Oleh Matroni Musèrang, Dosen Universitas PGRI Sumenep
KUMPULAN puisi Delirium karya Faidi Rizal Alief memperlihatkan sebuah sikap estetik dan etik yang tegas, penolakan terhadap ahistorisitas, bahkan ketika puisinya kerap bergerak di wilayah getir, luka, dan kehampaan yang dekat dengan nada nihilistik.
Sejak ”Salam Penulis, Faidi secara jujur mengakui posisinya bukan sebagai sejarawan, melainkan penyair yang ”menimba sumur masa lalu dengan kebebasan personal, namun masih segar untuk dibaca sejarah imajinatif.
Namun justru dari kebebasan itulah lahir sebuah tanggung jawab bahwa menghadirkan kembali sejarahbaik yang tertulis maupun yang ditinggalkanke dalam ruang puisi sebagai ingatan hidup, bukan arsip beku, ia bergerak menuju relung generasi untuk terus dibaca dan direnungkan sebagai tanggung jawab penulis.
Puisi-puisi dalam Delirium bergerak dari figur-figur sejarah, legenda, hingga tokoh-tokoh lisan yang kerap terpinggirkan oleh narasi besar. N
ama-nama seperti Raden Ayu Siti Khatijah, Arya Bangah, Sangkuriang, Malin Kundang, hingga tokoh-tokoh Madura dan Jawa Timur lainnya hadir bukan sebagai objek romantisasi, melainkan sebagai subjek luka imajinatif. Sejarah di sini tidak tampil agung dan linier, tetapi compang-camping, penuh darah, air mata, dan penyesalan.
Dalam konteks ini, Faidi menolak ahistoris bukan dengan cara mengagungkan masa lalu, melainkan dengan menyingkap sisi gelapnyasebuah sikap yang justru membuat sejarah tetap relevan.
Nada ”nihilis dalam kumpulan ini terutama muncul melalui pengulangan motif luka, kematian, pengkhianatan, dan ketidakadilan yang seolah tidak pernah selesai. Banyak tokoh menyadari bahwa penderitaan mereka tidak mampu ditebus oleh waktu.
Akan tetapi, nihilisme Faidi bukanlah penyangkalan makna, melainkan kesadaran pahit bahwa makna sering lahir dari luka yang diwariskan.
Di sinilah Delirium mengambil posisi unik, puisi-puisi Faidi ini mengakui kehampaan, tetapi menolak melupakan. Ingatan menjadi satu-satunya cara bertahan.
Secara stilistika, Faidi memanfaatkan monolog, dialog dramatik, dan citraan alam yang kuathutan, sungai, laut, darah, kerissebagai perpanjangan emosi sejarah.
Alam tidak sekadar latar, melainkan saksi, bahkan pelaku yang menyimpan memori. Sungai menjadi tempat pengadilan kejujuran, hutan menjadi rahim kesunyian, laut menjadi penjara dan sekaligus pengampunan.
Penggunaan citraan yang berulang ini membangun semesta simbolik yang kohesif, meski di sisi lain berisiko membuat beberapa puisi terasa terlalu padat dan berlapis-lapis secara emosional.
Kekuatan utama Delirium terletak pada keberanian memberi suara pada tokoh-tokoh yang ”kalah dalam sejarah. Para perempuanibu, istri, kekasihmenjadi pusat penderitaan sekaligus pusat ingatan.
Puisi seperti Delirium Dewi Saini atau Ibu, Rindu, dan Anak Luka memperlihatkan bagaimana tubuh ibu dijadikan medan konflik antara cinta, kuasa, dan kutukan sejarah.
Dalam konteks ini, Faidi secara tidak langsung mengkritik sejarah patriarkal yang kerap menyingkirkan pengalaman perempuan, tanpa perlu jatuh pada slogan ideologis.
Namun, kecenderungan repetitif pada tema luka dan ratapan juga menjadi titik lemah kumpulan ini. Beberapa puisi terasa saling menegaskan tanpa memberi jeda kontemplatif yang cukup bagi pembaca.
Di sinilah risiko nihilisme estetis muncul, ketika penderitaan ditumpuk sedemikian rupa hingga nyaris kehilangan daya kejut.
Meski demikian, kelemahan ini masih tertopang oleh konsistensi visi penyair yang jelasbahwa puisi adalah ruang perlawanan terhadap lupa dan dilupakan.
Pada akhirnya, Delirium dapat dibaca sebagai upaya menulis ulang sejarah dari pinggiran, dengan kesadaran bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar selesai.
Faidi Rizal Alief menolak ahistoris bukan dengan klaim kebenaran tunggal, melainkan dengan membuka luka-luka lama agar tetap bernapas dalam bahasa puisi.
Walau dunia yang dihadirkan kerap terasa muram dan nihil, Delirium justru menegaskan satu hal penting bahwa selama ada yang mengingat dan menuliskan, sejarahseberapa pun pahitnyatidak akan sepenuhnya mati. (*)
Editor : Amin Basiri