Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Muhibbin Haji Her

Amin Basiri • Minggu, 19 April 2026 | 12:26 WIB
Umar Fauzi Ballah, Aktif di majlis Home Brewer Sampang.
Umar Fauzi Ballah, Aktif di majlis Home Brewer Sampang.

 
Oleh Umar Fauzi Ballah

SAYA tahu Haji Her, mula-mula bukan sebagai H. Her yang saat ini sedang viral, tetapi dari berbagai baliho pada hajatan politik 2024 yang lalu dengan nama lengkapnya, H. Khoirul Umam, lalu dalam tanda kurung (H. Her).

Sebagai bagian dari publik yang antipati dengan hajatan tersebut, saya pun tidak suka pada wajah-wajah asing yang memenuhi jalanan dan menjadi sampah visual. Itu adalah perjumpaan pertama saya dengan H. Her walaupun dia bukan sebagai kandidat. Posisinya dalam berbagai baliho adalah sosok yang mendukung.

Perjumpaan kedua saya dengan H. Her adalah "perjumpaan langsung" ketika dengan santai dan elegan, dia menyortir tembakau dari petani. Perjumpaan itu juga terjadi tanpa sengaja melalui media live TikTok. H. Her sedang menghidu rajangan tembakau kering yang disodorkan kepadanya, lalu memberikan harga.

Hal yang membekas dari kejadian itu adalah ketika dia berkata, "Sampean ikhlas ya ceceran-ceceran tembakau ini dibiarkan di sini, nanti akan disatukan." Ada kalimat doa setelahnya; mungkin bisa menjadi umrah bagi karyawannya.

Saya tidak ingat pasti. Dari situ, untuk kali pertama saya tahu bagaimana bos-bos tembakau itu menyortir tembakau dan bagaimana cara mereka menghidu rajangan tembakau untuk dibeli.

 Algoritma medsos saya masih perjumpaan dengan H. Her. Puncaknya adalah ketika dia menjadi penyokong ketika memberikan saweran virtual bagi kesuksesan Valen yang sedang berlaga di Dangdut Academy 7.

Dukungan itu terus dia tunjukkan sampai Valen menginjakkan kaki kali pertama di Pamekasan sebagai artis ternama. Saya sempat berbisik pada seorang kawan, "Uang sebanyak itu alangkah sangat bermanfaat jika diberikan kepada fakir miskin.

" Kawan saya menimpali, "Jangan salah, beliau sampai sekarang masih memberikan sumbangan, bahkan pada Palestina." Saya pun terdiam sambil membatin, "Iya ya, dia kaya raya. Uangnya banyak yang bisa dia poskan sesuai keinginannya." Alamat, betapa tidak bijaknya membaca orang kaya dengan kacamata manusia dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan.

Semakin ke sini, saya sering bertemu dengan H. Her, tetap melalui algoritma medsos. Ada hal yang cocok dengan pandangan saya. Potongan-potongan ceramahnya, baik formal maupun sekadar obrolan di rumah, saya simak.

Salah satu yang menarik adalah ketika H. Her berbincang di pelataran rumahnya sambil menikmati kerupuk cengi. Dia berkisah tentang seorang kaya raya, tetapi meninggal dunia.

Dia, dengan santai, membicarakan dunia di hadapan kematian tidak punya arti apa-apa. Kontan saja, sanak familinya menimpali, "Jangan bicara begitu, sudah, sudah!" Begitulah, kematian menjadi tabu dalam pembicaraan masyarakat awam, tetapi tidak bagi manusia yang memiliki aras kesadaran spiritual tentang hakikat hidup di dunia.

 Lain dari itu, H. Her juga pernah berkisah dengan menakjubkan tentang orang besar. Kisah itu berlatar ketika H. Her diundang Prabowo. Ternyata, tidak semua orang mengenalnya.

Tebersit dalam kesadarannya bahwa ternyata masih ada orang yang lebih besar darinya, masih ada langit di atas langit. Selipan-selipan hikmah dalam setiap obrolan santainya yang terekam dalam mata kamera adalah nasihat yang mengalir tanpa pretensi untuk berceramah.

Justru di sana letak kekuatan naratifnya di hadapan penonton yang berjarak sejauh layar dawai. Namun, dunia medsos adalah realitas kelisanan yang akan selalu mengundang penikmat dan pembenci. H. Her tidak bebas dari komentar miring. Masih dalam bingkai short video, H. Her pernah berkisah bahwa dirinya yang mendapat transferan uang dengan nominal jutaan rupiah. Dia tidak paham dari siapa dan dari mana transferan tersebut.

H. Her memandang peristiwa itu dengan kisahan realisme magis. Alhasil, karena uang tersebut tidak jelas, ia bagi-bagikan. Netizen ada yang berkomentar, "Orang kaya bisa saja becerita apa saja." Dalam lanjutan video tersebut, H. Her berkisah suatu hari bertemu dengan mitra bisnisnya yang mengatakan bahwa uangnya sudah ditransfer. H. Her kaget. Ternyata, uang yang selama ini ia bagi-bagi adalah transferan dari rekan bisnisnya. 

Perlawanan Kaum Tani

Pemanggilan H. Her oleh KPK, walaupun statusnya masih sebagai saksi atau yang dimintai keterangan, serta respons publik Madura yang mencintainya adalah realitas populisme individu di ruang simulakra.

