Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Jalan Panjang Pengabdian MH Said Abdullah

Hendriyanto • Selasa, 23 September 2025 | 14:36 WIB

SETIA: MH Said Abdullah putra Madura yang malang melintang di perpolitikan Nasional.
SETIA: MH Said Abdullah putra Madura yang malang melintang di perpolitikan Nasional.

Oleh Dafir Falah

PERJALANAN hidup MH Said Abdullah bukanlah kisah yang hadir tiba-tiba dan instan. Sejak muda, dia telah terbiasa dengan kerja keras, kegigihan, dan kesadaran bahwa jalan pengabdian tidak selalu mulus.

Dari akar Madura yang kental, Said Abdullah tumbuh dengan semangat yang membuatnya terus melangkah hingga panggung politik nasional.

Meski kariernya berkilau di Senayan, dia tak pernah melupakan tanah kelahirannya. Madura selalu ada dalam pikirannya, selalu hadir dalam langkah-langkah kebijakan maupun aksi nyata yang dia ambil.

”Dari Madura untuk Indonesia”. Bukan sekadar semboyan, melainkan napas perjuangan yang dia jalani.

Kontribusinya terlihat jelas. Said Abdullah kerap hadir bukan hanya dengan gagasan, melainkan juga dengan kepedulian nyata terhadap masyarakat kecil. Tak jarang, dia turun langsung berbagi dengan warga yang hidup dalam keterbatasan.

Bagi Said Abdullah, berbagi bukan sekadar bentuk belas kasihan, melainkan kewajiban sosial untuk memastikan rakyat tidak berjalan sendirian.

Dalam catatan panjang kiprahnya, tiga bidang paling tampak dari perjuangan Said Abdullah. Yakni di bidang pembangunan, pendidikan, dan kesehatan.

Di bidang pembangunan, dia mendorong percepatan infrastruktur untuk membuka akses dan peluang ekonomi, termasuk akses perumahan.

Sementara dalam bidang pendidikan, dia memahami betul bahwa kemajuan bangsa berawal dari kualitas sumber daya manusia (SDM). Sebagai bukti nyata, berbagai bantuan dia gulirkan untuk anak-anak muda agar tetap bisa sekolah dan kuliah.

Dia sendiri mendirikan sekolah bertaraf internasional di bawah naungan Yayasan Fathimah binti Said Gauzan. Luar biasa!
Tak hanya itu, kepedulian Said Abdullah dalam dunia pendidikan benar-benar tak diragukan. Akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat Sumenep dibuka seluas-luasnya.

Bahkan, yayasan tersebut menyediakan kendaraan antar jemput pulang-pergi bagi peserta didik. Tujuannya, memastikan generasi masa depan dapat belajar aman dan nyaman.

Sementara di sektor kesehatan, kepedulian Said Abdullah dibuktikan dengan dukungan penuh terhadap layanan kesehatan dasar hingga perhatian kepada masyarakat miskin. Semata-mata agar tetap mendapatkan jaminan yang bermutu.

Tindakan nyata Said Abdullah bukan sekadar retorika. Dia berjuang untuk warga Sumenep agar mendapatkan akses kesehatan inklusif dengan mendirikan rumah sakit tipe C.

Alhasil, perjuangan MH Said Abdullah kini menunjukkan bahwa politik bukan hanya soal perebutan kekuasaan, melainkan juga tentang komitmen, keberanian, dan ketulusan dalam memperjuangkan nasib rakyat.

Dari Madura, Said Abdullah melangkah ke pentas nasional, namun hatinya tetap tertambat pada akar perjuangan membela mereka yang lemah.

Sebab, sejak muda, Said Abdullah sudah ditempa oleh kehidupan yang keras di tanah kelahirannya, Madura. Dari kampung sederhana, dia belajar bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri, melainkan tentang bagaimana bisa memberi arti bagi orang lain.

Langkah-langkah kecilnya di masa muda itu perlahan menuntunnya menuju jalan panjang penuh perjuangan.

Kisah Said Abdullah juga menghadirkan loyalitas dan kesetiaan. Bahkan, sejak muda dia sudah berpartai, setia di garis perjuangan politik bersama Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Dari zaman masih susah dan dikejar-kejar Orde Baru, dia tidak pernah berpaling. Keteguhannya di saat rumah politiknya susah hingga menggenggam kuasa, tidak membuat dia lupa diri.

Waktu terus bergulir, akhirnya Said Abdullah melenggang ke panggung politik nasional. Namun, di balik segala kesibukan dan gelora politik di Senayan, hatinya tak pernah jauh dari Madura.

Pulau Garam itu selalu menjadi rumah yang memanggil, tanah yang menumbuhkan semangat pengabdian.

Dia tidak hanya hadir dengan gagasan besar di meja parlemen, tapi juga dengan sentuhan nyata bagi masyarakat kecil.

Dia tahu betul, hidup tak selalu ramah pada rakyat miskin. Karena itu, dia sering turun langsung, berbagi apa yang dia punya. Baginya, berbagi bukan sekadar amal, melainkan juga ikatan batin dengan mereka yang berjuang dalam keterbatasan.

Meski perjuangan Said Abdullah tak selalu mudah, dia tetap melangkah. Dari Madura dia berangkat, ke Madura pula hatinya selalu pulang.

Lagi-lagi, politik baginya bukan sekadar kursi dan kekuasaan, melainkan jalan panjang untuk memastikan bahwa yang lemah tidak dibiarkan sendirian dan yang miskin tetap punya harapan. (*)

Editor : Hendriyanto
#sekolah #dpr ri #senayan #PDI Perjuanagan #madura #said abdullah