Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Tajwid Kehidupan

Fatmasari Margaretta • Sabtu, 29 Maret 2025 | 05:00 WIB
Penulis Buku Daya Tipu Tampilan Luar Abd. Munib
Penulis Buku Daya Tipu Tampilan Luar Abd. Munib

Oleh: Abd. Munib*

SAAT belajar membaca Al-Qur’an, guru-guru kita memperkenalkan ilmu tajwid. Sebuah rumpun ilmu yang mengajarkan cara membaca ayat suci dengan tartil, indah, dan benar. Dalam bidang fan tersebut, terdapat hukum dasar yang menjadi pedoman. Pedoman itu meliputi idhar (jelas), ikhfa (menyembunyikan atau menyamarkan), iqlab (mengganti, mengubah, atau membalikkan), dan idgham (meleburkan atau memasukkan). Kelima hukum tersebut bukan sekadar aturan linguistik, melainkan juga sebuah filosofi kehidupan.

Dalam keseharian, kita kerap dihadapkan pada situasi yang menuntut pemilihan sikap yang tepat. Kadang kita harus berbicara dengan lugas, di lain waktu perlu menyamarkan maksud. Ada saatnya kita mesti mengubah keadaan, melebur dengan lingkungan atau bahkan menghapus sesuatu yang tak lagi relevan. Inilah tajwid kehidupan, sebuah keterampilan memilah dan menempatkan diri dalam laju takdir agar hidup terasa lebih selaras dan bermakna.

 

Idhar dan Ikhfa

Idhar dalam tajwid berarti mengucapkan huruf dengan jelas tanpa dengung, tanpa ragu, dan tanpa sembunyi-sembunyi. Begitu juga dalam saban hari kehidupan yang kerap menuntut kita untuk bersikap idhar, jujur dalam berkata-kata, transparan dalam berperilaku, serta tegak lurus dalam prinsip.

Kejujuran di sini bukan hanya perkara berkata benar, melainkan juga tentang kejelasan dalam niat dan tindakan. Sebab, kata yang diucapkan tanpa kepastian hanya akan menimbulkan kebingungan dan keputusan yang diambil dengan keraguan hanya akan berujung pada ketidakpastian.

Idhar mengajarkan bahwa kejelasan menjadi pondasi dalam membangun kepercayaan dan integritas. Di era gadget yang penuh kabar simpang siur, manusia butuh lebih banyak idhar. Kita butuh pemimpin yang idhar dalam ucapan dan perbuatan. Kata janji-janji kampanye yang idhar tanpa teka-teki yang melelahkan. Kita butuh komunikasi politik idhar yang jernih dalam menyampaikan maksud dan adil dalam bersikap. Walaupun tentu saja tidak semua hal harus diumbar dan tidak semua kebenaran harus diungkap secara gamblang. Ada momen-momen di mana kita perlu menerapkan ikhfa, yaitu menyamarkan sesuatu demi kebaikan yang lebih besar.

Bayangkan, seorang ayah yang menyembunyikan kegelisahan di hadapan anak-anaknya agar mereka tetap merasa aman dan seorang pemimpin yang memilih merahasiakan strategi demi menjaga stabilitas. Ikhfa bukan tentang kepura-puraan, melainkan tentang kebijaksanaan. Di ruang realitas kehidupan sosial, ikhfa bagian dari seni menjaga perasaan orang lain. Tidak setiap kritik perlu disampaikan dengan misuh-misuh, juga tak setiap kelemahan orang lain perlu diungkap. Ada batasan-batasan yang harus dijaga agar kata-kata tidak melukai lebih dari yang seharusnya. Ikhfa menjadi alarm pengingat bahwa ada kekuatan dalam diam, ada kebijaksanaan dalam menyamarkan, dan ada kasih sayang dalam memilih mana yang harus diucapkan dan mana yang cukup disimpan.

 

Iqlab dan Idgham

Iqlab dalam tajwid merupakan hukum yang mengubah bunyi huruf tertentu menjadi bunyi lain agar lebih mudah diucapkan. Prinsip ini mengajarkan bahwa perubahan sering kali diperlukan agar sesuatu menjadi lebih baik. Maka, sebetulnya hidup ini merupakan serangkaian adaptasi. Kita tidak bisa selalu kaku dalam pendirian tanpa mempertimbangkan keadaan. Sebab, pribadi bijak bukan mereka yang tak pernah berubah, tapi mereka yang tahu kapan harus mengubah sikap tanpa kehilangan jati diri. Iqlab juga mengajarkan bahwa perubahan sering kali tidak mudah. Seperti huruf yang harus diubah bunyinya, manusia pun sering kali harus menghadapi kesulitan dalam menyesuaikan diri.

Namun, percayalah bahwa perubahan yang dilakukan dengan niat baik dan cara yang tepat akan membawa kita ke kehidupan yang lebih berirama. Adapun idgham adalah hukum tajwid yang mengajarkan kita untuk meleburkan satu huruf ke dalam huruf lain sehingga membentuk bunyi yang lebih lembut dan menyatu. Dalam kehidupan, idgham bagai simbol yang mentransmisi toleransi, kebersamaan, dan sikap menerima. Apalagi, dunia ini bukan hanya tentang kau dan aku, melainkan juga tentang dia, mereka, dan kita. Dengan demikian, melebur bukan harus kehilangan identitas, melainkan memahami bahwa dalam kebersamaan ada kerukunan.

Pemimpin yang meleburkan ego demi kepentingan rakyatnya, anggota legislatif yang meleburkan hasrat partai demi konstituennya, dan penegak hukum yang meleburkan putusan pesanan demi keadilan akan membawa bangsa ini pada keteduhan. Puncaknya, jadilah kehidupan ini menjelma bacaan panjang yang harus dilafalkan dengan tartil. Setiap keputusan adalah harakat yang menentukan nada perjalanan. Setiap langkah adalah tanda baca yang memberi jeda dan makna. Singkatnya, bila ilmu tajwid menuntun kita agar ayat-ayat Tuhan terdengar merdu, maka tajwid kehidupan menuntun kita agar hidup ini berjalan lebih teratur. (*)

 

*) penulis Buku Daya Tipu Tampilan Luar

 

Editor : Fatmasari Margaretta
#tajwid #Teka Teki #Kehidupan #pedoman #keterampilan #kerukunan #takdir