Oleh HANDREA DEA
DI sebuah pagi yang cerah di Madura, derap langkah kecil anak-anak terdengar berlari menuju sekolah.
Sebagian membawa senyum lebar, sebagian lagi berjalan pelan dengan kepala tertunduk.
Dari wajah-wajah itu, kita bisa melihat bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga rumah kedua yang memberi pengaruh besar terhadap kebahagiaan dan rasa aman mereka.
Ketika seorang murid merasa dihargai, didengarkan, dan aman, maka semangat belajarnya akan tumbuh secara alami.
Inilah esensi dari school well-being, sekolah menjadi tempat yang menumbuhkan bukan hanya pengetahuan, tetapi juga kesehatan mental dan sosial seluruh warganya.
Sayangnya, di balik tawa dan cerita yang terdengar di ruang kelas, sering tersembunyi kisah lain yang jarang terungkap.
Ada anak yang enggan masuk sekolah karena takut diejek, ada pula yang duduk di pojok kelas, menghindari tatapan teman-temannya.
Fenomena ini kerap kita kenal sebagai bullying atau perundungan—tindakan yang mungkin bagi sebagian orang dianggap ”sekadar bercanda” atau “proses pendewasaan”, tetapi sejatinya dapat meninggalkan luka mendalam.
Bullying bukan hanya menyakiti fisik, tetapi juga mengikis rasa percaya diri, memadamkan semangat belajar, bahkan memengaruhi masa depan anak.
Sebagai guru dan kreator konten pendidikan Indonesia, saya percaya bahwa pendidikan yang baik tidak berhenti pada kemampuan menghafal pelajaran atau meraih nilai tinggi dalam ujian.
Pendidikan sejatinya adalah proses membentuk manusia seutuhnya, yang berpikir kritis, berempati, dan memiliki karakter kuat.
Di sinilah pentingnya pembelajaran mendalam—pembelajaran yang mendorong murid memahami bukan hanya “apa” yang mereka pelajari, tetapi juga “mengapa” dan “bagaimana” hal itu berguna dalam kehidupan mereka.
Pengalaman saya di kelas menjadi salah satu bukti nyata. Saat mempelajari materi IPAS tentang ”Tumbuhan Berdasarkan Habitatnya”, saya menerapkan pembelajaran berdiferensiasi agar semua murid dapat belajar sesuai gaya dan kemampuannya.
Kami memanfaatkan MPI “Budania” (Multimedia Pembelajaran Interaktif Tumbuhan Berdasarkan Habitatnya) yang saya kembangkan, dalam hal ini murid dapat mengakses video pembelajaran, mengikuti kuis interaktif, dan menjelajahi materi dengan tampilan yang menarik.
Melalui platform ini, murid tidak hanya memahami materi secara visual dan audio, tetapi juga terlibat aktif karena mereka bisa belajar dengan ritme sendiri. Tautan MPI “Budania” ini dapat diakses di: https://budania.my.canva.site/.
Tidak hanya itu, saya juga sedang menulis buku tentang MPI Budania ini sebagai bagian dari tugas akhir S-2.
Buku ini diharapkan menjadi panduan praktis bagi guru-guru untuk mengembangkan pembelajaran yang kreatif, berbasis teknologi, dan kontekstual dengan lingkungan sekitar.
Namun, pembelajaran tidak berhenti di layar. Kami keluar kelas, mengamati langsung berbagai jenis tumbuhan di lingkungan sekitar sekolah.
Murid belajar mengidentifikasi tumbuhan yang hidup di tempat kering, lembap, atau tergenang air.
Aktivitas ini bukan hanya memperkuat pemahaman konsep, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu dan kepedulian terhadap alam.
Lebih dari itu, interaksi di lapangan membuat mereka belajar bekerja sama, saling membantu, dan menghargai pendapat teman. Di sinilah pembelajaran mendalam, school well-being, dan nilai anti-bullying bertemu secara alami.
Sebagai kreator konten pendidikan, saya juga memanfaatkan media sosial, khususnya Instagram @handrea_dea, untuk berbagi praktik baik dan inspirasi pembelajaran.
Media sosial menjadi jembatan untuk menjangkau guru, orang tua, bahkan murid di luar sekolah, sehingga nilai-nilai positif bisa menyebar lebih luas.
Konten yang saya bagikan tidak hanya mempromosikan inovasi seperti Budania, tetapi juga mengampanyekan pentingnya sekolah yang bahagia dan bebas dari perundungan.
Membangun school well-being tidak melulu tentang fasilitas mewah atau teknologi canggih.
Ia lebih tentang membangun rasa saling percaya, kebiasaan saling menghargai, dan suasana aman di sekolah.
Di kelas saya, setiap awal minggu kami memulai dengan ”Lingkar Cerita”, sebuah sesi singkat saat murid bebas berbagi perasaan, pengalaman, atau masalah yang mereka hadapi.
Sering kali dari cerita sederhana, kami menemukan tanda-tanda murid yang sedang merasa tidak nyaman atau menjadi korban ejekan.
Dengan begitu, intervensi bisa dilakukan lebih cepat sebelum masalah membesar.
Mengatasi perundungan memerlukan kesadaran dan aksi nyata dari seluruh pihak—guru, murid, orang tua, bahkan masyarakat sekitar.
Edukasi menjadi langkah pertama: semua harus tahu apa itu bullying, bagaimana dampaknya, dan mengapa tidak boleh ditoleransi.
Selanjutnya, sekolah harus menyediakan saluran aman untuk melapor, entah melalui guru BK, kotak curhat, atau pertemuan rutin yang memberi ruang bagi murid untuk bicara tanpa takut dibalas.
Penting juga bagi sekolah untuk menindak pelaku dengan bijak—bukan sekadar menghukum, tetapi juga membina agar mereka memahami kesalahan dan berubah.
Ketika pembelajaran mendalam berjalan seiring dengan budaya school well-being dan komitmen anti-perundungan, sekolah akan menjadi tempat yang benar-benar menumbuhkan.
Murid akan merasa aman untuk mencoba hal baru, nyaman untuk gagal, dan bersemangat untuk bangkit lagi.
Mereka akan tumbuh menjadi generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga tangguh, santun, dan peduli terhadap sesama.
Pendidikan seperti inilah yang kita harapkan tumbuh di Madura dan di seluruh Indonesia—pendidikan yang tidak hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk manusia yang siap menghadapi tantangan zaman dengan hati yang kuat dan pikiran yang terbuka.
Karena sejatinya, sekolah bukan sekadar gedung tempat belajar, tetapi taman tempat setiap anak berhak tumbuh tanpa takut dipatahkan, dan setiap mimpi punya kesempatan untuk mekar. (*)
Editor : Amin Basiri