Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pusaka Abracadabra dan Amnesia Pustaka

Hendriyanto • Rabu, 21 Januari 2026 | 12:08 WIB

ABRARI ALZAEL
ABRARI ALZAEL

Oleh: ABRARI ALZAEL
(Mengajar Psikologi di Universitas Annuqayah Sumenep)

KETIKA ditanya pekerjaan macam apa yang dikehendaki, sembilan dari sepuluh orang menjawab ingin pekerjaan yang ringan tetapi memiliki penghasilan yang besar.

Keinginan lainnya, punya rumah, memiliki kendaraan yang bagus dan hidup senang, seperti yang di tv-tv. Pada saat ditanya, kemampuan apa yang dimiliki, hampir semua mengernyitkan dahi.

Pekerjaan jenis apa yang lebih diinginkan, mereka menjawab, pokoknya yang enak, mudah, dan salary yang menggiurkan. Kata orang Madura, soro nemmo, ya ta’ nemmo, e dhimma?

Itulah bagian sinopsis-fragmentatif Gen Z yang terkadang melahirkan absurditas, sedikit hedon dan instan. Ada sesuatu yang bergeser antara generasi terdahulu dibanding generasi saat ini, soal semangat dan perjuangan, menuju yang diinginkannya.

Ketelatenan, semangat, kesabaran dan persistensi, terjadi lompatan yang luar biasa berbeda. Dulu, orang-orang menanam, berproses, dan menapaki rukun iman kehidupan.

Kini, lebih suka memanen menyemangati teks proklamasi melalui tafsir jalan lain, menyelesaikan sesuatu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Tahun 1984, WS Rendra menulis puisi, Paman Doblang. Dalam beberapa baitnya tertulis, kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.

Optimisme dalam larik puitis itu, menggambarkan semangat juang yang sangat tinggi. Ketika narasi itu disandingkan dengan realitas-kontekstual manusia kontemporer, terasa sekali perbedaannya.

Maka, berlakulah sebuah teori, jika sesuatu berada di satu tempat dan sesuatu yang berbeda berada di tempat yang lain, out put yang dihasilkan pasti tidak sama.

Spektrum dan cara pandang manusia modern lebih menyukai pola yang cepat saji. Ia lupa teori tangga. Untuk mencapai puncak, seseorang terlebih dahulu mengawali dari takik pertama menuju anak tangga berikutnya.

Begitu pula dalam bermusik, butuh solmisasi yang diawali dari do rendah untuk mencapai do tinggi. Permainan musik yang allegoris tentu menghasilkan keserasian bunyi yang aransementik, senada dan kombinatif. Tangga nada yang tersusun sangat mozaik dan melahirkan keindahan, keteraturan, dan tidak fals.

Sekadar menyebut contoh, orang-orang terdahulu, ketika mendapati ember pecah di rumahnya, dengan telaten menjahit lalu mengelem, dan memakainya kembali.

Tetapi manusia modern pada saat menemukan peristiwa yang sama, lebih cendrung membuangnya dan membeli ember baru.

Jika dua frasa itu disandingkan dengan terjadinya peristiwa perpecahan di rumah tangga, pola pertama menghendaki semangat untuk memperbaiki dan pola kedua lebih suka mengganti.

Reportoar ini seringkali terjadi karena model pedagogiknya berbeda. Bahkan di Korea, kaum gen Z lebih suka bunuh diri pada saat tidak hommy dengan situasi yang dihadapi.

Refleksi Diri

Era digital dan globalisasi yang terjadi saat ini, memang tidak bisa dihindari dan mesti dihadapi. Tetapi, bagaimana sikap dan cara menghadapi, inilah fatsun yang sesungguhnya.

Dalam kasus penggunaan smart phone, warga republik memanfaatkan gadget lebih dari 6 jam per hari (2025). Data lain menunjukkan, anak-anak di negeri ini bermain ponsel hingga 11 jam per hari.

Lama durasi pemanfaatan ponsel ini dapat menggeser waktu tidur dan aktivitas fisik penting. Sehingga di rumah, anggota keluarga nyaris kehilangan quality time.

Laporan internasional menunjukkan angka yang naik dibanding tahun 2022 dimana anak-anak menghabiskan rata-rata 4,5 jam per hari di layar smartphone.

Padahal idealnya, anak-anak sejatinya diberi toleransi maksimal dekat dengan gadget hanya 2 jam per hari. Untuk anak di bawah usia 2 tahun, harus dihindari sama sekali untuk resiko kecanduan, gangguan perkembangan di ranah kognitif dan kemampuan sosialisasi.

Tetapi, lihatlah kenyataannya, anak jaman ini merasa ramai dalam kesendirian dan menganggap sendiri dalam keramaian. Mereka punya dunia sendiri yang simsalabim dan menganggap hidup penuh dengan sumbu pendek. Ketika tersenggol sedikit, langsung anarkis-revolusioner.

Data menunjukkan, seorang anak (30), menghabisi nyawa ibu kandungnya (50), di di Desa Tambakrejo, Waru Sidoarjo lantaran sakit hati dan emosi sebab tidak dibelikan handphone baru (2024).

Kenyataan paradoks lainnya, ibu rumah tangga di Kalijati, Subang, terluka parah akibat dianiaya putranya sebab hal yang sama (2025).

