Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kartini dan Pemberontakan yang Mendebarkan

Amin Basiri • Sabtu, 25 April 2026 | 19:00 WIB
Suhairi, Dosen UIN Madura
Suhairi, Dosen UIN Madura

Oleh Suhairi

KARTINI merupakan sosok inspiratif yang hingga saat ini selalu menjadi pembahasan. Kartini merupakan sosok pendobrak kebekuan budaya yang mengungkung kebebasan perempuan dalam berbagai hal.

Kondisi seperti itulah yang menyebabkan Kartini merasa gelisah. Ia harus melawan ketidakadilan. 

Ia harus memperjuangkan hak-hak perempuan agar terbebas dari budaya yang membelenggu. Kartini harus mampu mendobrak patriarki, feodalisme, dan kolonialisme. 

Namun, apakah perjuangan Kartini akan semudah membalik telapak tangan?

Pro kontra terhadap perjuangan Kartini terjadi sejak perempuan kelahiran Jepara, 21 April 1879 itu, mulai menentang tatanan budaya yang telah lama dianut oleh masyarakat.

Ia memberontak terhadap feodalisme, menentang keras terhadap poligami, dan memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan (Leila S. Chudori dan Redaksi KPG, 2017:13). Pola pikir dan gerakan Kartini dianggap melanggar tata nilai budaya yang ada. 

Walaupun demikian, Kartini adalah sosok yang optimis bahwa semua perjuangannya akan membuahkan hasil yang maksimal.

Perempuan masa kini harus belajar banyak dari sosok perempuan yang satu ini.

Perjuangan Kartini sering kali menemukan rintangan, bukan seperti jalan tol yang bebas hambatan. 

Sosok Kartini sering menerima cacian, hinaan, bahkan menjadi gunjingan di kalangan masyarakat. 

Misalnya, saat lulus dari Europeesche Lagere School, Kartini harus menjalani masa pingitan. Ia tidak boleh ke mana-mana. Itulah potret perempuan pada saat itu. 

Tentu, ini merupakan bumerang bagi Kartini. Tetapi, sebagai perempuan yang cerdas, Kartini tidak mau larut dalam kondisi yang tidak bersahabat tersebut. 

Kartini memanfaatkan situasi dengan cara membaca buku, koran, dan majalah dari dalam dan luar negeri.

Apa yang dirasakan Kartini juga dirasakan oleh perempuan lain pada masa itu. Tak terkecuali kedua adiknya, Roekmini dan Kardinah.

Mereka berdiskusi agar sosok perempuan tidak diperlakukan sebagai inferior. Perempuan harus bergerak dan menyuarakan hak-haknya yang selama ini tertindas. 

Apa yang menjadi harapan ternyata menjadi kenyataan. Pada 2 Mei 1898, sang ayah membebaskan mereka dari pingitan. 

Hari itu, Kartini, Roekmini, dan Kardinah diajak ke Semarang untuk merayakan penobatan Ratu Wilhelmina di ibu kota karesidenan, Semarang (Leila S. Chudori dan Redaksi KPG, 2017: 43).

 Kartini bukan perempuan yang mudah menyerah. Ia merasa gelisah dengan ketidakadilan yang menjadi realitas dalam kehidupannya.

Secara budaya, ia telah berani mendobrak kebekuan yang selama ini cukup membelenggu. 

Ia rela dan berani menjadi perbincangan di kalangan masyarakat. Ini terbukti saat ketika Kartini dan kedua adiknya dibebaskan dari pingitan. 

Mereka tidak bebas tanpa syarat. Masyarakat memandang sebelah mata terhadap apa yang dilakukan Kartini. Kartini mendapat sanksi moral. 

Padahal, perjuangannya itu merupakan sebuah upaya yang sangat berpihak kepada perempuan. 

Mungkin, Kartini berpegang teguh kepada pepatah “Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu”. 

Akibat perjuangan dan pendiriannya yang tidak mudah goyah, orang tua Kartini merestui Kartini dan kedua adiknya untuk mengadakan blusukan-blusukan, berkunjung ke rumah masyarakat, saling sapa saat bertemu, dan menanyakan kondisi kehidupannya.

Ternyata, kehidupan Kartini yang dekat dengan masyarakat bisa dijadikan modal untuk mengetahui kebutuhan mereka saat itu. Nah, ini tentu bisa diadopsi oleh para pejabat dan wakil rakyat saat ini. 

Adanya reses di lapangan tidak hanya sekadar simbolik, tetapi betul-betul dijadikan serap aspirasi untuk mengukur keinginan mereka menuju hidup sejahtera. 

Para pejabat harus turun ke lapangan untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan rakyat kecil.

Perjuangan Kartini memang sangat mendebarkan. Penulis yakin, perempuan masa kini bisa menimba semangat dari perjuangan perempuan yang satu ini.

Kartini memang sudah tiada, tetapi air mata dan kerja kerasnya akan menjadi prasasti yang akan terus dikenang. 

Zaman mutakhir dengan fasilitas teknologi yang melesat dengan cepat dapat menjadikan sosok perempuan terbang melebihi sosok laki-laki. Nah, itu jika mau. Wallaahu a’lam! (*)

*Dosen UIN Madura yang suka menggunakan tokoh Marlena dalam tulisan fiksinya.

Editor : Amin Basiri
#perjuangan #pendididkan #kartini