Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Hilangnya Ruh Daul Combo Sampang

Hera Marylia Damayanti • Senin, 24 Maret 2025 | 13:05 WIB
Moh. Iqbal Fathoni, Ikatan Alumni As-syaahidien (Ikbasyi), Desa Gunung Eleh, Kedungdung Sampang
Moh. Iqbal Fathoni, Ikatan Alumni As-syaahidien (Ikbasyi), Desa Gunung Eleh, Kedungdung Sampang

MOH. IQBAL FATHONI

 

BULAN Ramadan di Sampang bukan hanya menjalankan ibadah puasa dan menunggu Lebaran untuk bisa memakai baju baru. Bagi kami, ada momen paling ditunggu oleh hampir seluruh masyarakat Sampang. Tepatnya H+7 Lebaran, yaitu event tahunan daul combo dan dug dug.

Riuh musik khas Sampang (daul combo) dan musik daul dug dug sudah bisa dirasakan sejak awal puasa. Para seniman musik sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti event tahunan tersebut.

Jika berbicara sejarah, daul combo adalah kebanggaan bagi masyarakat Sampang yang berawal dari kebiasaan para pemuda membangunkan warga untuk sahur. Lalu, tradisi itu dijadikan ajang tahunan, baik dilombakan maupun bentuk parade.

Pemuda KNPI, salah satu penggerak event daul combo mengatakan bahwa nama combo diambil dari salah satu kelompok musik ternama di Madura, Combo Bersaudara, ketika grup musik tersebut tampil di Pendopo Bupati kala itu. Lalu, nama ur-saur atau ul-daul dipatenkan menjadi daul combo.

Namun, masuknya daul dug dug pada tahun 90-an akhir ke Sampang mengubah wajah musik daul combo. Penggemar daul combo juga berkurang, terutama anak muda yang lebih suka pada daul dug dug. Ada perbedaan yang mencolok antara musik daul combo yang lanyu e kopeng, sopan di telinga, dan daul dug dug yang sangat rancak jenis musiknya.

Saya di sini sebenarnya ingin melihat kembali suasana atau ruh dari daul combo yang sudah hilang. Sekarang daul combo sudah keluar dari pakemnya. Seakan-akan hanya menjadi ajang adu gengsi bukan lagi adu variasi musik dan lagu.

Bisa kita lihat juga, hampir tidak ada perbedaan antara daul combo dan daul dug dug pada sisi dekorasi. Daul combo daul latah yang mengikuti dekorasi naga bersusun ala dug dug atau kuda dan hewan di kebun binatang lainnya dengan hiasan lampu kelap-kelip. Padahal, dengan memakai dekorasi seperti itu, ada banyak kerugian, terutama dari unsur suara atau sound-nya.

Kita tahu bahwa suara dari daul combo sangat berbeda dengan daul dug dug. Sehingga, ketika memakai dekorasi seperti itu, suaranya tereduksi atau makin melempem karena ruang bunyi terserap oleh dekorasi yang memakai bahan styrofoam. Hal itu sangat dirasakan oleh pencinta daul combo. Dari kejauhan hanya terlihat dekorasi bisu yang bergoyang dan lampu kelap-kelip. Baru pada jarak lima meter ke arah penonton musik daul combo terdengar.

Tentu beda dengan dekorasi asli dari daul combo zaman dulu yang memberikan ruang suara alat musik combo sehingga lebih terdengar. Saya yakin, para seniman zaman dahulu sudah memperkirakan hal tersebut sehingga dekorasinya memakai hiasan sederhana, tetapi menyesuaikan harmonisasi bunyi, mengedepankan kreativitas mengulik lagu, dan lain-lain. Atau jangan-jangan kita sebagai penerus, tidak paham sejarah sesungguhnya sehingga dengan mudah mengubah esensi dari daul combo.

Baca Juga: Babad Songennep dan Geostrategi Pesisir

Beberapa tahun ini, panitia festival atau parade sudah membagi dua malam, yaitu di hari pertama daul combo dan di hari kedua daul dug dug. Tetapi, mata kita dihidangkan oleh keseragaman dekorasi yang cenderung membuat bosan. Apalagi, pencinta musik sering membandingkan dan lebih menunggu di hari kedua.

Kenapa bisa begitu? Jawabannya adalah, seniman dan pemilik grup daul dug-dug sudah merenggut nyawa dari daul combo. Daul combo ada pencintanya sendiri, terutama pencinta musik dangdut. Seandainya musik daul combo mengembalikan nyawa dari musik combo, mungkin beda cerita.

Kita tahu, zaman dahulu, salah satu kampung atau grup rela mendatangkan musisi dari Pamekasan atau bahkan Surabaya terutama tukang suling karena yang mereka dahulukan adalah bunyi. Tapi, hari ini, grup atau musik daul combo sibuk mendatangkan sasis dan dekorasi dari luar kota, terutama Pamekasan dan Sumenep. Padahal, dekorasi seperti itu tidak pas untuk jenis musik daul combo.

Kerugian selanjutnya adalah dari segi biaya. Dahulu tentu lebih murah karena awalnya hanya ingin membangunkan orang sahur yang akhirnya dibuat parade atau festival. Namun, saat ini biaya yang dikeluarkan sangat mahal karena kembali ke ajang adu gengsi.

Ada hal lain yang ingin saya sampaikan terkait gaya musik yang dimainkan. Daul combo tidak mau keluar dari zona nyaman, yaitu memainkan musik persis dengan musik dangdut orisinal. Mohon dikoreksi dan mohon maaf jika saya salah.

Kenapa seniman daul combo tidak memasukkan lagu-lagu Madura (asli bukan plagiat) atau lagu-lagu pop dan yang lainnya dengan aransemen yang unik? Bukankah bisa saja memasukkan alat musik (bukan elektronik) di luar pakemnya? Kita bisa melihat bagaimana perubahan-perubahan dilakukan pada musik daul dug dug. Misalnya, adanya terompet yang menambah semarak, variasi rebana dan jimbe serta variasi alat musik lain sehingga banyak pilihan warna dari daul dug dug.

Event tahunan sudah di depan mata. Kita ingin melihat musik daul combo pada bentuk aslinya. Saya juga sudah beberapa kali komentar di akun medsos agar ruh dari daul combo dikembalikan. Daul combo yang gen musiknya dari dangdut pasti menghasilkan suara yang relatif lembut. Karena itu, dekorasinya, seharusnya seperti yang dulu, sehingga kualitas suara tidak tereduksi. Satu lagi, semoga musik daul combo bisa lebih variatif instrumennya. (*)

*)Anggota Ikatan Alumni As-syaahidien (Ikbasyi), Desa Gunung Eleh, Kedungdung Sampang

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#daul dug dug #SUARA #daul combo #perbedaan #musik #dekorasi #Berbeda #Ruh #event tahunan #Pencinta