Oleh MOH. AQIL
TULISAN ini berawal dari hasil pegamatan saya beberapa bulan yang lalu, tentang kehidupan santri zaman sekarang, yang tentunya sangat berbeda dengan zaman ketika orang tua kita. Santri sekarang santri disebut milenial.
Arti santri sebagaimana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang mendalami agama Islam, sebagaimana juga yang telah kita ketahui bersama bahwa kehidupan santri sehari-hari santri yang identik dengan kesederhanaan dari segi apa pun, pakaian, dan lain-lain.
Kehidupan santri sebagaimana yang telah kita ketahui dalam kesehariannya dilatih bagaimana menjadi pribadi yang sabar, bisa dilihat ketika mandi misalnya, tentunya tidak akan sama ketika di rumah. Kalau di rumah kita bisa seenaknya mandi, tapi di pesantren tentu beda, sehingga mau mandi saja harus mengantre. Bukan hanya itu, makan pun sama, mencuci pun sama, intinya diajarkan menjadi orang yang sabar.
Beberapa bulan lalu saya mengamati kehidupan santri di zaman sekarang, sebagaimana Nasrullah Nurdin dalam bukunya Generasi Emas Santri Zaman Now (2019). Dia dalam hal 3–4 menyebut, istilah santri milenial atau santri zaman now adalah para santri yang kini berusia antara 20 hingga 40 tahun karena mereka lahir antara awal 1980-an hingga awal 2000-an. Hasil pengamatan saya mengatakan bahwa santri sekarang banyak yang malas. Terbukti ketika ada cucian kotor, hanya segelintir orang yang mencuci sendiri. Kebanyakan dari mereka lebih suka ke tempat laundry, di samping memang simpel, kita tinggal mengantar kemudian menjemput selesai. Juga ketika hendak makan, hanya segelintir santri yang menanak nasi. Kebanyakan dari mereka lebih suka membeli. Sekali lagi, simpel. Sehingga, dari hal tersebut kemudian menjadikan santri sekarang pemalas.
Meniru Kehidupan Santre Kona
Barangkali saya ada tawaran untuk bagaimana meniru kehidupan santri zaman kona, sebagaimana penuturan orang tua atau barangkali kakek nenek kita yang telah lebih awal mengenyam kehidupan pesantren. Tidak dapat diakui atau tidak kita akan senantiasa mendapat cerita-cerita mereka di masa mondok, yang sebenarnya hal ini bisa diambil hikmahnya dan patut ditiru.
Biasanya mereka akan bercerita kalau mau makan tidak seperti sekarang harus mencari kayu dulu kemudian menanak. Tidak seperti sekarang yang sudah kalau mau menanak tinggal pakai kompor manual atau otomatis atau membeli. Mau mandi pun harus menimba ke sumur. Kalau sekarang hanya tinggal mandi, air mengalir sendiri begitu pun cerita-cerita yang lain. Sehingga, menjadikan mereka generasi yang tangguh.
Namun sekarang malah sebaliknya, meskipun pesantren telah menyediakan fasilitasi yang sangat baik, malah santri-santri sekarang yang tidak bisa memanfaatkan dengan baik. Air sudah memadai, tapi hanya segelintir santri yang mencuci. Kayu bakar sudah tergantikan kompor, tapi hanya segintir santri yang memasak. Seharusnya hal ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Sebaiknya uang kiriman digunakan untuk hal-hal positif, seperti menabung dan lain-lain. Sebab, dengan kita mencuci sendiri, uang lebih irit, toh mencuci hanya modal membeli sabun, terkadang saya kalkulasi sendiri misal 5 baju bisa saja seharga sabun cuci 5. Sedangkan 5 sabun cuci bisa dibuat mencuci 10 pakaian bahkan lebih. Juga uang makan bisa dibuat untuk menanak sendiri. Di satu sisi juga bisa membuat uang hemat. Semisal uang makan 3 kali dalam sehari Rp 15 ribu, kalau menanak palingan keluar Rp 5 ribu dalam sehari.
Tidak ada salahnya mengikuti kehidupan santre kona. Sebab menurut saya sangat baik dan penting ditiru. Selamat belajar berubah. (*)
*)Mahasiswa Instika, Prodi PAI
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti