Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Taraju Harmoni Alam Lestari

Ina Herdiyana • Minggu, 29 Desember 2024 | 13:00 WIB
CINTA SENI: Soca Bening Pengilon berpose dengan lukisan berjudul Redemption di lokasi Pameran Sumenep Pentahelix 2024 di Pendopo Agung Keraton Sumenep. (SOCA BENING PENGILON UNTUK JPRM)
CINTA SENI: Soca Bening Pengilon berpose dengan lukisan berjudul Redemption di lokasi Pameran Sumenep Pentahelix 2024 di Pendopo Agung Keraton Sumenep. (SOCA BENING PENGILON UNTUK JPRM)

 

Oleh SOCA BENING PENGILON*

 

DESTINASI wisata pantai di dunia, jika membaca algoritma Google, salah satu kata kuncinya inovasi melalui seni. Kesenian menjadi aspek vital dalam pengembangan destinasi wisata. Kebutuhan terbentuknya ekosistem ini menjadi syarat yang tidak bisa ditawar. Seni, kuliner, dan rumah inap seperti bangunan dasar yang wajib dipersiapkan oleh pelaku wisata. Berbeda halnya dengan wisata kuburan, syarat itu bisa jadi mungkin gugur.

Festival Pesisir 3 yang mengambil tema Taraju Harmoni Alam Lestari yang digagas HCML menggandeng Dewan Kesenian Sumenep (DKS) dapat dilihat sebagai upaya terbentuknya ekosistem tersebut. DKS sebagai lembaga yang mengurusi kesenian, seyogianya mampu memaksimalkan peran-perannya dalam mengedukasi warga sasaran.

Produksi yang berhubungan dengan kreativitas sebagai aset penopang wisata bisa digerakkan melalui pelatihan, pamer karya, untuk membentuk arena pasar yang membantu warga lokal di sana. Begitu juga dengan pelatihan lain, sebagai sub sektor penopang, apakah itu kuliner, jajanan lokal dan merchandise. Saya pernah mengangkat isu macam ini dalam usulan penelitian wisata kasur pasir di daerah Legung.

Jadi, tetangga saya yang belasan tahun menggeluti kerajinan gelang, ikut mendongkrak putaran ekonomi pasar kreatif di Jogja dan Bali. Dalam pengakuannya, mereka memanfaatkan warga-warga lokal di Gili Iyang yang tidak berangkat mengadu nasib ke kota-kota besar berjualan toko kelontong. Apa pun industri kreatif itu, dapat dilakukan riset terlebih dahulu bagaimana mengolah kreativitas warga lokal itu sehingga karya-karya mereka berdampak bagi dirinya, serta dirasakan oleh masyarakat.

Secara tematik, kalau kita perhatikan apa yang diinisiasi HCML dan DKS dalam kegiatan Festival Pesisir 3 lebih pada usaha untuk mengingatkan hubungan ekologi manusia. Hubungan timbal balik alam dan manusia, seperti meningkatnya kecenderungan healing forest belakangan ini. Isu-isu keberpihakan kepada manusia dan lingkungannya diangkat dalam gelaran karya kolaboratif seperti yang tertuang dalam instalasi patung dan dramatisasi puisi.

Karya Ibuku Laut yang terwujud karya patung kawat berbentuk perempuan setinggi dua meteran yang ditanam di laut dengan kostum jaring dipenuhi sampah plastik ingin menerangkan bahwa laut tidak lagi aman karena tangan-tangan kotor manusia. Manusia membuang plastik ke laut, pastinya ikut menghancurkan ekosistem kelautan dan terganggunya ekosistem biotanya.

Pada saat puluhan aktor laki dan perempuan menggunakan payung, melakukan gerak-gerak kecil yang seragam, dan mengucapkan dialog Guwar Mak Guwar yang direpetisi, penonton yang berderet memenuhi pasir pantai, termasuk saya berpikir yang mereka lakukan adalah mengadaptasi suatu ritualitas yang umum dilakukan oleh masyarakat pesisir. Baik ketika rokat tase’ atau meruwat perahu. Pertunjukan semakin mistis manakala lelaki dengan mulutnya yang berkecamuk, datang dari arah berlawanan menaburkan bunga-bunga merah kepada penonton dan ombak yang bergemuruh lirih menjilati kaki-kaki penari.

