Oleh MOH. SIRI
ISU santer tentang skema perubahan format pendidikan di Indonesia sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan di satuan pendidikan hampir beririsan dengan pergantian menteri pendidikan. Asumsi ini bukan tanpa alasan, setiap ada pergantian menteri pendidikan dapat dipastikan beberapa tahun terakhir ini selalu membuat formulasi baru tentang kurikulum pendidikan, entah apakah sudah melalui proses evaluasi kurikulum sebelumnya ataukah tidak, sehingga tidak sedikit pengelola pendidikan yang berspekulasi akan munculnya kurikulum baru lagi di tengah penerapan Kurikulum Merdeka yang sampai saat ini belum dilaksanakan dengan aktif dan efektif di pelbagai satuan pendidikan di Indonesia. Bahkan, ironisnya, ada sebagian masyarakat yang memiliki asumsi liar dengan menganggap pendekatan deep learning dalam pendidikan sebagaimana yang dicanangkan oleh menteri pendidikan saat ini hanyalah untuk mencari sensasi belaka, bukan merupakan solusi cerdas dalam membuat formulasi pendidikan yang berkualitas untuk bangsa ini.
Berbagai asumsi dan spekulasi saat ini memunculkan miskonsepsi terhadap keberadaan deep learning ini. Berbagai pihak beranggapan bahwa deep learning ini sebagai kurikulum baru yang akan menggantikan Kurikulum Merdeka, padahal sudah berulang kali Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan di media bahwa deep learning bukanlah kurikulum baru, melainkan pendekatan pembelajaran yang tujuannya untuk memperdalam tentang pemahaman murid terhadap materi yang dipelajari.
Pendekatan deep learning tidak hanya berfokus pada materi akademik, namun lebih kepada pengembangan intelektual, etika, estetika, dan kinestetik yang dilakukan secara terpadu. Jika menelisik dari tujuan adalah menciptakan pembelajaran yang lebih mendalam, kritis, dan bermakna tentunya dengan memperhatikan kebutuhan belajar dan latar belakang murid disesuaikan dengan pembelajaran, mendorong murid berpikir kritis (critical thinking) dan membuat pengalaman belajar yang menyenangkan. Namun demikian, tujuan itu akan berhasil manakala mendapat dukungan dan menciptakan simbiosis mutualisme antara stakeholder pendidikan. Sebenarnya pendekatan deep learning ini secara implisit memiliki kesamaan dengan konsep pendidikan yang dicanangkan oleh Ki Hadjar Dewantara, yaitu pendidikan berpusat pada murid.
Untuk dapat menerapkan pembelajaran dengan efektif, tentu sangat diperlukan strategi yang efektif pula. Sebab, kalau tidak, maka pendekatan ini hanya an sich saja dan tidak salah jika kemudian asumsi tentang untuk mencari sensasi semata benar adanya. Salah satu strategi yang mungkin bisa dilakukan dengan cara menyosialisasikan konsep deep learning dengan pembelajaran mendalam kepada semua guru, murid, dan wali murid. Tidak kalah pentingnya juga mengintegrasikan teknologi digital sebagai upaya memperkaya pengalaman belajar. Namun demikian, bagian terpenting dalam pendekatan ini, pemerintah, dalam hal ini Kemendikdasmen, harus melakukan monitoring dan evaluasi berkala untuk dapat memastikan efektivitas dan efisiensi penerapan deep learning di sekolah.
Salah satu penerapan pendekatan deep learning yang efektif dan berdampak pada kehidupan nyata, misalnya seorang guru menugaskan muridnya untuk membuat proyek seperti menciptakan suatu karya, kemudian murid juga diminta untuk menghitung besaran biaya, bahan, dan alat yang diperlukan. Kegiatan proyek seperti ini, murid tidak hanya belajar teoretis, namun akan mendapatkan pengalaman langsung tentang ilmu yang mereka pelajari, yang kemudian bisa dimanfaatkan dalam dunia nyata. Kilas balik dari penerapan deep learning ini bagi pendidik dan murid seperti memberi harapan akan terciptanya lingkungan belajar yang lebih menarik. Sebagai pendidik tentu kita berharap akan terus memberikan layanan pendidikan yang terbaik untuk murid sehingga secara sukarela harus terus mengikuti perkembangan dan transformasi pendidikan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Pendekatan deep learning ini dapat menjadi layanan pendidikan yang komprehensif dalam pembelajaran jika diterapkan dengan baik. Bisa jadi, hal ini merupakan terobosan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Deep learning dapat menjadi komponen penting yang melengkapi kurikulum dengan fokus pada pemahaman mendalam, keterlibatan aktif serta penerapan pengetahuan yang lebih relevan dengan kehidupan nyata.
Selain itu, pemerintah seharusnya mengawasi dan melakukan evaluasi terhadap pendekatan deep learning ini serta memastikan berjalan dengan baik di semua lini pendidikan di Indonesia. Pemerintah sebaiknya menyiapkan formulasi peningkatan kompetensi sumber daya, baik pendidik, murid, dan wali murid sehingga deep learning ini dapat maksimal dilakukan dan menjadi solusi cerdas dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Namun sebaliknya, apabila dalam penerapannya ternyata masih sama dengan sebelumnya, maka nyatalah sudah bahwa pendekatan deep learning ini hanyalah wujud yang sama dengan nama yang berbeda serta hanyalah untuk mencari sensasi semata. (*)
*)Guru SDN Bangkes 1
Editor : Hera Marylia Damayanti