Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Gerbat Meneguhkan Hati

Abdul Basri • Senin, 14 Agustus 2023 | 01:17 WIB

 

Istimewa
Istimewa

Oleh Nailus Shafi Nail*

SEJENAK saya melihat tentang aktivitas santri setiap hari, utamanya di pondok saya, Annuqayah. Kemudian saya berpikir, sebagaimana harus cakap dan mumpuni di bidang intelektual, santri juga harus dominan pada dimensi spiritual.

Hal itu menjadi tolok ukur utama untuk membedakan dengan pelajar pada umumnya. Oleh karena santri bermukim di pesantren, lingkungan yang dihadapi memanglah harus beda dengan sekolah di luar pesantren. Santri dipupuk untuk menguasai dua dimensi sekaligus: intelektual dan spiritual.

Diakui atau tidak, kiat seseorang menjadi sukses adalah dengan menguasai tiga dimensi kecerdasan: intelektual, spiritual, dan emosional. Dimensi kecerdasan intelektual mendominasi tingkat keparipurnaan seseorang.

Bagaimana tidak, kecerdasan akal menjadi kunci utama seseorang untuk menghadapi era yang terus berkembang. Tanpa itu, seseorang bukanlah orang: tidak dianggap dan diperhatikan bahkan akan terombang.

Namun, hanya mengandalkan intelektual, kecil kemungkinan mencapai impian. Kecerdasan ini harus diiringi dengan spiritual, guna menjadi pribadi yang positif, jujur, serta memiliki semangat dan keyakinan di dalam menjalani dinamika kehidupan.

Dua hal ini menjadi seimbang dan paripurna ketika seseorang telah menguasai emosionalnya. Kecerdasan emosional inilah yang menjadi penentu kedewasaan seseorang.

Senada dengan hal di atas adalah tradisi gerakan batin (gerbat) yang berjalan di PP Annuqayah daerah Lubangsa untuk semua santri.

Sejak dulu, gerbat tetap lestari dan menjadi hal penting guna meneguhkan hati.

Seiring dengan otak yang harus diasah dan terus dicermati, hati juga butuh asupan gizi agar tetap senantiasa seimbang di dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Tradisi gerbat—yang berjalan setiap malam usai salat Magrib dan Subuh—ini mensyaratkan adanya pembacaan surah Yasin bersama, yang pahalanya dihaturkan kepada leluhur, masyayikh, guru, orang tua, kerabat dan sebayanya.

Dengan itu, santri akan terdidik untuk mendoakan sesepuhnya dan terbiasa membaca Al-Qur’an sekaligus hafal dengan sendirinya.

Rutinitas yang demikian ini tetap berlaku selain malam Jumat yang diisi dengan pembacaan tahlil bersama.

Selain itu, khusus malam Selasa, simbol yang tetap dipelihara adalah pembacaan salawat Nariyah. Dalam hal ini, tradisi yang tetap berlanjut adalah salawat tersebut dibaca sebanyak 12 atau 21 kali. Dilanjutkan setelah salat Isya dengan lantunan salawat al-Barzanji.

Kenapa harus Selasa? Rasulullah pernah ditanya perihal hari Selasa, beliau lantas menjawab, ”Hari Berdarah”.

Sebab, pada hari itulah Siti Hawa mengalami menstruasi (haid) dan terjadinya pembunuhan antarmanusia (Qabil dan Habil) untuk kali pertama.

Selain itu, pada hari itu pula terjadi beberapa peristiwa sejarah penting.

KH Maimoen Zubair, di dalam dakwahnya, selalu mengungkap keistimewaan Selasa. Kenapa demikian? Karena Allah membuat bumi selama 4 hari.

Dimulai pada hari Ahad, Senin, Selasa, kemudian Rabu. Pada tahap pertama, bumi sudah selesai selama 2 hari, yaitu Ahad dan Senin.

Pada tahap selanjutnya, Allah menciptakan segala ilmu di dunia ini bertepatan dengan hari Selasa (maka orang yang meninggal hari Selasa biasanya adalah orang yang berilmu).

Kemudian, bumi selesai dibuat pada hari Rabu, itu sebabnya orang Jawa memiliki istilah Rabu Wekasan/Bekasan—yang biasanya diisi dengan doa, tahlil atau selamatan.

Nah, gerbat yang berlaku di Lubangsa ini bertujuan untuk melatih hati (riyadlah) agar santri semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Kecerdasan akal harus diiringi dengan ketenangan hati.

Sejenak kita bisa memahami, bahwa visi supranatural menjadi santri adalah mengharap rida Allah dengan membaca Al-Qur’an dan memohon kepada-Nya, serta syafaat Rasulullah dengan bersalawat sebanyak-banyaknya. (*)

 

*)Santri PP Annuqayah Lubangsa dan mahasiswa Instika Guluk-Guluk.

 

Editor : Abdul Basri
#spiritual #sastra #opini #catatan #radar madura