Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Begitu Naifnya

Amin Basiri • Minggu, 19 April 2026 | 11:40 WIB
Moh. Fathollah, esais buku bergerak. Tinggal di Sumenep
Moh. Fathollah, esais buku bergerak. Tinggal di Sumenep

Oleh MOHAMAD FATHOLLAH*

PERUNDINGAN Amerika-Iran selama 21 jam pada Minggu (12/4) kemarin mengalami kebuntuan. Dikhawatirkan kegagalan perundingan damai di Islamabad, Pakistan, tersebut berdampak eskalasi konflik akan semakin tinggi. Secara domino, harga minyak dunia bakal ikut semakin tinggi. 

Selat Hormuz yang awalnya tak menjadi medan perang kini seluruh dunia berkonsentrasi ke sana.

Maklum, selat yang dikuasai Iran ini adalah jalur maritim krusial yang menopang sekira 20% hingga 30% dari total pasukan minyak dunia per hari. Artinya, bila Selat Hormuz tutup, harga minyak dunia akan semakin mahal.

Stabilitas negara di seluruh dunia bisa terganggu. Tak hanya harga pasokan energi, barang-barang kebutuhan pokok warga dunia yang berkelindan pada minyak juga akan ikut mahal.  

Untuk menyiasati potensi kelangkaan minyak, pelbagai negara telah melakukan berbagai upaya.

 Ada yang mulai melirik pengolahan sumber daya energi terbarukan atau yang dikenal energi non-fosil. Hingga melakukan penghematan besar-besaran atas konsumsi minyak bumi.

Seperti di Indonesia, pemerintah Presiden Prabowo per minggu ini telah mencanangkan hemat energi melalui skema WFH (Work From Home) tiap Jumat atau satu hari di akhir pekan untuk ASN (Aparatur Sipil Negara) dan menganjurkan hal serupa pada sektor swasta.

Skema kerja WFH atau WFA (Work from Anywhere) disebut-sebut sebagai salah satu langkah taktis dalam menyiasati fleksibilitas kerja yang mengharuskan si pekerja dapat bekerja secara remote.

Sederhananya, ASN atau pekerja sektor swasta yang terlibat dalam skema ini tak perlu keluar rumah dalam satu hari dalam sepekan, namun tetap bekerja sesuai tanggung jawab masing-masing tanpa mengurangi kinerja dan kualitas layanan. 

Bila dua hari (ditambah hari libur per pekan) mereka tak ke mana-mana, mereka berkontribusi pada negara dengan cara penghematan BBM (bahan bakar minyak) hingga kurang lebih 20%.

Tak hanya skema WFH/WFA, pemerintah berulang kali juga menekan penggunaan kendaraan motor pribadi pada hari kerja, hingga penghematan sumber energi lainnya. Termasuk penghematan sumber energi listrik.

Naivitas Struktural

Pertanyaannya, seberapa efektif? Anggap saja instruksi pemerintah atas penghematan BBM nasional dapat mengurangi ketergantungan BBM yang dipasok dari Selat Hormuz.

Namun bila ditelisik lebih jauh dari daya konsumsi masyarakat kita hari ini, ada semacam anomali. Mungkin kita dapat menyebutnya sebagai naivitas struktural. 

Kita boleh berhemat BBM dengan cara memenimalkan penggunaan kendaraan bermotor, tapi dalam kerangka konsumsi yang lebih besar sejatinya kita masih belum terbiasa berhemat dan menggantungkan hidup pada alat-alat yang sepenuhnya diproduksi dari minyak bumi.

Jean Baudrillard dalam “Masyarakat Konsumen” (1970) sejatinya telah mengingatkan kita bahwa konsumsi dalam masyarakat pasca-modern bukan lagi soal kebutuhan (use-value), lebih dari itu adalah sistem tanda (sign-value).

Konsumerisme seakan tak bisa dibendung dengan sekadar menghemat BBM. 

Penghematan BBM bukanlah solusi jangka panjang.

Langkah itu seolah menjadi simulasi belaka. Mencoba menyelesaikan masalah di tengah hiperkonsumsi yang sudah mengakar. 

Bagaimana tidak mengakar, sementara kita (masyarakat dunia) hari ini tetap mengonsumsi tanda-tanda itu di lain hal.

Sederhananya, masyarakat kita masih gemar belanja online yang memicu pengiriman besar-besaran, menikmati streaming hiburan yang membutuhkan server raksasa semakin panas, atau sekadar menikmati staycation dengan kendaraan listrik yang tetap memerlukan energi fosil untuk produksi baterainya. 

Sistem tanda tersebut bermetamorfosis menjadi sebuah bentuk lain yang halus dan tak terlihat di permukaan. 

Kita boleh mengeluh BBM atau harga kebutuhan pokok naik, tapi pembelian kendaraan listrik meningkat.

 Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik, produksi kendaraan listrik juga semakin tinggi.

Kenyataan pahit ini diperparah dengan “agenda” pemerintah mengalokasikan kendaraan listrik secara besar-besaran. 

Bahkan, ada beberapa pemerintah daerah masih mengalokasikan kendaraan mewah bertenaga BBM. 

Realitas ini bukan hanya anomali, melainkan juga kenyataan naif yang terpaksa kita terima. 

Revolusi Konsumsi

Masyarakat kita dipaksa menghemat BBM, sementara kebiasaan-kebiasaan kecil yang kadang tak tampak memicu konsumsi BBM skala besar.

Kendaraan listrik dan penggunaan alat-alat yang secara garis besar dipicu oleh BBM dan energi fosil, dari sudut pandang Baudrillard, nyata-nyata sebuah permainan komoditas. 

Beralih dari satu hal untuk menghemat, tapi lari pada hal lain yang justru meningkatkan ketergantungan pada energi lain yang justru merusak alam.

Hal ini dapat menjadi semacam akar penindasan baru yang sesugguhnya.  

Pemerintah telah menerapkan skema WFH/WFA dengan tetap mempertahankan subsidi BBM.

Tapi di lain pihak, mereka juga mendorong industri otomotif skala besar yang dianggap dapat menjadi penggerak ekonomi nasional. 

Sebenarnya, meminjam istilah Baudrillard, pemerintah sedang menggerakkan simulakrum. 

Seoalah menciptakan “tanda” peduli lingkungan dan menghemat BBM, sementara mendorong masyarakat untuk bergantung pada alat produksi hasil energi fosil.   

Anehnya, kita sebagai masyarakat modern seolah merasa baik-baik saja atas kondisi semua ini.

Energi terbarukan yang acap digembor-gemborkan sering kali menjadi objek konsumsi baru. 

Belum lagi kita merasa bangga peduli lingkungan dengan beli kendaraan listrik dengan vitur mewah, jual beli sertifikat karbon, hingga kenyataan hidup yang lebih suka flexing daripada hidup apa adanya. 

Inilah naivitas kita sesugguhnya. Terjebak dalam hiperealitas gaya konsumsi baru.

Alih-alih memindahkan beban dengan cara berhemat, tapi ada lubang besar yang mungkin di masa depan menjebak ekosistem hidup kita.

 Saatnya semua elemen masyarakat melakukan revolusi kebiasaan melalui pendekatan kebutuhan sekunder, sebagaimana catatan Baudrillard, memisahkan nilai guna dari nilai tanda.

Kita patut berani mempertanyakan pada diri sendiri mengapa kebahagiaan dan kemajuan “masih” diukur dengan pertumbuhan konsumsi yang haus minyak dan energi fosil? 

*)Esais bukubergerak, tinggal di Sumenep

Editor : Amin Basiri
#asn #esai