Oleh: Ahmad Muhli Junaidi (Guru Sejarah di SMA 3 Annuqayah)
MENGENANG Ramadan di Pondok Pesantren Annuqayah pada era 1990-an seperti memutar kembali rekaman tentang kesederhanaan yang terasa mewah.
Bagi saya, yang baru saja menanggalkan seragam merah putih di SDN Prancak 2 pada 1990, melangkahkan kaki ke daerah Lubangsa Utara—yang saat itu masih lekat dengan nama Nirmala—menjadi awal sebuah petualangan spiritual yang tak tertandingi.
Selama lima tahun, hingga 1995, saya mencecap saripati kehidupan santri yang mungkin sulit dibayangkan oleh generasi Z yang kini lebih akrab dengan charger ponsel.
Puasa di pondok itu asyik. Sebuah pernyataan yang mungkin terdengar ganjil bagi mereka yang terbiasa dengan kemudahan di rumah.
Di Lubangsa Utara, kemandirian menjadi bumbu utama. Bayangkan, untuk santap sahur dan berbuka, kami harus “nanak” atau memasak nasi sendiri.
Tak ada katering, tak ada ojek daring. Ritual mencuci beras di sumur, menyalakan api, hingga menunggu nasi tanak menjadi meditasi harian yang melatih kesabaran.
Namun, di balik kemandirian itu, ada sentuhan kasih sayang seorang ayah dari pengasuh pondok, almarhum Kiai Hamidi Hasan.
Beliau sering mengirimkan lauk-pauk untuk kami, para santri yang berpuasa di pondok. Meski menunya sederhana, pemberian kiai memiliki rasa yang berbeda—seolah ada berkah yang menyelinap di setiap kunyahan.
Selama tanggal 1 hingga 27 Ramadan, pondok adalah semesta yang lengkap. Hidup terasa begitu tertata: salat berjamaah lima waktu, wirid yang bergema di sudut-sudut kamar, dan rasa syukur yang meluap meski hanya makan seadanya.
Di masa itu, hiburan adalah barang langka. Karena itu, ketika Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) yang kini menjadi MNCTV menyiarkan film-film legendaris Rhoma Irama setiap pukul 09.00 pagi, gairah santri seolah meledak. Kami berbondong-bondong menuju MTs 1 Annuqayah untuk menonton Sang Raja Dangdut beraksi.
Di tengah dahaga puasa, menonton televisi di sekolah adalah kemewahan tiada tara. Terutama bagi saya yang di rumahnya bahkan belum memiliki kotak ajaib bersuara itu.
Namun, daya tarik utama Ramadan di Annuqayah adalah wisata ruhaninya: safari tarawih. Saya tidak terpaku pada satu tempat. Setiap malam menjadi penjelajahan menuju mushala para kiai kharismatik.
Malam ini kami bersimpuh di hadapan Kiai Amir Ilyas, malam berikutnya berpindah ke Kiai Warist Ilyas, lalu ke Kiai Ishomuddin di Lubangsa Selatan.
Kami juga sering menuju Kiai Mahfudh Husaini di Sawajarin hingga Kiai Basyir Latee. Setiap kiai memiliki “irama” dan kekhasan masing-masing dalam memimpin salat.
Jika fisik sedang lelah dan ingin tarawih dengan tempo patas alias cepat Kiai Ahmad Sumber Daduwi adalah tujuannya. Beliau terkenal paling gesit untuk ukuran standar Annuqayah.
Namun, favorit saya adalah saat bertandang ke Kiai Ashiem Ilyas di Kebun Jeruk. Mengapa? Karena setelah tarawih, beliau selalu membuka ruang diskusi melalui sistem tanya jawab. Ilmu mengalir deras.
Dan sebagai penutup yang manis, kami disuguhi kolak. Lidah bergoyang, hati pun tenang. Itulah harmoni antara asupan otak dan asupan perut.
Persaudaraan santri pada masa itu juga melampaui sekat dinding pesantren. Kadang saya “berkelana” ke rumah teman-teman di sekitar pondok untuk ikut berbuka atau sahur. Mulai dari Rombiya Barat, Bataal Barat, hingga Penanggungan.
Di sana kami tidak hanya makan, tetapi juga beradu kefasihan dalam tadarus Al-Qur’an dengan alumni pesantren lain.
Tanpa gawai di tangan, konsentrasi kami penuh pada setiap ayat yang dibaca. Kami duduk melingkar, menyimak dengan khusyuk, dan baru berhenti jika target juz malam itu telah tuntas secara bergiliran.
Petualangan saya bahkan menembus batas pulau. Seorang teman, Taufiqurrahman dari Bondowoso, pernah mengajak saya berpuasa di daerahnya, Sumber Pakem. Saya pun ikut merantau sejenak, bermain hingga ke daerah Silo Sanen, Jember.
Di sanalah, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya mencicipi daging landak. Teksturnya yang unik dan rasa gurihnya yang khas menjadi memori kuliner paling eksentrik dalam perjalanan hidup saya.
Setelah puas berkelana, saya kembali ke Madura. Mampir sebentar ke pondok, sebelum akhirnya benar-benar pulang ke Dusun Tanggulun menjelang tanggal 27 Ramadan.
Kini kontras itu terasa begitu nyata. Saat melihat santri-santri zaman sekarang, ada rasa getir yang terselip. Pondok yang dulu menjadi “rumah spiritual” yang dicintai, kini kadang terasa seperti tempat transit yang membosankan.
Banyak dari mereka tampak gelisah. Seolah tubuhnya berada di pesantren, tetapi pikirannya tertinggal di dunia digital.
Jika dulu kami bertahan di pondok hingga akhir Ramadan, kini banyak santri yang ingin cepat-cepat pulang.
Bukan semata untuk sungkem kepada orang tua, melainkan untuk segera memacu motor atau memuaskan dahaga bermain ponsel yang selama di pondok mungkin dibatasi.
Suasana tadarus yang dulu menjadi ajang adu kefasihan dan ketahanan kini mulai tergerus. Notifikasi media sosial lebih memikat telinga daripada lantunan ayat suci. Fokus yang dulu bulat kini terbelah menjadi fragmen-fragmen pendek video di layar.
Kehangatan nanak bersama dan safari tarawih dari satu kiai ke kiai lain perlahan memudar, ditelan zaman yang serba instan.
Keheningan malam yang dulu kami isi dengan zikir kini sering riuh oleh suara knalpot dan obrolan tentang permainan daring.
Ramadan di Annuqayah pada masa itu bukan sekadar ritual menahan lapar. Ia adalah sekolah kehidupan tentang bagaimana menemukan kenikmatan dalam keterbatasan.
Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada seberapa cepat kita pulang ke rumah, tetapi pada seberapa dalam kita meresapi kebersamaan dengan guru dan kawan.
Masa itu telah lewat. Namun aromanya seperti aroma nasi jagung dan kuah itik di meja beranda akan selalu abadi sebagai pengingat bahwa pernah ada suatu masa ketika Ramadan terasa begitu magis, tanpa gangguan layar. (*/han)
Editor : Amin Basiri