Di tahun yang sama, di Lampung Tengah, seorang siswi SMA (15) dibunuh pacarnya karena pelaku tidak sanggup memenuhi permintaan korban untuk dibelikan ponsel seharga Rp 8 juta.

Sementara di Depok (2025) suami menganiaya istrinya hingga buta permanen karena cekcok masalah ponsel. Itu hanya sekedar contoh faktawi di mana kesabaran adalah bumi sebagaimana ditulis Rendra, tidak tertancap di dalam sanubari.

Oleh karena itu, keinginan sejati siapapun, hakikatnya dimulai dari rumah. Keluarga, hakikatnya adalah Madrasatul Ula (Jauharotul Makniyah, 2023)  sebagaimana juga disampaikan Abdurahman Wahid (Gus Dur) bahwa baik tidaknya sebuah bangsa, ditandai cara pandang yang dimulai dari keluarga.

Jika dalam sebuah keluarga baik, lalu keluar dan bertemu dengan keluarga yang lain, ia akan menebarkan kebaikan.

Sebaliknya, apabila keluarga yang tidak baik, lalu ke luar dari rumah, ia berpotensi menyebarkan ketidakbaikan itu kepada keluarga lain. Lalu Indonesia sebagai sebuah keluarga besar, apakah sudah tergolong sebagai keluarga yang baik? Jika terlihat baik, mungkin sebagian besar keluarga bangsa pini sudah baik, dan atau sebaliknya.

Maka benar yang ditulis Imelia Anggrista dalam Surat Kakek (2021), dimana anak-cucu perlu mencermati nasehat para leluhur; tahu diri, mengerti orang lain dan memahami lingkungan sekitar, untuk bijak, bajik, dan radik.

Histeria Massa

Formulasi kehidupan mutakhir yang serba canggih, seringkali melahirkan GMP (generasi mudah panik). Orang-orang, belum lama ini, terkesima ketika Madura dikibarkan Valen Akbar yang menjadi salah satu juara di DA7 Indosiar.

Pertanyaannya, seberapa banyak dari penggelombang histeria massa itu yang menelaah siapa dan bagaimana sang diva berproses? Ia tidak abracadabra dalam simsalabimistik. Melainkan belajar, mengasah diri tidak melulu pada konteks menyanyi.

Valen menjalani spiritualitas hari-hari dengan bersalawat di kelompok al Banjari, menjadi muaddin dan membaca nida saat Ramadhan di salah satu masjid di Bugih Pamekasan. Ini hanya narasi kecil hingga perubahan besar itu terjadi seperti tangga.

Maka menjadi penting melarungkan diri dalam rubaiat pustaka serupa menonton film Who am I (Jacky Chen, 1998), membaca Madilog (Tan Malaka, 1942), Di Bawah Bendera Revolusi (Soekarno, 1959), atau mendengarkan lagu Man Ana gubahan Al Imam Umar Muhdhor bin Abdurrahman Assegaf yang dipopulerkan Nisa Sabyan (2019), sekadar menyebut contoh.

Narasi ini sebatas menggarisbawahi agar tidak lupa pada sesuatu yang mesti diingat, terutama tidak lupa untuk bercermin dan bertanya ; siapa saya, mau apa, mau ke mana, modal utamanya apa, punya kompetensi apa, peluang-tantangannya bagaimana, dan seterusnya.

Jika keinginannya besar lalu disandingkan dengan potensi dirinya yang tidak sepadan, mungkin lebih arif berdamai dengan keadaan. Barangkali, masih ingat cerita seseorang yang hendak tampil di panggung pertunjukan. Alis tebal, dipasang. Kumis palsu, ditempatkan di atas bibir, melintang dan berwajah garang. Kostum, dikenakan, menambah gagah penampilan.

Begitu naik ke atas pentas, di panggung itu ia lupa berperan sebagai apa dan tidak ingat harus bagaimana berakting. Padahal, gamelan sudah ditabuh dan lampu sorot telah dinyalakan. Hanya 2 menit ia berada di pentas dan plonga-plongo saja, bingung mau berbuat apa dan sejurus kemudian turun dari panggung.

Baru setelah berada di ruang ganti, ia sadar, ada yang telah diabaikan, soal teks dan skenario. Soal belajar bagaimana caranya ingat dan tidak melupakan, sesuai dengan teori konsep diri dalam disiplin psikologi. Ia hanya bermodal merasa bisa dan alpa pada tempa dan proses diri.

Ia lupa bahwa orang-orang tidak melihat perasaannya sebagai yang bisa. Orang-orang tidak memandang walaupun merasa besi dan seperti semen, kokoh tak tertandingi, bukan itu.

Orang-orang akan memandang, ia bisa apa, apa kompetensinya. Jika tidak memiliki kapasitas, seharusnya sadar diri sebagai yang tidak bisa menyinari, seperti puisi Rendra di awal narasi ini, karena kesadaran adalah matahari.

Sebagai matahari, ia tidak pernah ngantuk, apalagi plonga-plongo seperti seseorang yang lupa pada perannya sendiri di atas pentas yang sesungguhnya bukan panggungnya.

Sekali lagi selalu ingat untuk bercermin agar tidak lupa seperti Jacky Chen dalam Who am I dan Man Ana dalam lagu Nisa Sabyan. Ini semesta dimana abracadabra bukan pusaka dan melawan amnesia pada pustaka kehidupan yang menjadi sesuatu yang harus ada, conditio sine qua non. (*)

Editor : Hendriyanto
#generasi z #valen #madura