Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Teknisi Gigi di Persimpangan Digital: Ancaman atau Peluang Baru?

Hera Marylia Damayanti • Senin, 1 Desember 2025 | 16:28 WIB
Photo
Photo

PERKEMBANGAN alat digital dalam dunia kesehatan gigi kini bergerak pesat. Banyak klinik dan laboratorium mulai menggunakan scanner intraoral, desain gigi berbasis komputer, hingga mesin cetak 3D.

Teknologi ini membuat proses pembuatan gigi tiruan lebih cepat dan lebih akurat. Tren ini terlihat dari meningkatnya penggunaan CAD/CAM dan 3D printing dalam praktik prostodonti beberapa tahun terakhir.

Namun, di balik kemajuan ini, ada satu profesi yang ikut terdampak dan harus beradaptasi, yaitu teknisi gigi. Sebelumnya, teknisi gigi dikenal dengan kemampuannya membuat cetakan manual menggunakan bahan alginate atau silikon. Hasilnya kemudian dibentuk menjadi gigi tiruan dengan proses artistik yang membutuhkan keahlian tangan.

Kini, sebagian tahapan tersebut dapat dilakukan oleh mesin. Sehingga muncul pertanyaan: apakah teknisi gigi masih tetap relevan?

Salah satu tantangan terbesar adalah kesenjangan keterampilan. Banyak teknisi, terutama yang sudah lama bekerja, belum terbiasa menggunakan software desain digital atau mesin CAD/CAM.

Pelatihan khusus sangat dibutuhkan, sementara tidak semua laboratorium memiliki akses atau biaya untuk peralatan baru. Akibatnya, kemampuan teknisi bisa tertinggal dibandingkan daerah atau laboratorium yang lebih maju secara teknologi.

Selain itu, ada kekhawatiran bahwa teknologi akan mengambil alih pekerjaan teknisi. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Mesin memang bisa mempercepat pembuatan mahkota atau gigi tiruan, tetapi sentuhan manusia tetap tidak tergantikan.

Pemilihan warna gigi, penyesuaian bentuk agar terlihat alami. Sehingga, proses finishing masih membutuhkan kepekaan dan pengalaman dari teknisi gigi.

Di sisi lain, perkembangan digital sebenarnya membawa peluang besar. Teknisi bisa naik level menjadi teknisi digital. Yaitu, mereka yang mampu mengoperasikan scanner, mendesain restorasi gigi menggunakan software, dan memproduksi hasil melalui 3D printing.

Permintaan untuk tenaga semacam ini semakin tinggi. Terutama di kota besar dan fasilitas kesehatan modern.

Peluang kerja sama juga lebih luas. Sebab, file digital bisa dikirimkan secara cepat ke pihak mana pun yang terlibat proses pembuatan gigi tiruan.

Perubahan ini bukan hanya tentang mengganti alat lama dengan yang baru. Tapi, juga tentang kemampuan teknisi untuk terus belajar. Profesi teknisi gigi tidak akan menghilang, justru berpotensi semakin penting. Syaratnya, sanggup menggabungkan keterampilan manual dan digital sekaligus.

Pada akhirnya, digitalisasi adalah tantangan sekaligus kesempatan. Dengan adaptasi, pelatihan, dan niat untuk berkembang, teknisi gigi tetap bisa mengambil peran utama dalam memastikan kualitas layanan kesehatan gigi di era modern. (*)

GADIZA CHADIJATY MAHFUDZ

Mahasiswi Fakultas Vokasi, D4 Teknologi Kesehatan Gigi Unair Surabaya

Editor : Hera Marylia Damayanti
#digitalisasi #mendesain restorasi gigi #mesin CAD #digital #scanner intraoral #teknisi gigi #proses pembuatan gigi #adaptasi #praktik prostodonti #dunia kesehatan #peluang