Popularitas di ruang kaca adalah ruang artifisial di mana setiap individu bisa dipoles sedemikian rupa. Magnet dasarnya sama, yakni keduniawian. Jika Valen populer karena keartisannya, H. Her yang juga menjadi penyokongnya, adalah sosok yang dikenal karena memperjuangkan keberlangsungan niaga hasil tembakau.

Beda keduanya adalah jarak. H. Her menjadi "pahlawan" bagi masyarakat tani dan buruh rokok. Ada kebermanfaatan yang langsung diterima oleh para penggemarnya ketika membela H. Her, bukan hiburan semata sebagaimana menggemari Valen.

Begitulah alkisah yang saya dengar dari seorang penjual rokok lokal Madura. H. Her mula-mula adalah penimbun tembakau. Konon, H. Her pernah diundang kiai untuk diajak rembuk agar petani tembakau di Madura makmur sehingga biaya pondok anaknya tidak tersendat-sendat.

Maka, H. Her mencetuskan ide agar semua hasil tembakau tidak dibawa keluar yang selama ini dikuasai oleh pasar "asing" alias gudang-gudang dari produsen rokok yang selama ini dikenal publik.

Ide itulah yang membuat harga tembakau Madura sejak pandemi menjadi meriah. Di sisi lain, mulai bermunculan produsen rokok lokal yang harganya terjangkau. Rokok murah adalah impian masyarakat.

Dayung bersambut. Produksinya semakin membesar. H. Her adalah sosok di balik itu semua. Idenya tidak hanya menyejahterakan petani tembakau di Madura, tetapi menyerap tenaga kerja pada industri rokok lokal dari berbagai produsen yang berada di Madura. Jasanya tidak main-main dan bisa dilihat pada fenomena populisme 12 April 2026 yang lalu; H. Her disambut dan dibela mati-matian.
   

Setelah peristiwa Ahad lalu, para pembela H. Her pasti sedang siap siaga terhadap kemungkinan buruk yang terjadi di masa depan pada sosok yang mereka gemari. Gambaran nyatanya sudah terjadi pada 10 Februari 2026 yang lalu.

Para petani dan buruh tembakau menggelar demonstrasi untuk "melawan" oknum LSM yang melaporkan dugaan penyalahgunaan bea cukai yang secara spesifik mengarah pada produksi rokok ilegal. Bukan rahasia sebetulnya bahwa peredaran rokok ilegal di Madura marak beberapa tahun belakangan sehingga kawan saya pun turut menjalani bisnis tersebut. 

Sebetulnya, siapa yang diuntungkan atas fenomena maraknya rokok ilegal atau siapa yang dirugikan? H. Her saat ini adalah representasi ideal dalam pandangan masyarakat atas kesejahteraan petani tembakau dan buruh rokok. "Mencari-cari kesalahannya" barangkali sama halnya dengan ketegangan yang pernah terjadi di Pamekasan.

Lantas, apakah H. Her terlibat dalam tindak pidana korupsi yang menyandera para pegawai bea dan cukai yang telah ditahan KPK? Biar hukum yang menjawabnya. Mari kita menyimulasikan keadaan ke depan.

Jika H. Her terbukti terlibat, masyarakat harus siap-siap mengambil sudut pandang bahwa tidak semua yang dipenjara adalah orang jahat, tetapi mereka dipenjara karena sistem.

H. Her bukan pejabat. Dia masih dikenal sebagai sosok yang bukan hanya menyejahterakan masyarakat sekitarnya, tetapi mungkin apa yang pernah dilakukannya dalam rangka mengamankan masyarakatnya juga. Jika begitu, bukankah dia tetap pahlawan bagi orang-orang yang telah secara langsung maupun tidak terbantukan secara ekonomi?

Toh, tembakau dan rokok bukan barang jadah. Ia tidak lebih dari sekadar komoditas yang distigma sedemikian buruk oleh suatu perang dagang yang sudah berlangsung lama.

Dalam hemat saya, sengkarut ihwal perniagaan tembakau saat ini dan kebijakannya bermula dari ketidakadilan pemangku kebijakan dalam memandang tembakau.

Para produsen rokok murah di Madura sedang dalam posisi memperjuangkan kebijakan yang diakali oleh perang dagang nikotin. Kita semua tahu cukai rokok dibuat mahal agar peredarannya semakin sempit. Namun, fakta berkata lain, yakni munculnya rokok ilegal yang terjadi tidak hanya di Madura. Salah siapa jika demikian?

 Saya tertarik membaca hasil bahtsul masail PCNU Kabupaten Sumenep tentang apa hukum bisnis rokok ilegal menurut perspektif fikih? Jawabannya adalah jual belinya sah, tetapi haram karena melanggar aturan pemerintah.

Jawaban seambigu ini tidak mungkin lahir jika pemerintah mengambil kebijakan yang tepat perihal tembakau dan rokok. H. Her dalam hal ini adalah representasi masyarakat penghasil tembakau terenak di Indonesia: petani makmur dan rokok dijual dengan harga yang seharusnya wajar-wajar saja. Cukai jangan menjadi alat yang mencekik dalam perang dagang nikotin. Dan, cukai yang menjadi salah satu penghasilan bagi kas negara juga harus digunakan sebijak mungkin bagi kemakmuran masyarakat. Apakah hal itu sudah terjadi? (*)

Editor : Amin Basiri
#H. Her #opini #Haji Her