Sayang sekali, ketika di panggung yang panjang para lelaki mendadak meniupkan terompet, suara sound berpindah-pindah, kuping saya mendadak bising. Sementara gambar di layar videotron besar di panggung utama beberapa menit ikut kebingungan. Mana pertunjukan yang hendak diproyeksikan dan yang dibiarkan ditonton telanjang? Saat itu saya justru melihat di tiga layar sekaligus, satu layar mata saya, proyeksi videotron, dan kamera HP untuk mengabadikan peristiwa itu. Pandangan saya akhirnya bertumpu pada lukisan-lukisan yang digantung di batang-batang kayu yang bergerak indah diterpa angin, tapi luput dari pengamatan penonton.

Setelah dramatikalisasi puisi, saya tidak menemukan lagi peristiwa tontonan yang memiliki makna kuat. Perahu yang digotong para lelaki mengelilingi instalasi perempuan besi, seolah menjadi pembuka sekaligus yang terakhir. Pertunjukan sesudahnya di panggung utama, adalah pertunjukan musik dan tarian hiburan yang memainkan properti, berdandan cantik dengan kostum yang indah.

Lain daripada itu, saya yang lahir 2000-an diajak memasuki lagu dengan lirik yang kuat pada Om Encung Hariyadi. Saya berkesempatan dalam satu mobil dengan beliau, ketika ikut menjemput ke Hotel Tema. Sepanjang jalan banyak ceritanya yang tidak saya mengerti, tetapi dia berpesan khusus kepada saya bahwa dalam proses apa pun, seseorang haruslah jujur kepada dirinya. Lagu-lagu Om Encung yang dibawakan di atas panggung, benar-benar menghipnotis, lalu saya ingat lagi pesannya, carilah di YouTube Golden Boy, Untukmu Gadisku. Bahwa perempuan pada klip itu, katanya bernama Cornelia Agatha, bayarannya mahal pada tahun saat video klipnya itu dibuat. Saya benar tidak tahu siapa yang dia sebut, tapi ketika Om Encung bernyanyi dipanggung, Cornelia Agatha saya perhatikan ikut mendampingi di belakangnya.

 

Kritik, Taraju, Bupati Tongtong

Taraju bukanlah cangkokan kata dari suatu wilayah di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang pernah mendapatkan penghargaan Muri karena destinasi wisatanya. Dari keterangan panitia, Taraju yang dijadikan tema utama Festival Pesisir 3 di Lobuk, Bluto, merujuk pada bahasa lokal pesisiran yang maknanya hanya hidup di kepala para nelayan dan keluarganya.

Taraju adalah mantra kata yang mendorong lahirnya daya kebersamaan, kekompakan, dan harmonisasi ketika terjadi perahu karam milik nelayan dan akan ditarik ke darat untuk diselamatkan agar tidak hancur oleh ganasnya ombak. Mereka yang menarik perahu dan mendorong ke atas meneriakkan mantra taraju tara taraju itu berulang-ulang secara bersamaan.

Saya datang ke Pantai Matahari lebih awal saat semua talent yang terlibat tengah menjalani geladi bersih dan para pengisi musik melakukan check sound. Saya datang karena dua hal, ikut lomba reels video DKS dan penasaran dengan nama asing wisata Pantai Matahari.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam lebih, tanda-tanda bahwa acara akan dimulai belum ada. Dari keterangan pembawa acara, bupati dan rombongan yang ditunggu masih berada di Sampang. Penonton banyak yang gelisah, sebagian yang tidak tahan memilih pulang.

Andaikan Festival Pesisir Taraju adalah suguhan yang dihidangkan di atas meja makan, maka suguhan itu keburu basi sebelum tuan rumah mempersilakan untuk dinikmati. Suguhan tidak lagi mengundang selera karena terlalu lama menunggu bupati untuk dimulai.

Masyarakat penonton yang datang dari jauh, dan antusias menikmati tontonan, akhirnya selalu memiliki caranya sendiri memberikan penilaian. Apa yang disuguhkan HCML dan DKS tidak untuk dinikmati mereka, sebab penikmat sesungguhnya adalah bupati dan rombongannya. Jadi belum ada jalinan cerita yang sebaliknya, kalaupun itu ada, pasti bumi dianggap sudah jungkir balik.

Tidak perlulah Anda sakit hanya gara-gara peristiwa itu, apa yang dikoar-koarkan pegiat media sosial Deni Puja Pranata pada akun TikTok-nya; mana...mana..bupati tongtong itu, kini terbukti, dan sudah terjawab. (*)

*) Aktif di literasi dan riset SMAN 1 Sumenep

 

Editor : Ina Herdiyana
#kuliner #harmoni #Taraju #seni #alam #pantai #LESTARI #rumah inap #destinasi wisata