yang hadir bersaut dengan lengkingan biola memenuhi ruang pamer.

Daun objek yang jarang diperhatikan bahkan sering kali kita hanya menganggapnya sebagai sampah yang selesai di tong sampah atau di tempat pebuangan akhir. Namun tidak bagi Pak Guru Budi, daun memiiliki makna mendalam bagi kehidupannya. Guguran-guguran daun sebagai guguran-guguran usia yang kemudian mencium tanah.

 Ia seperti guguran kata dalam sajak kehidupan yang dilupakan sementara dalam dirinya banyak tersirat guratan-guratan kehidupan pada tulang daun yang menyirip, sejajar, dan menjari.

Sebuah refleksi batin terhadap visual daun sebagai simbol yang mengundang makna bagi penikmatnya. Lukisan bukan sekedar komposisi warna, namun sebagai satu kesatuan yang menyimpan pesan baik secara tersirat dalam kompisisi warna dan tersurat dalam menangkap simbol yang divisualisasikan.

Erwin Panofsky menyampaikan ikonografi dalam sebuah lukisan, ada hubungan antara objek dengan tema tertentu. Dalam hal ini hubungan antara daun dan kontemplasi. Objek daun bukan sekadar wujud yang dibangun dalam sebuah komposisi, namun bisa berarti sebuah pesan yang mengonfigurasikan bentuk tertentu.

Maka, setidaknya pada lukisan-lukisan Pak Guru Budi objek yang divisualisasikan bukan hanya sebuah komposisi warna dan bentuk, tetapi sebuah pesan yang tergambar secara struktur dan filosofis.

Dalam struktur pohon, daun sebagai organ yang memiliki peran vital dalam proses penyusunan kalori dalam peristiwa fotosintesis yang menghasilkan energi (glukosa) yang menggerakkan seluruh kehidupan bumi.

 Energi yang berpindah dari produsen ke herbivor dan selanjutnya energi berpidah ke dalam tubuh karnivora dan sebagian lagi lepas kembali lagi ke dalam lingkungan memasuki sebuah siklus kembali ke awal.

Kontemplasi daun-daun adalah jeda untuk mengumpulkan kembali makna yang tumbuh dan kemudian gugur di hadapan kita. Gugur yang luput dari perhatian, kemudian dipindahkan Pak Guru Budi ke atas kanvas dengan waran-warna yang menyentuh perasaan.

Daun bukan hanya sekadar lembaran pipih dengan aneka warna, melainkan suatu organ yang berperan sebagai produsen, penyedia energi bagi seluruh kehidupan.

 Ia bukan pencipta, melainkan penyedia diri bagi berlangsungnya seluruh kehidupan di muka bumi. Daun organ utama yang mau menyerap sinar matahari sebagai sumber energi terbesar dalam kehidupan di bumi, kemudian diubahnya menjadi energi kimia untuk berlangsungnya proses penyusunan material dalam tubuh.

Apakah Pak Guru Budi akan menjadikan diri dan karya-karyanya sebagai sumber energi yang menggerakkan  kehidupan batiniah para penikmatnya? Ia telah jatuh hati untuk tidak luput perhatiannya pada lembar-lembar daun yang tumbuh dan jatuh di lingkungan rumah.

Daun yang mengajaknya berbicara dalam batin, yang melayang, dan jatuh sesaat dibuatnya abadi. Ia memotret tumpukan-tumpukan daun yang saling menindih seperti tubuh-tubuh yang berbaring saling merangkul dan membisikkan pesan dalam diam.

Pesan filosofis, daun yang mengambil peran sebagai organ menyediakan diri sebagai penghasil energi bagi seluruh kehidupan. Energi yang berputar dalam siklus berantai dan berulang kembali ke asal.

Daun yang kemudian hancur jadi humus, diuraikan mikroba tanah menjadi unsur-unsur hara yang bermanfaat bagi kehidupan tumbuhan sebagai nutrisi vital untuk memulai lagi proses tumbuh secara vegetatif dan generatif.

“Jejak Daun #10”, sebuah lukisan dengan latar warna hitam gelap dan aneka daun berbagai ukuran saling melapisi. Warna-warna cerah, putih, biru, kuning, dan abu-abu. Warna yang mampu memberikan cahaya di antara gelap yang menerpa.

Sebuah gambaran hidup yang selalu memiliki harapan dalam kelam. Aneka bentuk daun dengan berbagai ukuran seperti membicarakan ragam persoalan dalam kehidupan yang membuat kita tetap eksis menjalani kehidupan.  

Berbeda pula pada “Jejak Daun #18”, ukuran 100 x 80 cm, 2026. Lukisan dengan latar belakang berwarna putih terang. Aneka daun dengan warna-warna abu-abu, biru, kuning, hitam, dan merah.

Gambaran hidup manusia yang selalu penuh dinamika, kehidupan yang berwarna membangun keseimbangan dalam kehidupan. Sebaik-baik hati manusia, masih ada cela dengan serpihan warna-warna hitam menempel di warna terang seperti kehidupan manusia memberikan warna dan makna.

Tidak ada manusia yang suci. Sebab, di antara kebaikan-kebaikan yang dimilikinya ia memliki cela yang tetap menjadikannya sebagai manusia yang tidak sempurna. Tetapi, begitu hidup berjalan di antara baik dan buruk membangun  keseimbangan.

Lewat garis, bentuk, dan struktur serta warna, Pak Guru Budi menjadikan daun sebagai simbol dalam lukisan untuk menyampaikan pesan-pesan tersembunyi pada setiap lembaran daun yang saling melapisi, pada tuangan warna yang saling melengkapi membangun harmoni dalam kehidupan.

Pak Guru Budi telah menjalin tenunan antara lukisan dengan puisi, dalam pameran Kontemplasi Daun-Daun menyajikan lukisan-lukisan daun bukan sekadar tumpukan organ yang tumbuh dan tertumpuk.

Namun, ia menjadikan tumpukan-tumpukan daun seperti tubuh-tubuh yang berbaring  membawa pesan dalam berbagai bentuk dan warna, laksana puisi warna yang minta dibaca dan dimaknai penikmatnya dengan hati yang lapang.

Kontemplasi, sejenak melihat yang luput dari perhatian untuk diabadikan dalam pemaknaan yang dalam. Imajinasi untuk memaknai daun-daun sebagai tubuh-tubuh manusia dengan berbagai genetik yang dikandung sehingga memberikan ekspresi yang beraneka rupa. (*)

*)Pelukis sketsa, tinggal di Sampang

Editor : Amin Basiri
#pak Guru Budi #daun #opini #lukisan