KETIKA pemerintah mulai mendorong pembelajaran coding di sekolah dasar, banyak pihak yang mempertanyakan: apakah anak-anak benar-benar mampu mempelajari hal yang dianggap rumit ini? Keraguan tersebut sempat saya rasakan juga sebagai seorang guru.
Namun, pengalaman di kelas membuktikan bahwa coding justru dapat menjadi salah satu sarana belajar yang paling menyenangkan dan penuh manfaat bagi siswa sekolah dasar.
Di kelas yang saya ampu, pembelajaran coding dimulai dengan metode sederhana.
Anak-anak tidak langsung berhadapan dengan komputer, melainkan melalui aktivitas coding unplugged.
Dengan permainan peran sebagai ”programmer dan ”robot, mereka berlatih memberikan instruksi sederhana, seperti maju tiga langkah, belok kanan, atau ambil benda tertentu.
Dari permainan ini, konsep algoritma diperkenalkan secara alami tanpa tekanan, dan anak-anak menikmatinya dengan penuh antusias.
Ketika mereka mulai terbiasa, barulah diperkenalkan aplikasi sederhana seperti Scratch Junior.
Melalui platform ini, siswa dapat menciptakan animasi, cerita, hingga permainan interaktif. Menariknya, ide-ide yang muncul kerap bersumber dari keseharian mereka.
Ada yang membuat karakter hewan di sawah, ada pula yang menciptakan permainan tentang panen tembakau.
Hal ini menunjukkan bahwa coding tidak hanya sekadar keterampilan teknologi, tetapi juga medium ekspresi kreativitas sekaligus cara menjaga kearifan lokal.
Lebih dari sekadar menulis kode, coding melatih anak-anak untuk berpikir kritis, kreatif, dan sistematis.
Mereka belajar menghadapi kegagalan dengan sikap pantang menyerah, jika program tidak berjalan, mereka mencari cara lain hingga berhasil.
Nilai inilah yang sebenarnya sangat dibutuhkan dalam kehidupan nyata: keberanian mencoba, kemampuan memecahkan masalah, serta keterampilan bekerja sama.
Tentu, tantangan tetap ada. Keterbatasan perangkat dan jaringan internet sering kali menjadi hambatan dalam pembelajaran.
Namun, dengan kreativitas dan strategi pembelajaran yang tepat, kendala ini bisa diatasi.
Bahkan dengan perangkat terbatas, semangat belajar siswa tetap tumbuh, karena pada dasarnya coding tidak selalu bergantung pada teknologi canggih, tetapi pada pola pikir logis yang bisa dilatih dengan berbagai metode.
Melihat perkembangan ini, saya yakin coding sangat relevan untuk anak-anak, baik di kota besar maupun di pedesaan.
Lebih dari itu, pembelajaran coding sejak dini akan membekali mereka dengan keterampilan abad ke-21 yang sangat dibutuhkan di masa depan.
Mereka bukan hanya pengguna teknologi, melainkan calon pencipta teknologi yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kini, setiap kali saya menyaksikan siswa antusias menyusun kode sederhana, saya merasa optimis.
Dari kelas kecil di sekolah dasar, lahir generasi baru yang suatu hari kelak mampu berkontribusi di tengah arus digital global.
Dengan dukungan bersama, dari guru, sekolah, orang tua, hingga masyarakat, coding dapat menjadi jendela bagi anak-anak kita untuk melihat dan merancang masa depan dengan lebih cerah.
Seperti yang pernah disampaikan Steve Jobs, pendiri Apple:
”Everybody should learn how to program a computer, because it teaches you how to think. (Kita semua sebaiknya belajar pemrograman, karena hal itu mengajarkan kita bagaimana cara berpikir.)
Kutipan ini semakin menguatkan keyakinan bahwa mengajarkan coding sejak sekolah dasar bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan mendesak demi menyiapkan generasi yang adaptif, kreatif, dan visioner. (*)
Oleh Elviera Febriani, S.Pd. (Guru SD Negeri Plakpak 4 Kabupaten Pamekasan)
Editor : Amin Basiri